
Seifeddine Rezgui diyakini mendapat bantuan senapan dan diantar ke lokasi untuk melakoni aksi penembakan.
Tersangka pelaku penembakan yang membunuh 38 orang di pantai dekat Kota Sousse, Tunisia, menerima bantuan untuk melakukan serangan itu, kata pejabat pemerintah Tunisia.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Mohamed Ali Aroui, mengatakan pihak berwenang "yakin" bahwa Seifeddine Rezgui dibantu oleh komplotannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan bahwa kepolisian sedang menginterogasi ayah Rezgui dan tiga teman sekamarnya, namun tidak mengatakan apakah mereka juga diduga terlibat dalam serangan itu.
Tetangga dan kerabat Rezgui di kota asalnya, Gaafour, menyampaikan keheranan mereka terhadap tindakannya.

Seifeddine Rezgui tewas di lokasi penembakan setelah baku tembak dengan aparat keamanan Tunisia.
Β
"Siapa yang bisa membayangkannya melakukan aksi kejam itu?" kata Ali Rezgui, paman tersangka, kepada Reuters.
"Mungkin dia berubah di tempatnya belajar, mungkin karena membaca sesuatu di internet. Kami tidak punya penjelasan," tambahnya.
Korban asal Inggris
Pada Minggu (28/06), BBC mengetahui bahwa setidaknya 30 korban meninggal berasal dari Inggris.
Seorang warga Belgia dan seorang warga Jerman sejauh ini telah diidentifikasi antara korban meninggal, kata kementerian kesehatan Tunisia.
Seorang korban dari Irlandia juga dikonfirmasi telah meninggal. Diduga juga terdapat sejumlah warga Tunisia yang terbunuh pada serangan itu.

Mayoritas korban meninggal dalam insiden penembakan di Kota Sousse berasal dari Inggris.
Β
Setidaknya 36 orang lainnya terluka, dengan beberapa menderita luka-luka parah.
Kepolisian Inggris mengatakan 16 anggotanya telah dikirim ke Tunisia dan ratusan lainnya bekerja menyelidiki kasus ini dari Inggris dalam penyelidikan anti-terorisme terbesar sejak pengeboman di London pada 2005.
Pemerintahan setempat mengumumkan langkah-langkah peningkatan keamanan setelah serangan yang kabarnya dilakukan oleh kelompok ISIS. Mereka mengatakan tentara akan dikerahkan di tempat-tempat wisata dan bahwa sekitar 80 masjid yang dituduh menghasut kekerasan akan ditutup dalam waktu seminggu.
Serangan pada Jumat itu adalah yang terburuk dalam sejarah Tunisia. Pada Maret, kelompok militan membunuh 22 orang, kebanyakan dari mereka wisatawan, di Museum Bardo di kota Tunis.











































