Pemerintah Australia menyelidiki pernyataan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS yang menerbitkan informasi tentang pejabat negara itu serta mendorong penyerangan terhadap mereka.
Kelompok yang mengaku terkait ISIS diduga mendapatkan dan menerbitkan data di internet, sebagian besar mengenai pejabat pertahanan Amerika Serikat.
Pemerintah Australia memastikan paling tidak delapan warganya termasuk dalam daftar itu, termasuk seorang anggota parlemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan daftar tersebut berisi nama sekitar 1.500 orang termasuk "paling tidak delapan warga Australia", katanya pada hari Kamis.
"Jika terdapat ancaman terhadap keamanan fisik Australia maka sudah pasti kami akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan orang-orang tersebut aman," kata Keenan.
Dalam sebuah pernyataan kepada BBC, Australian Federal Police (AFP) menyatakan mereka bekerja sama dengan badan-badan lain terkait pernyataan bagian peretas ISIS yang menempatkan tabel data pribadi pada media sosial.
"AFP menyadari pernyataan hari ini dari kelompok yang menamakan diri Bagian Peretasan Negara Islam," kata pernyataan itu.
(nwk/nwk)











































