
Kunjungan Aung San Suu Kyi ke Cina tidak terbayangkan lima tahun lalu mengingat dia merupakan penerima penghargaan Nobel untuk perdamaian.
Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi Myanmar, bersiap menempuh perjalanan pertamanya ke Cina tatkala hubungan kedua negara berada dalam ketegangan.
Suu Kyi akan memulai kunjungan empat harinya pada Rabu (10/06), menurut partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).
Di Beijing, Suu Kyi dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping serta Perdana Menteri Li Keqiang, kata NLD.
Jurnalis BBC, Yuwen Wu, mengatakan kunjungan seperti ini tidak terbayangkan lima tahun lalu, khususnya karena Suu kyi menyandang status sebagai pejuang demokrasi dan hak asasi manusia serta penerima penghargaan Nobel untuk perdamaian.
Cina memandang penghargaan itu adalah hasil manipulasi "negara-negara Barat yang bermusuhan" lantaran Liu Xiaobo, seorang penulis yang dipandang pemerintah Cina sebagai pembangkang, mendapatkannya pada 2011.
Memanas
Hubungan antara Cina dan Myanmar memanas dalam beberapa tahun terakhir, antara lain karena adanya kekerasan dekat perbatasan kedua negara.
Dalam salah satu insiden, setidaknya lima orang di Provinsi Yunnan, di bagian selatan Cina meninggal pada Maret lalu ketika sebuah pesawat Myanmar menjatuhkan bom di lahan pertanian tebu guna memerangi pemberontak.
Cina menanggapi kejadian itu dengan mengirimkan pasukan patroli ke daerah perbatasan.

Llima orang di Provinsi Yunnan, di bagian selatan Cina meninggal pada Maret lalu ketika sebuah pesawat Myanmar menjatuhkan bom di lahan pertanian tebu guna memerangi pemberontak.
Β
Kemitraan Cina dan Myanmar pun tidak sedemikian erat sejak reformasi pada 2011 karena pemerintahan Presiden Thein Sein bersekutu erat dengan Amerika Serikat. Meski demikian, Cina terus membantu pengembangan proyek-proyek infrastruktur besar di Myanmar.
Kedatangan Aung San Suu Kyi ke Cina, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Jonah Fisher, di Yangon, menandakan bahwa Cina tidak lagi bisa mengabaikan potensi kekuatan politik Suu Kyi.
Sebagai ketua partai NLD, Suu Kyi diperkirakan akan memainkan peran kunci dalam pemilihan presiden Myanmar pada November ini, meskipun dia tampak tidak mungkin bisa mencalonkan diri untuk posisi tersebut.
Saat ini dia sedang berjuang untuk membatalkan salah satu pasal dalam konstitusi yang menghalangi dirinya untuk mendaftar sebagai kandidat presiden.











































