Perpusnas Galang Dukungan agar Cerita Panji dari Kediri Jadi Warisan UNESCO

Perpusnas Galang Dukungan agar Cerita Panji dari Kediri Jadi Warisan UNESCO

BBC Magazine - detikNews
Senin, 02 Mei 2016 19:32 WIB
Jakarta -
Wardiman Djojonegoro

Wardiman Djojonegoro saat ini menjadi penasehat Perpustakaan Nasional.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro, berkunjung ke Belanda dan Inggris untuk menggalang dukungan dalam upaya mencalonkan Panji masuk dalam warisan UNESCO sebagai Memory of the World atau MOW.

"UNESCO itu sangat menghargai jika warisan dunia itu bersama dengan negara lain. Untuk Panji itu ada Malaysia, Kamboja, Thailand, Belanda, dan Inggris," jelas Wardiman kini menjadi penasehat Perpustakaan Nasional dalam wawancara dengan Liston Siregar di studio BBC di pusat kota London.

Panji merupakan kisah tradisional Jawa Timur yang berasal dari Abad ke-13 yang kemudian menyebar ke beberapa wilayah dan negara lain.

Wardiman menambahkan bahwa memperjuangkan untuk menjadi MOW pada dasarnya adalah mendaftarkan arsip-arsip.

"Dan ternyata orang Belanda maupun orang Inggris sejak tahun 1700-an giat mengumpulkan naskah dan buku. Jadi ada naskah Panji di Belanda dan Inggris."

Saat ini Perpustakaan Nasional sudah menyiapkan formulir untuk mengirimkan resmi usulan ini dan UNESCO akan mengumumkan hasilnya pada pertengahan 2017 mendatang.

UNESCO

Pendaftaran untuk MOW setiap dua tahun sekali, dan periode 2016-217 dimanfaatkan untuk Panji.

"Saya optimis dengan catatan yang kita usulkan masih banyak lobang-lobangnya yang harus kita isi. Tapi saya optimis bahwa tahun depan Juli atau Agustus itu ada keputusan yang positif bagi kita dan negara-negara lain."

Apa itu Panji?

Wardiman -yang mengaku selama sekitar setahun belakangan aktif mempelajari Panji- menjelaskan Panji sebagai penulisan yang muncul di Abad ke-13 atau pada masa awal Kerajaan Majapahit.

"Itu satu cerita dari seorang Pangeran dari Daha dan satu dari Kediri. Jadi yang laki-laki adalah Inu Kertapati dan yang perempuan Dewi Anggraeni dari Kediri. Tapi cerita itu dikemas sedemikian rupa sehingga penuh dengan enam sampai tujuh fakta," tutur Wardiman.

Fakta itu antara lain adalah melibatkan dua kerajaan, dan kisah cintanya tidak langsung berhasil namun harus melalui perkelanaan. Dalam perkelanaan itu, Inu Kertapati antara lain harus menyamar menjadi pangeran lain atau jadi perempuan dan sebaliknya Dewi Anggraeni juga sempat menyamar jadi laki-laki.

"Juga ada kepercayaan zaman dulu terjadi hidup kembali atau reinkarnasi. Dan akhirnya mereka bertemu setelah perkelanaan itu."

Sejalan dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit pada Abad ke-14 dan ke-15, Panji juga ikut tumbuh sehingga menyeberang ke Bali, Lombok, Kalimantan, dan ikut dibawa ke Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.

"Jadi inilah uniknya, sebuah produk Jawa TImur yang bisa membebaskan diri atau tidak terpegaruh sama sekali oleh Ramayana dan Mahabarata namun diambil oleh daerah-derah lain dan negara-negara lain."

Keunikan lainnya adalah Panji juga diadaptasi oleh komunitas setempat, antara lain di Bali kemudian yang menggunakan Bahasa Bali sedang di Malaysia dan Kamboja menggunakan bahasa setempat.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads