Gush Etzion, Bundaran Maut di Antara Palestina dan Israel

Gush Etzion, Bundaran Maut di Antara Palestina dan Israel

BBC Magazine - detikNews
Kamis, 28 Apr 2016 16:25 WIB
Jakarta -
Israel soldier

Tentara bersenjata lengkap bersiaga di Gush Etzion Junction, yang merupakan tempat bertemunya warga Palestina dan Israel setiap hari.

Salah satu bundaran di dekat Yerusalem telah menjadi simbol kekerasan yang terjadi antara orang-orang Israel dan Palestina. Gush Etzion Junction menjadi tempat insiden mematikan dalam beberapa bulan terakhir.

Saat kami kembali ke Jalur 60, dari Hebron menuju Yerusalem, kami menjumpai polisi Israel yang tengah memblokade jalanan. Kami baru saja mewawancarai ayah seorang remaja Palestina, yang ditembak mati tahun lalu setelah menusuk seorang tentara Israel di persimpangan jalan.

Kini, pria Palestina lainnya terbunuh saat dirinya diduga melakukan serangan di tempat yang sama.

Gush Etzion Junction adalah sebuah nama bundaran tempat orang-orang Israel dan Palestina bertemu setiap hari. Dan baru-baru ini, menjadi salah satu tempat paling berbahaya di Tepi Barat. Banyak insiden mematikan terjadi di lokasi itu sejak Oktober.

"Jadi, di persimpangan ini - setiap batu yang dilemparkan, bendera yang dikibarkan, dan halte bus dilihat sebagai sebuah serangan teror," kata Daniel Hanson, kata seorang petugas keamanan dwikewarganegaraan Inggris-Israel yang bertugas di permukiman Yahudi di dekatnya.

Peta pemukiman

Wilayah yang berwarna hijau merupakan kawasan pemukiman orang-orang Israel.

"Sayangnya, di tempat kita berdiri, kami telah kehilangan dua warga sipil dalam dua serangan terpisah."

Dia menunjukkan kepada saya gundukan batu yang di atasnya terpancang bendera Israel. Di sini seorang mahasiswi dan seorang tentara cadangan tewas.

Ada supermarket bernama Rami Levi yang terletak di samping bundaran. Toko ini terlihat ramai dipenuhi warga Israel yang tengah mendorong troli untuk berbelanja. Sebagian besar orang-orang itu tinggal di blok Gush Etzion, yang ditempati 20 permukiman di sana.

Banyak warga di sana kini membawa senjata, baik itu senapan M16 maupun pistol kecil. Senjata itu, menurut Hanson, dibawa terus oleh istrinya dalam tas tangan untuk melindungi dirinya sendiri.

Pendudukan militer Israel di Tepi Barat dan perluasan pemukiman seringkali disebut sebagai alasan kemarahan warga Palestina. Tapi Daniel meyakini hasutan seperti ini mendorong meningkatnya berbagai serangan.

"Di televisi Palestina kami menyaksikan sejumlah video dan kartun yang menyerukan agar keluar dan menjadi syahid atau seorang martir, 'Pergilah, tusuklan orang Yahudi, tusuklah orang Israel'," katanya. "Mereka ingin memuliakan nama mereka, memuliakan Islam."

Al Aqsa

Kompleks masjid al-Aqsa adalah tempat suci bagi umat Muslim.

Eskalasi terbaru dipicu oleh kekhawatiran warga Palestina tentang kompleks Masjid al-Aqsa yang terletak di Kota Tua Yerusalem. Ini adalah tempat suci bagi umat Muslim, mereka menyebutnya Sanctuary Noble, dan orang-orang Yahudi, menyebutnya Temple Mount.

Ketika orang-orang Yahudi mengunjungi tempat itu selama libur keagamaan, ada sejumlah laporan yang resmi dibantah- bahwa Israel berencana untuk mengubah aturan yang melarang kaum non-Muslim untuk berdoa di sana.

Tapi di Hebron, ayah dari seorang remaja berusia 19 tahun yang melakukan aksi penusukan di Gush Etzion Junction mengatakan, putranya melakukan hal itu bukan semata-mata karena masalah agama.

Namun, ada hal lain yang membuatnya terdorong untuk melakukan aksi itu. Dia melihat para penyerang muda Palestina dan para terduga penyerangan lainnya dibunuh oleh tentara Israel dan tenggelam ke dalam siklus kekerasan.

