
Sejumlah kuil tak ijinkan perempuan untuk beribadah.
Selama beberapa abad, kuil dan dan tempat suci di India menggunakan 'tradisi' untuk melarang perempuan untuk masuk ke dalamnya, tetapi saat ini tuntutan agar perempuan mendapatkan hak beribadah meningkat, seperti dilaporkan wartawan BBC Geeta Pandey di Delhi.
Dalam beberapa pekan, manajemen kuil yang patriarki telah menghalangi perempuan yang taat di India untuk beribadah. Dan mereka menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bulan lalu, ratusan perempuan melakukan aksi jalan kaki dari kota Pune menuju ke kuil Shani Shingnapur di distrik Ahmednagar di negara bagian Maharashtra.
"Tujuan kami adalah untuk memasuki tempat suci yang berusia 350 tahun yang terlarang bagi perempuan," kata Trupti Desai, pemimpin protes dan anggota kelompok hak perempuan Bhumata Brigade, kepada BBC.

Trupti Desai tengah memimpin aksi jalan kali ke kuil Shani Shingnapur.
Meskipun aksi mereka dihentikan dan ditahan, tetapi upaya mereka sukses untuk mendapatkan perhatian nasional.
Desai memutuskan untuk mendatangi kuil setelah laporan media pada November lalu menyatakan kuil telah melakukan sebuah 'ritual pembersihan' karena seorang perempuan memanjat tempat ibadah dan menyentuh dewa.
Desai - yang menggambarkan diri sebagai seorang 'yang mempraktikkan, penganut Hindu" - mengatakan masuk ke kuil merupakan "hak konstitusional" untuk masuk ke kuil manapun dan menyalahkan sistem patriarki untuk mempertahankan larangan terhadap perempuan.
"Ini merupakan tradisi yang dibuat oleh laki-laki. Tuhan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan," kata dia.

Desai mengatakan para lelaki diizinkan masuk ke ruang ibadah setelah membayar donasi.
Otoritas kuil mengatakan kepada BBC bahwa laki-laki juga tidak diijinkan untuk masuk ke dalam ruang ibadah juga.
"Jika seorang laki-laki membayar 11.111 rupees (Rp 2.195.910), dia dapat masuk ke ruang ibadah. Saya menawarkan untuk melakukan hal yang sama, tetapi ditolak," kata dia.
Para pemrotes mendapatkan dukungan dari Kepala Menteri Maharashtra Devendra Fadnavis telah memastikan akan membantu mereka.
Kuil lain, Sabarimala yang berada di negara bagian Kerala, yang melarang seluruh perempuan usia produktif memasuki tempat ibadah itu, juga menghadapi tantangan yang sama.
Pada November lalu, seorang pejabat kuil mengatakan perempuan akan diijinkan untuk masuk, jika ada penemuan mesin yang dapat mendeteksi jika para perempuan itu masih 'suci' - artinya bahwa mereka tidak sedang menstruasi.
Komentar yang 'melecehkan perempuan' itu memicu protes di kalangan mahasiswa melalui Facebook dengan tagar #HappyToBleed, yang kemudian menjadi viral.

Kampanye #HappyToBleed dilakukan perempuan di media sosial.
Menstruasi merupakan topik yang tabu di India, tetapi perempuan muda mengunggah foto di Facebook dengan memegang plakat - yang beberapa dibuat dari pembalut - dengan slogan "Happy To Bleed".
'Larangan yang inkonstitusional' terhadap perempuan di kuil itu telah diajukan ke Mahkamah Agung dan melalui penyebaran petisi untuk mendukung tuntutan hak beribadah bagi perempuan.
Meskipun pengadilan belum mengambil keputusan, pada sidang terakhir, hakim Dipak Mishra mempertanyakan bagaimana perempuan dapat berada di luar padahal "Tuhan tidak mendiskriminasi antara laki-laki dan perempuan".
Dalam pembelaan mereka, pendeta Sabarimala mengatakan perempuan dilarang karena dewa di kuil itu -Lord Ayyappa- merupakan seorang lajang.
Aktivis hukum di Satara, Varsha Deshpande, yang pada 2013 lalu memimpin 10 perempuan ke dalam kuil untuk dewa Hindu Shani, mengatakan otoritas kuil menjelaskan perempuan "tidak diijinkan masuk karena Shani tidak menyukai perempuan".

Varsha Deshpande, yang pada 2013 lalu memimpin 10 perempuan ke dalam kuil untuk dewa Hindu Shani.
Desai mengatakan pengurus kuil Shani Shingnapur mengatakan dia melarang perempuan masuk ke kuil "untuk melindungi perempuan karena Shani memancarkan radiasi yang dapat membahayakan mereka dan dapat menyebabkan cacat pada janin jika seorang perempuan hamil memasuki kuil".
"Jika itu benar, kemudian mengapa perempuan diijinkan masuk ke kuil Shani yang lain?" tanya dia.
Deshpande menambahkan, "Jika perempuan tidak takut dan ingin masuk ke kuil, bagaimana Anda menghentikan kami? Kuil ini bukan berapa di Bangladesh atau Pakistan. Kami tidak butuh paspor atau visa untuk mengunjunginya. Ini merupakan hak konstitusional kami.
Dan ini tak hanya berlaku untuk umat Hindu, perempuan Muslim juga berjuang untuk mendapatkan akses serupa untuk masuk ke masjid Haji Ali di Mumbai, yang dibangun pada abad ke 15.
Kelompok hak perempuan -Muslim Bharatiya Muslim Mahila Andolan (BMMA)- telah mengirimkan sebuah petisi ke Pengadilan Tinggi Bombai, yang menuntut agar perempuan dapat masuk ke dalam kuil.

Perempuan juga dilarang beribadah di dalam masjid Haji Ali di Mumbai, yang dibangun pada abad ke 15.
Yang mengejutkan adalah perempuan diizinkan untuk masuk ke dalam komplek pemakaman sampai 2011, ketika pengurus masjid memutuskan untuk menutup akses perempuan untuk mendekat ke nisan untuk memuja orang suci yang merupakan "dosa" dalam Islam.
"Seluruh agama diskriminatif terhadap perempuan," kata Deshpande.
"Agama tidak diperuntukan bagi perempuan. Ini untuk mengeksploitasi perempuan. Kami harus menolak seluruh agama yang didominasi oleh budaya patriarki. Kami harus memiliki agama kami sendiri - untuk kaum perempuan."
Desai pernah mendapatkan ancaman pembunuhan melalui surat pada pekan lalu karena bersikeras memasuki kuil Shani, dalam surat disebutkan dari "seorang penentang".
Saya bertanya apakah dia takut.
"Tidak sama sekali," kata dia. "Saya melakukan sesuatu yang benar. Saya tidak akan mundur karena ancaman".
Pengurus kuil Shani Shingnapur dan Sabarimala mengatakan mereka terikat oleh tradisi dan tidak akan pernah mengijinkan perempuan beribadah di dalamnya.
Tetapi tuntutan agar perempuan diijinkan masuk ke kuil semakin santer, dan mungkin larangan bagi perempuan memasuki tempat ibadah tak dapat dipertahankan lebih lama lagi.
(nwk/nwk)










































