Penduduk Beberapa Kota Asia Bertarung dengan Polusi

Penduduk Beberapa Kota Asia Bertarung dengan Polusi

BBC Magazine - detikNews
Minggu, 13 Des 2015 15:00 WIB
Jakarta -

Sementara penduduk kota Beijing, China, berusaha hidup di tengah peringatan "bahaya merah" terkait polusi tebal setiap hari, bagaimana polusi di kota-kota lain di kawasan Asia?

Hong Kong

Hong Kong jauh dari Beijing, tetapi kota ini bisa tertutup kabut asap selama musim dingin karena angin membawa polusi bertiup dari arah China daratan.

Pemerintah Hong Kong mengaku bekerjasama dengan mitra mereka dari daratan untuk menyelesaikan masalah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hong Kong sendiri menetapkan kebijakan penggunaan filter emisi bagi kendaraan di sana. Kendaraan tua juga diminta untuk diganti dengan yang baru. Bahkan baru-baru ini mereka meminta kendaraan diesel untuk memenuhi standar Euro VI. Taksi di sana juga memakai bahan bakar gas cair yang dianggap lebih bersih.

Namun itu semua dianggap tak cukup oleh pegiat lingkungan. Mereka mengatakan ada polutan PM2.5 di udara yang belum diawasi, padahal ini dianggap berbahaya. Padahal di Cina daratan, kandungan PM2.5 sudah menjadi bagian pengendalian udara di sana.

Mobil listrik Hong Kong

Mobil listrik diperkenalkan di Hong Kong, November 2015.

 

Jakarta

Para penglaju berusaha melindungi pernapasan dengan memakai masker menutupi hidung mereka ketika menyeberang jalan. "Saya berusaha tak bernapas ketika menyeberang jalan. Saya tutup muka anak saya untuk melindungi paru-parunya," kata Situ Nurani, ibu dua anak.

Menurut data Badan Pengendalian Lingkungan, 70% pencemaran udara datang dari kendaraan bermotor yang kini dianggap masalah lingkungan yang serius. Jakarta adalah kota terbesar di dunia tanpa jalur kereta bawah tanah dan kelas menengah yang sedang tumbuh, mampu membeli mobil.

 

Pemerintah kini sedang membangun jalur kereta bawah tanah yang diharapkan selesai dalam tiga tahun.

Namun penduduk Jakarta menderita dampak fisik dari udara yang kotor. Penelitian Universitas Indonesia menemukan hampir 60% penyakit penduduk yang tinggal di sana terkait dengan polusi udara.

Para ahli mengingatkan masker tak mampu melindungi manusia dari partikel halus yang bisa menyelinap ke dalam hidung dan paru-paru.

Bangkok

Pencemaran udara adalah masalah serius bagi Bangkok, yang terkenal lantaran kemacetan lalu lintasnya.

 

Awal tahun ini, Departemen Pengendali Polusi mengingatkan penduduk di lima distrik di Bangkok dan kota pinggiran Nonthaburi untuk tidak menghabiskan waktu lama-lama di tempat terbuka untuk menghindari kualitas udara yang buruk.

Tes ozon berada di atas ambang batas keamanan, 100ppb (100 per satu miliar bagian).

Namun keadaan bisa membaik. Pekan lalu, gubernur Bangkok mengumumkan di laman Facebook-nya peringkat Bangkok lebih baik daripada London dan Tokyo untuk kualitas udara. Dalam laporan Aiport Parking and Hotels Company yang berkantor di Inggris, Bangkok berada di posisi ke-18 untuk indeks kualiats udara bagi daerah kunjungan turis.

Menurut Bank Dunia, Bangkok telah menerapkan standar emisi yang lebih baik, mulai menghapuskan timbal di bensin, mengurangi polisi kendaraan roda tiga di jalan dan mendorong perubahan ke motor empat tak yang lebih bersih sebagai metode utama transportasi di kota. Ini menolong meningkatkan kualitas hidup penduduk.

 

Namun, untuk kota berpenduduk sepuluh juta tanpa jaringan transporasi massal yang lengkap, penduduk Bangkok memilih mobil ketimbang bus kota yang panas.

Jumlah mobil di Bangkok kini lebih dari delapan juta unit.

Hanoi

Sementara media di Vietnam terbuka soal polusi udara, menemukan cara untuk mengukur kualitas udara masih jadi persoalan, kata ilmuwan senior Vietnam.

Hanoi

Ada tiga juga sepeda motor di kota Hanoi.

 

Ditanya tentang 'bahaya merah' polusi udara di Beijing, Dr Nguyen Thi Hue, wakil presiden Institut dan Teknologi Vietnam di Hanoi, mengatakan, "Sulit menyimpulkan apakah polusi udara di Hanoi, dan di Ho Chi Minh City, telah mencapai tingkat berbahaya atau tidak karena kemampuan kita untuk melakukan pengukuran yang ketat."

"Alat indikator kualitas udara belum juga dipasang," kata Dr Nguyen Thi Hue kepada BBC Vietnam.

Saat ini, laporan setempat pada bulan Desember 2015 menyebutkan lebih dari 91% penduduk distrik Hoang Mai di selatan menderita penyakit pernapasan "disebabkan oleh polusi udara".

Apakah ini disebabkan oleh buruknya kualitas udara di sana, dan jika memang demikian bagaimana kedua hal itu terhubung, masih belum bisa dipastikan.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads