
WikiLeaks mengemukakan bahwa aksi mata-mata AS dilakukan terhadap Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy dan Francois Hollande.
Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) memata-matai sejumlah presiden Prancis dalam kurun 2006 hingga 2012, sebagaimana dipaparkan situs pembocor rahasia pemerintahan, WikiLeaks.
Melalui berkas-berkas berjudul Espionnage Elysee yang secara harfiah bermakna spionase istana kepresidenan PrancisWikiLeaks mengemukakan bahwa aksi mata-mata AS dilakukan terhadap Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy dan Francois Hollande.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan satu dokumen lain dari 2011 menyiratkan bahwa Sarkozy bertekad melanjutkan perbincangan perdamaian antara Israel dan Palestina, mungkin tanpa keikutsertaan AS.
Dokumen-dokumen NSA yang dibocorkan WikiLeaks itu kini disebarluaskan koran Liberation di Prrancis serta situs penyelidikan Mediapart.
WikiLeaks juga menampilkan pesan dari pendirinya, Julian Assange, yang berbunyi: "Warga Prancis berhak mengetahui bahwa pemerintahan terpilih mereka menjadi korban pengintaian dari negara yang mereka anggap sekutu."
Belum jelas apakah dokumen-dokumen tersebut merupakan bagian dari data yang dicuri oleh mantan pegawai NSA Edward Snowden, kata koresponden keamanan BBC Gordon Corera.

Salah satu dokumen NSA yang dibocorkan WikiLeaks ialah pada 2012 ketika Hollande mendiskusikan kemungkinan Yunani akan keluar dari zona mata uang euro alias Eurozone.
Β
Prancis tahu kemampuan AS
Menanggapi dugaan kebocoran itu, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Ned Price mengatakan: "Kami tidak akan mengomentari tuduhan intelijen yang spesifik. Umumnya, kami tidak melakukan kegiatan pengawasan intelijen asing kecuali untuk tujuan keamanan nasional yang spesifik dan tervalidasi. Hal itu berlaku untuk warga biasa dan pemimpin dunia."
Ajudan presiden Prancis mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Francois Hollande akan mengadakan pertemuan dengan dewan pertahanan "untuk mengevaluasi sifat informasi yang diterbitkan oleh pers pada Selasa malam dan untuk menarik kesimpulan yang berguna".
Mantan menteri pertahanan dan urusan luar negeri Prancis, Michele Alliot-Marie, mengatakan kepada saluran televisi iTele TV bahwa Prancis telah lama tahu AS mampu mendengar percakapan.

Mantan menteri pertahanan dan urusan luar negeri Prancis, Michele Alliot-Marie, mengatakan kepada saluran televisi iTele TV bahwa Prancis telah lama tahu AS mampu mendengar percakapan.
Β
"Kami tidak naif, percakapan yang terjadi antara kementerian pertahanan dan presiden tidak dilakukan melalui telepon. Namun tetap saja hal ini berdampak pada hubungan kepercayaan antar sekutu," ujarnya.
Tudingan bahwa AS memata-matai presiden Prancis mengemuka dua tahun setelah NSA juga dituduh telah menyadap telepon seluler Kanselir Jerman, Angela Merkel.
Tuduhan itu muncul ketika Edward Snowden membocorkan dokumen mengenai pengawasan skala besar AS pada 2013.
Saat itu, Gedung Putih tidak langsung menyangkalnya, namun mengatakan telepon Merkel saat ini tidak disadap dan tidak akan lagi disadap.
Teman seharusnya tidak mematai
Dugaan mata-mata itu mengejutkan bagi publik Jerman, dengan Merkel mengatakan "teman-teman seharusnya tidak memata-matai".
Namun media Jerman kemudian melaporkan badan intelijen nasional Jerman telah memata-matai para pejabat tinggi Perancis dan markas Uni Eropa untuk AS.

Tudingan bahwa AS memata-matai presiden Prancis mengemuka dua tahun setelah NSA juga dituduh telah menyadap telepon seluler Kanselir Jerman Angela Merkel.
Β
Ada laporan yang mengatakan intelijen Jerman menguping pembicaraan telepon Menteri Luar Negeri AS John Kerry serta Hillary Clinton. Sumber anonim dari pemerintah Jerman mengatakan pendengaran pembicaraan itu dilakukan dengan tidak sengaja.
Awal bulan ini, Jerman menghentikan penyelidikan dugaan penyadapan telepon Merkel, mengatakan tidak ada cukup bukti untuk membawa tindakan hukum.
Pada 2013 media Brasil melaporkan bahwa dokumen NSA menunjukkan badan intelijen itu juga memata-matai Presiden Brasil Dilma Rousseff dan Presiden Enrique Pena Nieto dari Meksiko.
Meski awalnya marah, Presiden Rousseff kemudian mengambil langkah-langkah mendinginkan keadaan, mengatakan pemerintahan Obama tidak bertanggung jawab secara langsung.











































