Xian Guolin sudah menggunakan seluruh tabungan dan menggadaikan rumahnya untuk membuka restoran bakmi,Alilan Beef Noodles, di jalan Nanjing, China.
Dia menjual bakmi 'lamian' yang terkenal dengan proses pembuatannya ditarik dengan tangan dan disajikan dengan kuah panas serta irisan daging sapi.
Namun, dalam hitungan jam sejak rumah makan tersebut dibuka, Guolin diprotes oleh penjual bakmi lainnya yang meminta usahanya ditutup.

Kebanyakan restoran bakmi daging sapi di China dimiliki oleh orang Hui, berdasarkan laporan media China.
Seperti halnya pembuat bakmi lamian lainnya, Xian adalah seorang muslim dari suku Hui yang berasal dari Provinsi Gansu di China.
Para pemrotes mengatakan Xian telah melanggar perjanjianShaanxi-Gansu-Ningxia yang telah diterapkan berdekade-dekade lamanya antara orang-orang Hui yang mencegah siapapun untuk membuka restoran bakmi daging sapi yang berjarak 400 meter dengan restoran yang sudah ada.
Dokumen perjanjian tersebut mempromosikan 'keharmonisan dan kestabilan' pasaran bakmi dan siapa saja yang melanggarnya akan menghadapi konsekuensi dan mendapat kerugian keuangan.
Ma Jinglong, penyelenggara protes dan seorang muslim Hui yang memiliki dua restoran bakmi di dekatAlilan Beef Noodles , mengatakan kepada kantor berita The Sixth Tone bahwa perjanjian tersebut 'tidak memiliki dasar hukum' tapi kebanyakan pemilik restoran tetap menerapkannya.
Saat Xian menolak menutup usahanya, restoran tersebut didatangi sekitar 100 orang yang mengancam para karyawan dan menghalangi pembeli untuk datang.
Kelompok pemrotes terus berdiri di depan restoran selama berminggu-minggu walaupun polisi sudah ikut campur. Xian mengatakan dia rugi 4.500 yuan (sekitar Rp8,9 juta) setiap harinya.
"Beberapa orang berdiri di pintu dan mencegah pembeli datang, sedangkan lainnya memaki-maki saya dan pelayan. Mereka mengancam keluarga saya akan dibunuh kecuali kalau saya menutup rumah makan," kata Xian.
Dia ditawari 300.000 yuan (sekitar Rp591,2 juta) untuk menutup usahanya tapi ditolaknya. Xian sudah menginvestasi 1,5 juta yuan (sekitar Rp2,9 miliar).

Para pendukung Xian Guolin.
Xian menggunakan situs lokal, Weibo , untuk mendokumentasikan perkara ini dan tagar #BeefNoodleGate menjadi tren dan menarik perhatian pengguna kalangan atas. Topik ini sudah dikomentari sebanyak 400.000 kali dan legalitas perjanjian tersebut menjadi bahan perbincangan.
Setelah 20 hari, pihak berwenang menyelesaikan perkara ini dan menyuruh Xian menghapus kata 'daging sapi' dari nama restoran serta logo halal sehingga tidak lagi 'berkompetisi' dengan rumah makan muslim lainnya.

Para pengunjung restoran yang mendukung Xian.
Xian menulis dalam Weibo bahwa bisnisnya 'kembali normal' dan berterimakasih pada pendukungnya.
Namun, beberapa orang menyatakan bahwa tindakan ancaman kepada Xian tidak dihukum juga menambahkan bahwa 'geng bakmi' menang.
(nwk/nwk)










































