China selama ini memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan suatu hari nanti dapat bersatu kembali. Tetapi banyak warga Taiwan memandang mereka independen dan memprihatinkan pengaruh ekonomi China di negaranya.
"Kedua pihak harus menghormati nilai-nilai dan cara hidup masing-masing," kata Presiden Ma yang memulai pembicaraan di sebuah hotel mewah di Singapura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan berlangsung di wilayah netral di sela-sela kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Singapura.
Hubungan China dan Taiwan telah membaik semenjak Ma menjabat Presiden Taiwan pada tahun 2008. Ini ditandai adanya hubungan ekonomi yang terus membaik, peningkatan hubungan pariwisata, dan kerja sama pakta perdagangan.
Kedua pihak berpisah pada tahun 1949 ketika Partai nasionalis Kuomintang kalah dari Partai Komunis China dalam perang sipil. Kelompok nasionalis kemudian mendirikan pemerintahan baru di Taiwan.
Apa yang tidak dibahas Tidak ada perjanjian kerja sama berskala besar atau penawaran yang diharapkan dapat disepakati kedua pihak.
Sebelumnya Presiden Ma mengatakan bahwa isu sengketa Laut China Selatan, yang menjadi sorotan berbagai pihak belakangan ini, tidak menjadi agenda pembicaraan.

Di ibukota Taiwan, muncul unjuk rasa memprotes pertemuan kedua pemimpin. Pendemo mencoba memasuki gedung parlemen tetapi dihadang aparat kepolisian.

Protes menentang pertemuan itu diwarnai bentrokan antara pendemo dengan aparat kepolisian.
Apa yang dibahas Presiden Ma mengusulkan untuk mengurangi kadar konflik di wilayah perbatasan perairan di Selat Taiwan, dengan meningkatkan dan memperluas pertukaran informasi, demikian menurut Kantor berita Taiwan.
Kantor berita ini melaporkan, upaya ini merupakan bagian dari konsolidasi "Konsensus 1992" -sebuah perjanjian yang mengakui prinsip "satu China" tetapi kedua pihak memiliki tafsir sendiri-sendiri.
Karena membicarakan persoalan politik yang pelik dan peka, kedua pemimpin dituntut terlibat pembicaraan sebagai Xi Jinping dan Ma Ying-jeou, dan bukan sebagai presiden.
Reaksi di Taiwan dan China Partai Kuomintang (KMT), tempat Presiden Ma bernaung, selama ini dipandang pro-Beijing sehingga menyebabkan terjalin hubungan hangat dari kedua pihak.
Namun demikian, para wartawan mengatakan kekhawatiran meluasnya pengaruh China telah menyebabkan ketidakpuasan di masyarakat Taiwan yang terus meluas.
Partai KMT menderita kekalahan telak dalam pemilu lokal tahun lalu. Ini sebuah kenyataan yang menunjukkan adanya penolakan yang makin meluas atas kebijakan Presiden Ma yang makin mesra dengan China.
Di ibukota Taiwan, muncul unjuk rasa memprotes pertemuan kedua pemimpin. Pendemo mencoba memasuki gedung parlemen tetapi dihadang aparat kepolisian.
Dalam waktu hampir bersamaan, muncul pula unjuk rasa sekelompok kecil pendukung Presiden Ma di bandara Taipei.
Sementara, media pemerintah China menyambut suka cita pertemuan itu. Sebaliknya kalangan oposisi dan aktivis di Taiwan menyerukan Ma menundurkan diri dari jabatannya.
(dhn/dhn)











































