Di tengah-tengah krisis politik yang melanda Brasil, yang sejauh ini bermuara pada upaya pemakzulan Presiden Dilma Rousseff di Senat, para pendukung dan penentangnya aktif turun ke jalan.
Untuk mencegah kedua kubu bertemu secara langsung, pihak keamanan sampai mendirikan pemisah di ibukota Brasilia, seperti dijelaskan Febrizki Bagja Mukti, Sekretaris Pertama Politik KBRI Brasilia.
"Di jalan utamanya ada dibuat pagar dari seng dan besi oleh polisi untuk memisahkan kelompok pendukung dan yang menolak pemakzulan. Sampai istilahnya itu kalau di Jerman dulu ada Tembok Berlin, ini namanya Tembok Pemakzulan," katanya.
- Pendukung Dilma Rousseff turun ke jalanan
- Presiden Brasil kalah dalam mosi pemakzulan di parlemen
- Warga Brasil gelar aksi menuntut mundur Presiden Rousseff
Bagaimanapun Febrizki Bagja Mukti mengamati perbedaan pendapat di kalangan masyarakat tidak sampai terasa dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau komentar di artikel online atau blog internet, di situ lebih terasa masyarakat terpecah, ada yang mendukung dan menolak. Tapi kalau dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya relatif normal, orang tetap bekerja seperti biasa."

Febrizki Bagja Mukti mengamati perbedaan politik di Brasil tidak sampai terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pemakzulan Presiden Rousseff di Brasil ini merupakan salah satu titik dari krisis politik yang sudah berlangsung selama beberapa waktu.
Jika Senat kemudian memutuskan upaya pemakzulan diteruskan, maka Presiden Presiden Dilma Rousseff akan diberhentikan sementara selama 180 hari atau selama masa persidangan penuh.
Dan tampaknya hasil di Senat tidak akan langsung bisa menstabilkan politik Brazil.
"Karena kalau, misalnya, Presiden Dilma Rousseff dimakzulkan maka akan dinonaktifkan untuk sementara dan Wakil Presiden Michel Temer menjadi pelaksana tugas presiden. Namun Wapres Michel Temer juga disebut-sebut dalam kasus korupsi Petrobras. Jadi saya rasa posisi Wapres Temer ketika memegang pemeritahan sementara akan rentan untuk digoyang," jelas Febrizki Bagja Mukti.

Presiden Rousseff membantah memanipulasi anggaran negara.
Krisis politik Brasil ini terjadi ketika perekonomiannya sedang terpuruk dengan pertumbuhan ekonomi negatif dan inflasi yang sangat tinggi.
Namun pelaku pasar menanggapi positif upaya pemakzulan Presiden Rousseff dengan nilai mata uangnya menguat US$1 sebesar 3,4 real Brasil padahal beberapa pekan sebelum pemakzulan, nilai US1$ mencapai sampai 4 real Brasil. Sementara nilai dua tahun lalu US$1 = 2,2 real Brasil.
"Mungkin saja hanya sesaat karena kalau nanti Wapres Michel Temer naik jadi pelaksana presiden, kita tidak bisa tahu apa yang terjadi," tambah Febrizki.
Presiden Rousseff dalam proses pemakzulan dituduh melanggar undang-undang fiskal, tidak mampu memimpin, dan salah mengelola ekonomi.
Dia sudah membantah tegas tuduhan memanipulasi anggaran negara.
(nwk/nwk)










































