Bisnis Terompet Tahun Baru Berbunyi Nyaring di Jakarta

Bisnis Terompet Tahun Baru Berbunyi Nyaring di Jakarta

BBC Magazine - detikNews
Kamis, 24 Des 2015 13:10 WIB
Jakarta -

Pedagang terompet berjajar di salah satu sudut kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Di tengah teriknya sinar matahari di kawasan Glodok, Jakarta Barat, deretan terompet dengan ragam bentuk dan warna menarik perhatian orang-orang yang sedang berlalu-lalang.

Di balik deretan terompet tersebut, saya menjumpai Hengky, seorang pedagang musiman asal Cirebon yang sedang mengadu peruntungan dengan menjajakan alat musik tiup itu.

Hengky telah mangkal di salah satu sudut kawasan Glodok yang bising dan berdebu selama hampir satu minggu dan akan bertahan sampai perayaan Tahun Baru.

"Setahun sekali, selama empat tahun, saya berjualan terompet di sini sampai Tahun Baru. Paling lama dua minggu jualan," kata Hengky.

Di sela-sela kesibukannya menawarkan terompet, Hengky menyempatkan diri untuk merakit beberapa terompet yang dibawanya dari Cirebon.

Dengan cekatan, kedua tangannya menggunting lembaran karton, melipat, dan memberi lem pada sejumlah terompet berbentuk naga.

Hasilnya amat menarik! Pada bagian ujung terompet, ada kepala naga yang sedang menganga, sedangkan pada bagian batang terompet yang meliuk disematkan busa berwarna warni sehingga menyerupai sisik.

Industri rumahan

Bentuk awal terompet tersebut sejatinya dihasilkan industri rumahan di Cirebon. Setelah semua siap, alat musik tiup itu diangkut ke Jakarta untuk dijajakan. Menurut Hengky, pengerjaan ribuan terompet telah dilakukan sejak jauh hari.

"Produksinya di Cirebon, warga di kampung-kampung yang membuat. Kami bikin bisa 500 kantong, satu kantong isinya 12 buah terompet. Lama pengerjaan satu kantong memakan dua hari dan dua malam. Karena itu, mulai produksi minimal tiga bulan sebelumnya, mulai bulan 10," kata Hengky.

Untuk harga, Hengky telah menetapkan harga pada masing-masing terompetnya. Boleh ditawar, asalkan tidak di bawah harga patokan. Sebuah terompet naga, misalnya, dilepas senilai Rp12.000 atau Rp180.000 untuk selusin.

Terompet-terompet beraneka bentuk diproduksi di Cirebon lalu dijual di Jakarta.

Β 

Harga terendah ialah terompet berbentuk kerucut mini yang dilego seharga Rp5.000 per buah.

Bisnis terompet tersebut, kata Hengky, cukup menguntungkan. Tahun lalu, setelah berjualan selama beberapa hari menjelang Tahun Baru, dia sanggup meraup untung beberapa puluh juta rupiah.

"Modalnya minimal Rp25 juta. Jika cuaca cerah dan ramai pembeli, kami bisa memperoleh Rp50 juta. Tapi, kalau sepi, kami dapat Rp35 juta," ujar Hengky.

Paling diminati

Beberapa meter dari lapak Hengky, saya bertemu Irman, pedagang terompet lainnya, yang tengah melayani calon pembeli. Irman, yang tahun ini menjajakan terompet untuk pertama kalinya, mengatakan semua kalangan suka dengan terompet dagangannya.

Namun, menurutnya, jenis terompet naga yang paling banyak diminati.

Para pembeli terompet tahun baru berasal dari berbagai kalangan.

Β 

"Mungkin karena di Glodok sini, warganya banyak yang etnis Tionghoa ya," katanya, menganalisa.

Selama beberapa saat saya berada di antara para pedagang terompet, calon pembeli berdatangan silih berganti. Salah satunya adalah Wati yang tampak terpikat aneka terompet yang dipajang. Dia kemudian memutuskan membeli beberapa terompet.

"Saya beli untuk anak saya di rumah. Sisanya, sebagai contoh untuk dijual lagi," kata Wati, seraya mengaku sedang memikirkan strategi bisnis untuk menjual kembali terompet-terompet itu di lingkungan rumahnya.

Anda bisa mendengarkan versi audio artikel ini dalam program Dunia Bisnis yang disiarkan berbagai stasiun radio mitra BBC di Indonesia, pada Senin (28/12).

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads