
Anggota kongres Amerika dari partai demokrat duduk di lantai sebagai wujud protes.
Anggota kongres Amerika dari Partai Demokrat melakukan aksi duduk di lantai dan menolak keluar dari ruang rapat paripurna DPR Amerika untuk mendesak dilakukannya voting terhadap undang-undang kepemilikan senjata.
Hampir 100 wakil rakyat duduk di lantai meminta agar pengecekan latar belakang calon pemilik senjata api dilakukan lebih dalam. Mereka juga mendesak agar senjata dilarang dijual kepada terduga pelaku teror.
- Senat AS tolak rencana pembatasan senjata
- Korban penembakan kelab malam Orlando '50 orang'
- Trump 'akan perketat' hukum senjata api AS
Ketua DPR Amerika, Paul Ryan menyebut itu merupakan "aksi berlebihan untuk menarik perhatian masyarakat".
Sementara itu, sejumlah senator mengaku terpaksa berkompromi, termasuk sepakat dengan lawan politiknya.

Anggota kongres meminta cek latar belakang calon pemilik senjata dilakukan lebih mendalam.
Salah satunya, senator utama Partai Demokrat Harry Reid yang kemudian mengaku mendukung proposal yang diajukan Partai Republik.
Reid menyatakan dia mendukung revisi yang diajukan senator Partai Republik, Susan Collins, yang menegaskan pelarangan penjualan senjata api, hanya kepada sekelompok orang saja, yaitu yang masuk dalam daftar pantau terduga pelaku teror.
RUU tersebut dijadwalkan akan dibahas di senat pada Kamis (23/06) ini.
"Meskipun ini baru langkah kecil, setidaknya ada kemajuan," tutur Reid.
"Tidak adavoting, kami tidak berhenti."Ketua DPR Paul Ryan menyampaikan kepada CNN bahwa ia tidak akan mendukung dalam pemungutan undang-undang kepemilikan senjata, di DPR.

Paul Ryan menyebut aksi tersebut hanya untuk menarik perhatian masyarakat.
"Mereka (anggota DPR dari Partai Demokrat) tahu bahwa kami tidak akan mengesahkan RUU yang akan merampas hak warga negara yang dijamin konstitusi tanpa proses terlebih dahulu," katanya.
Partai Republik, yang menguasai Kongres, dalam rapat pembahasan RUU tersebut, mendesak sidang diistirahatkan, sehingga kamera-kamera yang ada di ruangan tersebut harus dimatikan.
Alhasil, anggota Partai Demokrat pun mengirimkan pesannya secara online. Beberapa mencuitkan foto. Ada pula anggota kongres yang men-streaming video aksi mereka dengan menggunakan aplikasi Periscope.
Aksi tersebut dipimpin oleh John Lewis, yang juga merupakan aktivis pergerakan hak-hak sipil pada tahun 1960an.

Obama mendukung aksi duduk yang dilakukan anggota kongres dari partai Demokrat.
- Berlinang air mata, Obama umumkan pengetatan aturan senjata
- Obama ambil langkah soal masalah senjata AS
- Obama akan mengambil tindakan sepihak terhadap kekerasan senjata
Presiden Barack Obama, lewat akun Twitter-nya mengucapkan terima kasih kepada Lewis "karena memimpin aksi menentang kekerasan menggunakan senjata api, hal yang sangat kita butuhkan saat ini".
Para anggota kongres pun berteriak "tidak ada voting, maka kami tidak berhenti" sambil menyanyikan lagu-lagu protes 1960an.

Mereka mendesak agar voting diambil sebelum masa reses dimulai akhir pekan ini.
"Apa yang telah dilakukan badan ini untuk menanggapi kekerasan yang telah terjadi?" Tanya Lewis.
"Tidak ada. Pilihan kita untuk tidak mendengarkan dan menginginkan perubahan telah membuat darah bercucuran dari rakyat yang tidak berdosa. Kita buta terhadap krisis yang terjadi di depan mata. Di mana usaha kita? Berapa banyak lagi ibu... atau ayah yang harus mencucurkan air mata duka mereka?"
"Kami akan terus melakukan aksi di ruangan ini," tegas Larson sebelum kamera dimatikan.
Para anggota kongres tersebut menginginkan voting segera diambil sebelum reses dimulai akhir pekan ini.
(nvc/nvc)










































