Eks Ratu Kecantikan Malaysia Jalankan Sekolah Pengungsi

Eks Ratu Kecantikan Malaysia Jalankan Sekolah Pengungsi

BBC Magazine - detikNews
Selasa, 16 Feb 2016 12:54 WIB
Eks Ratu Kecantikan Malaysia Jalankan Sekolah Pengungsi
Foto: BBC Magazine
Jakarta -
Faduma

Faduma mengaku tak pernah menggambar sepanjang hidupnya di Somalia, tapi kini di pengungsian ia bisa menekuni bakatnya di bidang seni.

Pada usia 15 tahun, Faduma dititipkan oleh orang tuanya kepada rombongan warga Somalia yang hendak mengungsikan diri keluar negeri karena kecamuk perang di negara yang terletak di Tanduk Afrika itu tak kunjung usai.

Tujuan perjalanan udara Faduma pada 2012 adalah Malaysia karena di negeri ini ada kerabat yang sudah mengungsi terlebih dulu.

"Saya datang ke Malaysia karena Somalia dilanda perang dan saya adalah satu-satunya perempuan di keluarga saya. Saya tinggal di Malaysia bersama beberapa teman keluarga. Saya hidup sendiri di sini," kata Faduma.

Kini di usia 19 tahun, Faduma tercatat sebagai salah satu dari lebih 120 pengungsi anak-anak yang bersekolah di Fugee School, sekolah komunitas bagi pengungsi di Negara Bagian Selangor, Malaysia.

"Saya tak bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang artis, tapi saya bisa melakukan sesuatu. Ketika saya masih di Somalia, saya tak pernah

Deborah Henry

Menurut Deborah Henry, bantuan pendidikan bagi pengungsi anak-anak lebih kekal dibanding bantuan materi.

menggambar sepanjang hidup saya, jadi ketika saya tiba di sini saya belajar banyak dan saya banyak melukis.

"Ketika di Somalia saya tak pernah bisa berbahasa Inggris. Pada minggu pertama sekolah di Fugee School, semua orang bercakap dalam bahasa Inggris, sedangkan saya tidak tahu apa-apa sehingga saya tinggal saja di rumah selama satu bulan," tutur Faduma yang juga menjadi relawan di sekolahnya.

Ditambahkannya hidup dalam isolasi di rumah kerabat tanpa teman di luar membuatnya cepat bosan dan putus asa. Ia pun kembali bersekolah di Fugee School sampai sekarang.

Sumber dana

Fugee School

Pintu masuk ke Fugee School yang terletak di ruko.

Sekolah ini ada di lantai atas ruko tak mewah. Di sebelahnya terdapat toko sepeda dan tepat di depan ada restoran waralaba ayam goreng KFC. Kombinasi kedua usaha itu mungkin bukan lingkungan ideal untuk belajar, tapi di sinilah ratusan pengungsi anak-anak menimba ilmu sejak didirikan tahun 2009.

Salah satu pendiri Fugee School adalah Deborah Henry, pemegang mahkota Miss Malaysia World tahun 2007 dan Miss Universe Malaysia tahun 2011.

"Saya ingin membantu pengungsi karena mereka tak berdosa. Anak-anak adalah korban dalam perang. Jika orang dewasa cukup kuat untuk melarikan diri, anak-anak masih tergantung pada orang tua termasuk dalam aspek pendidikan.

"Semua anak adalah penting. Kita tak peduli agama, ras, kewarganegaraan, warna kulit," kata Deborah Henry dalam wawancara dengan BBC Indonesia pada Senin (15/02).

Bahasa Inggris

Sekolah seperti ini -yang biaya operasionalnya mengandalkan bantuan dan penggalangan dana- bermakna penting artinya bagi komunitas pengungsi di Malaysia. Tercatat ada 33.640 pengungsi anak-anak di Malaysia di bawah umur 18 tahun.

Sama dengan Indonesia, Malaysia bukan penandatangan Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 yang memandatkan pendidikan bagi pengungsi. Jadi selama ini para pengungsi tidak boleh mengakses pendidikan di sekolah pemerintah. Mereka boleh pergi ke sekolah swasta asal mampu membayar.

Karya siswa

Pesan-pesan perdamaian menghiasi tembok di sekolah Fugee School yang siswa-siswanya berasal dari negara-negara yang dilanda perang.

Sambil menunggu penempatan di negara ketiga, para siswa antara lain dari Somalia, Yaman, Suriah dan Irak tampak memanfaatkan kesempatan belajar yang tersedia untuk saat ini.

Faduma dan rekan-rekannya fasih berbahasa Inggris, lancar membaca, menulis, mengoperasikan komputer padahal sebelumnya, seperti dikatakan oleh Deborah Henry, tak mempunyai pengalaman pendidikan dan tak percaya diri.

Perkembangan ini bagi mereka serta para pendiri sekolah Fugee School, merupakan titik cerah bagi masa depan pengungsi anak-anak yang semestinya punya hak dan kesempatan sama dengan anak-anak pada umumnya.

Hanya saja yang absen di sekolah ini adalah pelajaran bahasa Malaysia, meskipun kenyataannya mereka tinggal di negara tersebut sehingga Bahasa Inggris yang menjadi lingua franca, bahasa perantara para pengungsi dari berbeda-beda negara.

Tulisan ini merupakan bagian dari Seri Pengungsi Asia Tenggara yang diterbitkan di BBCIndonesia.com mulai Selasa (16/02) dan yang disiarkan di Radio BBC Indonesia mulai Senin (22/02).

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads