Kepala biro intelijen AS mengatakan Cina merupakan "tersangka utama" di belakang aksi peretasan berskala besar yang mempengaruhi data jutaan pegawai pemerintah Amerika Serikat.
Kepala badan intelijen AS, James Clapper adalah pejabat tertinggi AS yang mengumumkan hal itu dan menuduh Beijing berada dalam aksi peretasan itu semenjak masalah ini munucl ke permukaan.
"Cina masih menjadi tersangka utama," kata Clapper di sebuah konferensi di Washingtong DC. Tetapi, lanjutnya, "AS masih melakukan penyelidikan lebih lanjut."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Kantor Manajemen Personel (OPM) AS telah mengonfirmasi pada awal Juni lalu bahwa hampir empat juta pegawai yang ada saat ini maupun di masa lalu terkena dampak pelanggaran ini.
Cina membantah
Pelanggaran ini berpotensi mempengaruhi semua badan federal, kata pejabat OPM.

Kepala badan intelijen AS, James Clapper adalah pejabat tertinggi AS yang mengumumkan hal itu dan menuduh Beijing berada dalam aksi peretasan itu semenjak masalah ini munucl ke permukaan.
Pernyataan yang menyebut Cina sebagai "tersangka utama" itu dibuat usai pertemuan tingkat tinggi Cina-AS yang membahas masalah "kode etik" terkait sistem keamanan internet.
Dalam pertemuan yang digelar di Washington, Menlu AS John Kerry mengatakan, kerjasama dengan Cina diperlukan untuk merancang "kode etik" persoalan tersebut. Perwakilan Cina disebutkan menyetujui hasil pertemuan.
Sejauh ini Cina membantah tuduhan AS dan menyebut tuduhan terkait peretasan itu "tidak bertanggung jawab."











































