
Layanan pos perintis langsung antar dua negara akan segera diterapkan.
Amerika Serikat dan Kuba sepakat untuk memulihkan layanan pos langsung, yang dihentikan pada 52 tahun yang lalu ketika masa perang dingin.
Sebuah layanan pos perintis akan segera diluncurkan, tetapi tak jelas kapan layanan penuh akan diterapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua negara telah melakukan pemulihan hubungan diplomatik dan membuka kantor kedutaan besar.
Kuba dan AS mulai membangun kembali layanan surat pada 2013, sebelum perubahan kebijakan diumumkan.
Surat dan parsel antara Kuba dan AS dapat dikirimkan melalui negara kerika, terutama Meksiko dan Kanada.
Pada Maret lalu, koneksi telepon dengan AS telah dipulihkan setelah lebih dari 15 tahun.
Sebelumnya, panggilan telepon hanya dapat dilakukan melalui negara ketiga.

Menlu AS ohn Kerry dan Menlu Kuba Bruno Rodriguez membahas tentang bisnis kedua negara.
Ketika layanan pos tertunda menimbulkan frustasi selama beberapa dekade, penggunaannya pada abad ke 21 menjadi terbatas, seperti dilaporkan oleh wartawan BBC di Havana, Will Grant.
Kurir membawa surat dan paket kecil antara Miami dan Havana secara teratur.
Dan negara Komunis ini secara bertahap membuka diri terhadap layanan internet, generasi baru Kuba lebih sedikit menulis surat dibandingkan orangtua dan kakek-nenek mereka, tambah koresponden kami.
Embargo AS
Meskipun peningkatan hubungan yang luar biasa antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, Kuba mengatakan hubungan itu tidak akan sepenuhnya normal sampai AS menarik diri dari Teluk Guantanamo dan mencabut embargo ekonomi terhadap negara pulau tersebut.

"Blokade, genosida terlama dalam sejarah," tertulis dalam papan reklame di Havana.
AS memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba pada 1959 setelah Fidel Castro dan saudara laki-lakinya Raul memimpin sebuah revolusi yang menggulingkan Presiden Fulgencio Batista, yang didukung AS.
Kuba menjadi sebuah negara sosialis revolusioner dan menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet.
Beberapa tahun kemudian, AS menerapkan embargo perdagangan dengan melarang hampir seluruh aktivitas ekspor ke Kuba.
Kemudian di masa pemerintahan Presiden John F Kennedy embargi ekonomi secara penuh diterapkan termasuk larangan bepergian ke negara tersebut.
Akibat kebijakan embargo itu, Kuba diperkirakan mengalami kerugian ekonomi lebih dari $1,1 trilliun atau RP.13.914 trilliun dan ekonomi AS $1,2 milliar atau RP 16 trilliun per tahun.
Obama telah mengumumkan untuk mencabut embargo, mengatakan kebijakan itu "gagal untuk meningkatkan kehidupan masyarakat Kuba".
Tetapi perubahan itu harus disetujui oleh Kongres, yang dikuasai oleh oposisi Partai Republik.











































