
Serangan pria bersenjata membuat 89 orang tewas di dalam gedung konser Bataclan, Paris.
Pemilik gedung konser Bataclan di Paris mengaku "tidak memiliki kata-kata" untuk menggambarkan kesedihan mereka setelah serangan bersenjata di dalam gedung itu.
Delapan puluh sembilan orang penggemar musik tewas dan lebih dari 100 terluka ketika orang bersenjata menembak ke arah kerumunan selama digelar konser grup band asal AS, Eagles of Death Metal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengelola Bataclan juga mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat semenjak serangan tersebut.
"Banyak dari Anda ingin berkumpul di Bataclan, tapi sayangnya otoritas keamanan masih bekerja di lokasi kejadian," kata pemilik gedung konser tersebut.
"Kami akan membagi informasi kapan pun terkait kejadian itu asal memungkinkan. Kami berterima kasih atas dukungan Anda, itu telah membuat kami terharu," katanya.
Saat terjadi serangan, para penonton konser terjebak di dalam ruangan sebelum polisi menyerbu gedung serta menembak mati seorang pria bersenjata.
Sembunyi di ruang bawah tanah
Anggota band Eagles of Death Metal terluka akibat serangan itu, tetapi Nick Alexander, seorang warga Inggris dan penjual merchandise di ruang pertunjukan, merupakan salah seorang yang tewas.
Mariesha Payne, dari Perth di Skotlandia, ada di Bataclan dengan seorang teman pada saat serangan itu.
Dia mengatakan kepada BBC mereka selamat dengan berjalan dari tempat kejadian dan bersembunyi di ruang bawah tanah selama tiga jam.
"Banyak dari Anda ingin berkumpul di Bataclan tapi sayangnya pemerintah masih bekerja di tempat kejadian," kata pemilik aula konser.
"Kami akan memberi Anda informasi tentang kapan itu akan mungkin. Kami berterima kasih atas dukungan Anda, ini membuat kita terharu," katanya.
Penonton konser terjebak di tempat sebelum polisi menyerbu gedung dan menembak seorang pria bersenjata tewas.











































