
Sebagian besar sayur dan jeruk Rusia berasal dari Turki.
Apa hubungannya antara tomat Turki dan roket?
Banyak. Setidaknya menurut Gennady Onishchenko, mantan inspektur sanitasi yang kini menjabat staf perdana menteri Rusia.
Pada Rabu (25/11), dia mengatakan bahwa "setiap tomat Turki" yang dibeli di Rusia berdampak pada ekonomi negara tersebut dan membuat Turki bisa membeli roket yang mungkin akan ditembakkan ke pesawat tempur Rusia.
Komentar tersebut muncul di tengah tingginya ketegangan antara dua negara setelah pesawat Su-24 milik Rusia ditembak jatuh di perbatasan Turki-Suriah.
Kini menteri pertanian Rusia semakin menambah ketegangan tersebut dengan mengumumkan bahwa sekitar 15% dari produk Rusia tidak memenuhi standar keamanan Rusia. Pengawasan kini diperketat, dan konsekuensinya serius buat eksportir Turki.
Negara tersebut mengekspor produk pertanian dan makanan yang nilainya melebihi 1 miliar atau lebih dari Rp14 triliun ke Rusia tahun ini. Sekadar catatan, 20% dari sayuran impor di Rusia berasal dari Turki.
Moskow bisa memenuhi kebutuhan buah dan sayurnya dengan membeli dari negara lain, seperti Iran, Israel, Maroko, Azerbaijan, Cina, Afrika Selatan, dan Argentina, kata menteri pertanian. Meski begitu, belum jelas bagaimana dampak dari larangan makanan Turki terhadap harga dan pasokan.

Kebutuhan buah dan sayur Moskow terpenuhi dengan membeli dari negara-negara lain.
Namun keterkaitan antara makanan dan kebijakan luar negeri di Rusia bukan hal baru. Dari mulai wine Georgia, apel Polandia, susu Lithuania, atau keju Uni Eropa, kebijakan "keamanan" impor pangan Rusia selalu sejalan dengan kebijakan politik luar negerinya.
Wine Georgia
Pada 2006, Rusia melarang impor wine dari Georgia karena alasan kesehatan. Industri tersebut sangat bergantung pada peminum dari Rusia, dan terdampak berat.
Saat itu, analis mengatakan bahwa Rusia terganggu dengan posisi Georgia yang makin pro-Barat dan berambisi untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)
Presiden Georgia kemudian menuduh Rusia melakukan pemerasan ekonomi.
Larangan tersebut kemudian diangkat pada 2013, dan Rusia langsung menempati posisi utama importir wine Georgia.
Kadri Liik, pakar Rusia di Badan Eropa untuk Urusan Luar Negeri, menyebut Rusia menggunakan "cara lama yang familiar", yaitu cara umum untuk "menghukum" negara-negara, terutama pada masa pasca-Soviet, yang membuat kesal Rusia.
Alhasil, lembaga konsumen Rusia, Rospotrebnadzor, dan pejabat pemerintah sering harus menjelaskan bahwa larangan yang diterapkan tidak bermotif politik.
Saat impor permen dan cokelat dari Ukraina dihentikan pada 2013, termasuk dari perusahaan milik Presiden Ukraina Petro Poroshenko, wakil ketua parlemen Vadim Solovyov membela langkah tersebut.
"Kami melarang impor makanan yang tidak memenuhi standar dan persetujuan yang kami miliki," katanya, seperti dikutip Russia Today.
Makanan Uni Eropa
Rusia membalas sanksi Barat tentang krisis Ukraina dengan melarang sebagian besar impor makanan dari negara-negara Uni Eropa, Australia, Kanada, Norwegia, dan AS pada Agustus tahun lalu.

Penghancuran produk keju yang dilarang di Rusia.
Rusia kemudian memperluas larangan sampai ke Eslandia, Liechtenstein, Albania, dan Montenegro pada Agustus ini, dan mengancam Ukraina masuk dalam daftar.
Penghancuran makanan yang dilarang, seperti keju, bacon, dan buah, memicu kemarahan juru kampanye antikemiskinan.
Tahun lalu, penutupan beberapa cabang McDonald's karena tuduhan "pelanggaran kebersihan" membuat banyak warga Rusia bingung, termasuk pemilik waralaba asal AS yang mengatakan bahwa restoran mereka dianggap sebagai standar restoran lokal.
Dengan meningkatkan larangan pada makanan Turki, Rusia menggunakan keamanan makanan untuk menunjukkan kemarahan pada negara lain.
Namun di saat bersamaan, Liik mengatakan, "ini menunjukkan Rusia berusaha menjaga perdebatan di level bilateral" untuk menghindari peningkatan ketegangan.
Dalam hal ini, pertengkaran yang melibatkan tomat lebih baik daripada roket.











































