Pemerintah Belgia, Prancis, Jerman, Inggris, dan Norwegia mengambil "pendekatan keras" dengan menahan orang-orang yang kembali dari Suriah, yang kuat diduga mendukung atau bertempur untuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekhawatiran yang langsung muncul adalah orang-orang ini, sering juga disebut sebagai "jihadis", adalah mereka memiliki paham radikal atau telah bergabung dengan organisasi teroris, sehingga mengancam keamanan atau dikhawatirkan menjadi "agen penyebar" radikalisme di masyarakat.
Tidak demikian halnya dengan Denmark.
Pemerintah Denmark memilih "pendekatan lunak" dengan merangkul kembali "jihadis-jihadis" yang kembali dari Suriah.
Menangkap para "jihadis" ini memang tidak memungkinkan karena pergi ke Suriah bukan termasuk tindakan pidana di Denmark, kata Allan Aarslev, perwira polisi yang menangani program deradikalisasi di kota Aarhus, di Denmark tengah.
"Kami mengontak mereka .. kalau memang mereka tertarik untuk mengikuti program kami, kami bisa hubungkan mereka dengan mentor, psikolog, atau membantu mereka kembali sekolah atau kuliah," kata Aarslev kepada BBC Indonesia di kantor kepolisian Aarhus.
"Mengapa kami merangkul mereka? Harapan kami adalah dengan bantuan-bantuan semacam ini, mereka tidak melakukan kejahatan setelah kembali dari Suriah," kata Aarslev.
Argumen bantu sesama Muslim
Ketika berbicara tentang "jihadis" dari Denmark, perhatian memang langsung tertuju ke kota Aarhus, kota dengan penduduk sekitar 250.000 jiwa yang bisa ditempuh dengan 40 menit perjalanan udara dari ibu kota Kopenhagen.
Di pinggiran Aarhus terdapat Masjid Grimhojvej yang puluhan jemaahnya pergi ke Suriah.
Pemimpin masjid, Oussama el Saadi, tidak setuju dengan pandangan bahwa jemaah masjid yang pergi ke Suriah adalah orang-orang yang memiliki pandangan ekstrem atau radikal.

Allan Aarslev mengatakan salah satu tujuan program adalah membantu orang-orang yang pulang dari Suriah kembali masuk ke komunitas di Aarhus.
"Mereka adalah anak-anak muda yang paham dengan situasi di Suriah. Mereka tahu ada sesama saudara Muslim yang dibunuh dan salah satu cara untuk membantu mereka adalah dengan terjun di negara tersebut," kata El Saadi.
"Anak-anak muda ini tidak membahayakan dan saya punya bukti mereka tidak menjadi ancaman ketika kembali ke Denmark," katanya.
Tapi aparat keamanan di Denmark punya perspektif lain dan ingin agar orang-orang yang kembali dari Suriah ini tidak melakukan kejahatan, apa pun bentuknya.
Makanya diselenggarakan berbagai program untuk membantu orang-orang yang kembali dari Suriah. Di antaranya adalah dengan berdialog ke mereka secara langsung, kata Toke Agerschou, pejabat di Aarhus yang banyak terlibat dalam program deradikalisasi.
"Dialog adalah medium terbaik untuk mengubah cara pandang seseorang," kata Agerschou.
Manfaat jangka panjang
Agerschou menjelaskan bahwa bisa saja pihaknya menangkap orang-orang yang kembali dari Suriah tapi dengan menempatkan mereka di penjara terbuka kemungkinan paham mereka menjadi lebih radikal.
"Memasukkan kembali mereka ke masyarakat memang tidak mudah, tapi ada potensi manfaat yang jauh lebih besar di masa depan," kata Agerschou.
Bisa diduga tak semua pihak di Denmark yang setuju dengan "pendekatan lunak" ini.

Puluhan jemaah pergi ke Suriah, banyak di antaranya yang sekarang kembali ke Denmark.
Marie Krarup, anggota parlemen dari Partai Rakyat Denmark, mengatakan kecewa dengan pendekatan ini. "Ini terlalu lunak dan tak menyelesaikan masalah," katanya.
Allan Aaarslev, polisi yang aktif di program deradikalisasi, mengatakan kritik ini bisa dimengerti. Ia meminta pihak-pihak yang menentang untuk melihat data statistik.
Ia mengatakan pada tahun 2013 tak kurang dari 30 warga pergi ke Suriah, pada akhir 2014 hanya satu orang yang pergi ke sana.
Jadi, pendekatan lunak dan dialog persuasif dengan komunitas Muslim membawa hasil.
Terlepas dari potensi bahaya yang muncul, pendekatan ini didukung oleh Alyas Karmani, pejabat di Bradford, Inggris, yang banyak terlibat dalam program deradikalisasi.
"Saya meyakini bahwa langkah yang ditempuh pemerintah Denmark sudah benar," kata Karmani.
Ia menjelaskan ada orang-orang yang ke Suriah dan kemudian menyadari apa yang terjadi di sana adalah keliru dan kemudian memutuskan ingin pulang. Persoalannya adalah banyak negara di Eropa yang tak mempermudah orang-orang yang ingin kembali dari Suriah.

Toke Agerschou mengatakan dialog adalah medium terbaik untuk mengubah cara pandang seseorang.
"Yang mestinya dilakukan adalah, kalau ada yang kembali dari Suriah, mereka ini harus dibantu. Kalau memang dinilai tak menjadi ancaman, maka mereka harus dimasukkan kembali ke masyarakat," kata Karmani.
"Mereka bisa membantu kita untuk memberikan pemahaman yang benar, bahwa apa yang terjadi di sana tidak mencerminkan Islam dan ISIS hanya mengeksploitasi orang," katanya.
Dengar Liputan Khas tentang radikalisasi di kalangan anak-anak muda Eropa dalam siaran BBC Indonesia pukul 05.00 WIB pada 19 November, 26 November, dan 3 Desember 2015.











































