Francoise Hollande: Serangan di Pabrik Aksi Teroris

Francoise Hollande: Serangan di Pabrik Aksi Teroris

Gagah Wijoseno, BBC World - detikNews
Jumat, 26 Jun 2015 22:12 WIB
Jakarta -

Presiden Prancis Francois Hollande menyatakan bahwa serangan yang terjadi di sebuah pabrik di dekat kota Lyon merupakan "serangan teroris; tak diragukan lagi."

Ia juga memastikan bahwa satu orang tewas akibat serangan itu dan dua orang terluka.

Hollande menyatakan bahwa "tubuh manusia ditemukan terpenggal dan ada tulisan di atasnya."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Serangan itu dilakukan dari dalam kendaraan yang dikendarai satu orang, mungkin ditemani oleh seorang lagi. Kendaraan itu melaju dengan kecepatan tinggi ke lokasi, di sana terdapat banyak tabung gas."

Hollande mempersingkat kunjungannya di Brussels dan dijadwalkan akan kembali ke Prancis Jumat sore waktu setempat (26/06).

serangan lyon

Petugas kepolisian memerika tempat kejadian perkara di mana tubuh yang terpenggal ditemukan.

Β 

Β 

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve menyatakan identitas tersangka belum bisa dipastikan.

Namun ia mengatakan kepada wartawan bahwa tersangka itu mungkin Yacine Sali, seorang pria yang dikenali oleh polisi.

Tersangka ini sempat diawasi oleh pihak berwenang pada tahun 2006, tapi dihentikan pada tahun 2008.

polisi

Polisi di depan pabrik di Saint-Quentin-Fallavier, Prancis selatan.

Β 

Surat kabar setempat Dauphine Libere melaporkan penyerang kedua sudah ditangkap. Penangkapan terjadi di rumah tersangka di kota Saint-Quentin-Fallavier, tempat terjadinya penyerangan.

Tersangka kedua ini dipercaya mengendarai mobil bolak balik di sekitar pabrik sebelum serangan terjadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah serangan terjadi di sebuah pabrik di Saint-Quentin-Fallavier, dekat kota Lyon pagi ini.

Β 

Polisi telah menangkap seorang pelaku dan sedang menginterogasinya. Mereka juga menemukan bendera dengan tulisan Arab di lokasi penyerangan.

Pihak pemilik pabrik sudah mengeluarkan pernyataan yang memastikan bahwa korban tewas bukan karyawan mereka.

(gah/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads