
Korban pemerkosaan kini tidak hanya hamil, tapi juga diharuskan menjalani uji pemurnian di pengadilan masyarakat setempat.
Seorang perempuan yang menjadi korban pemerkosaan massal selama delapan bulan di Gujarat, India barat, kini tidak hanya hamil, tapi juga diharuskan menjalani "uji pemurnian" oleh pengadilan masyarakat setempat.
Perempuan 23 tahun yang pemalu dan lemah lembut itu yang harus menggunakan identitas anonim karena alasan hukum awalnya hidup bersama suami dan dua anaknya ketika diculik Juli lalu.
Dia kemudian diperkosa oleh lebih dari lima lelaki selama beberapa bulan.
Dia sekarang sudah hamil dan permohonan aborsinya ditolak oleh Pengadilan Tinggi Gujarat karena usia kandungannya yang sudah tua.
Kini dia tinggal di sebuah rumah dua kamar di Desa Devaliya, Gujarat, dan menghabiskan waktu dengan dua anaknya.
Mertuanya enggan menerima dirinya kembali. Namun, suaminya telah meninggalkan orang tuanya agar bisa bersama dia
Adapun kedua orang tua perempuan itu senang menyambutnya kembali, meski khawatir bahwa cucu yang akan dilahirkan akan berdampak buruk bagi keluarga mereka.
"Saya memiliki dua anak lain yang belum menikah. Bila dia melahirkan bayi itu dan menyimpannya maka tidak ada yang akan menikahi mereka," jelas ibu perempuan itu.
"Putra saya yang berusia 14 tahun akan diusir. Satu-satunya solusi adalah membuatnya melakukan chokha thavani viddhi (ritual pemurnian) dan apapun yang diputuskan masyarakat akan menjadi keputusan final.

Banyaknya kasus pemerkosaan di India yang justru menyudutkan kaum perempuan memicu beragam aksi protes.
Β
Ritual pemurnian
Ritual ini hanya dilakukan desa-desa Gujarat dalam komunitas Devipujak. Perempuan korban pemerkosaan juga termasuk dalam komunitas itu.
Mereka memiliki sistem kasta dan agama yang keras dan memiliki pengadilan masyarakat yang mengambil keputusan untuk berbagai masalah, termasuk perselingkuhan dan pemerkosaan.
Belum jelas apakah persidangan ini dibiarkan atau dikecam oleh otoritas setempat, namun mereka tidak pernah diusik oleh polisi.
Seorang tetua desa, Odhabhai Devipujak, menjelaskan bahwa ritual pemurnian atau purifikasi itu dilakukan oleh tantrik seorang pemuka agama yang mempraktikkan ilmu hitam dan percaya bahwa kekuatan gaib.
Dalam ritual ini, sang tantrik memberikan beberapa pertanyaan pada perempuan itu. Kejujuran jawabannya diperiksa ketika sang tantrik mengambil sejumput biji gandum dan menanyakan kepada perempuan itu apakah jumlah biji gandum itu genap atau ganjil.
Bila perempuan itu salah menjawab maka sang tantrik menganggap semua jawaban yang diberikan sebelumnya merupakan kebohongan.
Dia kemudian harus mengulang ritual itu dengan menaruh sebuah batu seberat 10 kilogram di atas kepalanya. Batu itu tetap di sana sampai si tantrik percaya bahwa dia menjawab dengan jujur.
"Kadang dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pemurnian karena orang sering berbohong pada awalnya namun Sang Dewi tentu mengetahui kebenarannya. Mereka juga akhirnya harus berkata jujur," kata tetua desa.
"Ketika perempuan itu sudah dimurnikan melalui ujian itu maka tidak ada yang bisa menuduhnya dan mengusirnya atau keluarganya. Namun bila dia gagal dan Sang Dewi mengatakan dia tidak murni, dia bisa dikucilkan oleh komunitasnya," katanya.

Sejumlah budaya daerah di India memiliki pengadilan masyarakat yang kewenangannya kerap tidak bisa diusik aparat hukum.
Β
Hanya perempuan
Sardarsinh Mori, kerabat keluarga korban, mengatakan ujian seperti itu hanya dilakukan pada perempuan.
"Bila seorang suami meragukan istrinya, atau seorang perempuan lajang dituduh berselingkuh, ritual purifikasi dilakukan untuk membebaskan mereka dari tuduhan-tuduhan itu. Bagi lelaki, pengadilan masyarakat memeriksa apakah mereka berbohong tapi tidak melakukan ritual purifikasi," jelasnya.
Suami korban ini, seorang penarik gerobak, mengatakan dia akan mendampinginya.
"Saya akan tetap bersamanya. Saya memiliki dua anak dan tidak bisa menikah lagi," katanya.
Sang korban mengatakan sebagian dari dirinya ingin menyimpan bayinya yang belum lahir itu. Namun, nasib ibu dan bayi tersebut berada di tangan 100-200 anggota komunitas yang terlibat dalam ritual purifikasi.
"Bila saya salah, Sang Dewi akan memberitahu mereka," katanya.











































