
Walau sejumlah buku Indonesia sudah masuk pasar global, namun belum sebanyak beberapa negara Asia lain.
Menyatakan karya para penulis Indonesia belum memasuki pasar dunia tentu tidak amat keliru karena sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.
Nama-nama antara lain seperti Pramoedya Ananta Toer, Laksmi Pamuntjak, Ayu Utami, Andrea Hirata, dan Eka Kurniawan jelas sudah dikenal para peminat buku dunia.
Bagaimanapun jelas buku Indonesia masih perlu berupaya lagi untuk mendapat tempat di panggung dunia.
Christian Lempelius, seorang warga Jerman yang pernah tinggal di Indonesia, mengatakan karya-karya Afrika, misalnya, lebih dikenal oleh warga Jerman dibanding karya Indonesia.

Gramedia menempuh jalur digital untuk masuk ke pasar global.
Â
"Indonesia ada satu grup spesial dari profesor-profesor, mahasiswa dan grup yang sedikit politis yang ingin tahu apa sebabnya muncul gerakan Islam dan situasi-situasi aktuil," katanya di Stan Nasional Indonesia yang diramaikan sekitar 20 penerbit Indonesia.
Pendapat yang didukung oleh Helga, warga Jerman lain yang datang melihat buku-buku Indonesia.
"Mungkin karena warga Jerman lebih terbiasa dengan cara berpikir Eropa dalam buku, novel, puisi. Mungkin karena itu."
Bagaimanapun dia mengungkap harapan bahwa lewat Pekan Raya Buku Frankfurt, maka karya-karya Indonesia akan lebih dikenal pembaca buku global.

Biografi mantan Presiden B.J. Habibie menjadi salah satu yang ditampilkan Bentang Pustaka.
Â
Lewat buku digital
Bagi raksasa penerbit dan toko buku Gramedia, Pekan Raya Buku Frankfurt, FBF. bukanlah jalan untuk menuju pasar global.
Sejak dua tahun terakhir mereka sudah merintis upaya memperluas jangkauan ke luar Indonesia melalui buku digital, seperti dijelaskan Direktur Penerbitan dan Pendidikan Gramedia, Wandi S Brata.
"Sehingga kami serius memikirkan e-book kami (buku elektronik/digital). Kalau kami sendiri ingin 'going global' sesungguhnya pemain internasional lain tidak menjadi gantungan kami walau mungkin perlu sebagai mitra untuk bahasa lain yang tidak kami masuki."
Saat ini, tambah Wandi S. Brata, Gramedia sudah menerbitkan 13.600 judul buku elektronik.

Ada minat terhadap buku Indonesia, namun masih dalam tingkat penjelajahan, seperti pengalaman Balai Pustaka.
Â
Dan bagi Gramedia, tambah Wandi, kehadiran di FBF lebih untuk meningkatkan 'brand' mereka dan para penulis.
Sedangkan PT Bentang Pustaka -yang menerbitkan novel laris Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang sudah diterbitkan ke berbagai bahasa- Frankfurt tetap diperlukan untuk saling tukar menukar.
"Dalam beberapa pertemuan ketika datang untuk menjual right, kita melakukan hal yang sama. Jadi sekarang ada tukar menukar. Kalau dulu kan hanya satu arah saja," jelas Ketua Eksekutif PT Bentang Pustaka, Salman Faridi.
Dana penerjemahan
Salman mengakui bahwa Bahasa Indonesia belum sepopuler bahasa lainnya di Asia, misalnya Korea, Jepang atau Cina.
Dalam situasi itu, FBF merupakan ajang yang tepat untuk mengenalkan buku-buku karya Indonesia, apalagi sudah ada bantuan dana pemerintah untuk dana penerjemahan.
"Banyak penerbit mengusulkan dan diterima, jadi ada kemungkinan besar kita bisa mengenalkan penulis-penulis Indonesia di Frankfurt," tambah Salman.

Pekan Raya Buku Frankfurt menjadi ajang untuk membicarakan kesepakatan bisnis buku.
Â
Jelas tak mudah mengukur keberhasilan dari kehadiran Indonesia di Frankfurt Book Festival dalam upayanya untuk memasuki pasar dunia.
Namun Roger Parrit bisa menjadi salah buktinya.
Editor asal Swiss yang suka membaca puisi dari seluruh dunia ini sengaja datang khusus ke pekan buku di Frankfurt ini dan belum pernah membaca puisi tentang Indonesia.
Dan di Stan Nasional Indonesia dia mendapat saran yang membantu.
"Saya diberi nama, dan mungkin saya akan membeli buku Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo," katanya sambil membuka catatan untuk membaca nama kedua penyair terkenal Indonesia itu.











