"Situasi di Hebron sangat sulit pada waktu itu," kata Nadi Abu Chkhaidem kepada saya. "Izz al-Din selalu mengikuti berbagai peristiwa di Facebook."

"Banyak orang ditembak mati di pos pemeriksaan, termasuk gadis-gadis ini. Hal ini meluapkan kemarahan dari para pemuda kami. Mereka pergi untuk membalasnya-untuk al-Aqsa, untuk tanah kelahiran mereka, dan untuk segalanya"

Di sebuah pemukiman dekat persimpangan, Alon Shvut, putra-putra Yaakov Don memimpin doa berkabung di rumah ibadat mereka. Guru yang dikenal dengan senyumnya yang lebar itu, dibunuh November lalu.

Seorang pria bersenjata Palestina menembaki mobil-mobil yang melaju ke bundaran. Dia juga menembak mati seorang mahasiswa Amerika dan seorang sopir Palestina.

Maor Don

Maor Don (kanan) dan kakaknya. Ayah mereka dibunuh November lalu.

"Dia bahkan tidak menyesal telah membunuh orang Palestina sendiri," kata Maor Don. "Orang-orang ini sangat diliputi kebencian. Mereka hanya ingin membunuh dan tidak ingin ada perdamaian sama sekali."

Meski mereka didera pengalaman yang mengerikan, keluarga Don bertekad untuk terus tinggal di Gush Etzion. "Sangat penting untuk tinggal di sini," kata Maor. "Secara historis ini adalah tempat yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi."

Pada awal abad ke 20, orang-orang Yahudi membeli tanah di kawasan ini. Namun, dalam pertempuran dengan tentara Arab pada tahun 1948, mereka dipaksa keluar atau dibunuh. Setelah Israel merebut Tepi Barat dalam perang tahun 1967, orang-orang Yahudi kembali.

Mendirikan permukiman dipandang sebagai sesuatu yang sesuai dengan hukum, berdasarkan undang-undang internasional, tetapi Israel tidak menyetujuinya.

Kini, luas wilayah Gush Etzion 30 kali lebih luas dari catatan sejarah. Banyaknya warga Palestina yang menghuni wilayah pemukiman itu menyebabkan kebencian yang mendalam.

Namun pada saat yang sama, sebanyak 4.500 warga Palestina bekerja di Gush Etzion. Ini adalah bentuk hubungan ekonomi yang tidak mudah , banyak orang Israel memandang hal ini sebagai model hidup berdampingan.

Di sebuah desa di Palestina, Khirbet Zakarya, yang ditempati banyak permukiman, ada perspektif yang berbeda.

"Ini sulit," kata Mohammed Saad, seorang petani, "Israel melarang kami untuk membangun dan kami sudah kehilangan beberapa tanah. Panen kami tidak cukup, jadi kami harus bekerja di permukiman untuk membesarkan anak-anak kami."katanya sambil memangkas anggur-anggur.

Mohammed Saad

Mohammed Saad adalah seorang petani anggur di Palestina. Dia mengatakan bahwa diirinya sudah banyak kehilangan tanah.

Sejak terjadi kerusuhan baru-baru ini, pembatasan keamanan baru diterapkan di Gush Etzion Junction, dan semua ini telah berdampak pada kehidupan di sini. "Kami sekarang terisolasi," kata Mohammed. "Ada sebuah pos pemeriksaan baru dan hanya orang-orang yang memiliki kartu identitas yang dapat memasuki wilayah Khirbet Zkarya."

Di kawasan bundaran ini para penghuni setempat dilindungi oleh prajurit-prajurit bersenjata lengkap. Bagi mereka,tempat ini merupakan simbol dari bahaya yang mereka hadapi setiap hari.

Bagi warga Palestina hal itu menggambarkan pendudukan Israel. Dan saya berharap lebih banyak berita buruk dari Gush Etzion Junction.

Dengan tidak adanya harapan solusi politik di depan mata, hal ini hanya menawarkan sekilas masa depan yang mengkhawatirkan, di mana kedua belah pihak dalam konflik ini terus hidup dengan ketegangan yang membara dan letusan kekerasan.

Anggur

Saad tetap melakoni pekerjaannya sebagai petani anggur demi membesarkan anak-anaknya.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads