
Walaupun penduduknya mayoritas Muslim, Tajikistan adalah negara sekuler. Sebagian penduduknya juga masih terbiasa dengan tradisi dan budaya Rusia.
Pemerintah Tajikistan membatasi warganya untuk merayakan Natal dan tahun baru, termasuk melarang pemasangan pohon Natal di sekolah dan universitas.
Kementerian pendidikan Tajikistan melarang "penggunaan kembang api, pesta makanan, pemberian hadiah serta pengumpulkan uang" saat perayaan Tahun Baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Tajikistan --yang merupakan pecahan negara Uni Soviet-- membatasi pula pemasangan pohon Natal di ibu kota Tajikistan, Dushanbe, sampai akhir tahun 2015.
Walaupun penduduknya mayoritas Muslim, Tajikistan adalah negara sekuler. Sebagian penduduknya juga masih terbiasa dengan tradisi dan budaya Rusia.
Kasus penikaman
Dan pada setiap Desember dan Januari, pemerintah negara itu meliburkan siswanya dari aktivitas sekolah, seperti yang pernah dipraktikkan ketika rezim Soviet masih berkuasa.

Kementerian pendidikan Tajikistan melarang "penggunaan kembang api, pesta makanan, pemberian hadiah serta pengumpulkan uang" saat perayaan Tahun Baru.
Namun demikian, pada malam Tahun baru 2012, seorang pria yang mengenakan jubah merah ala Santa Clausinter ditikam sampai mati oleh penyerang tak dikenal di luar rumah kerabatnya di Dushanbe.
Keluarga pria naas itu mengaku serangan itu dilatari motif agama, tetapi kepolisian setempat membantahnya dan mengatakan tiga penyerangnya dalam kondisi mabuk.
Sehari sebelum penyerangan itu, ulama terkemuka di negara itu mendesak umat Islam tidak memperingati tradisi Tahun baru.
Setahun lalu, sejumlah warga yang menggelar pesta dengan mengenakan kostum zombie dan vampir dilaporkan ditahan oleh aparat kepolisian karena pemerintah melarang perayaan Halloween.











































