
Warga Bujumbura membawa simbol salib untuk menunjukkan netralitas
Presiden Burundi Pierre Nkurunziza mengatakan sudah kembali ke negaranya sehari setelah upaya kudeta.
Dalam pesan pada laman Twitter kepresidenan Burundi, Nkurunziza menulis, "Saya berterima kasih kepada tentara dan polisi atas patriotisme mereka. Selain itu, saya berterima kasih kepada warga Burundi atas kesabaran mereka."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Â
Jenderal Niyombare belum mengeluarkan pernyataan. Namun pada Kamis (14/05), salah seorang rekan Niyombare yang berupaya melancarkan kudeta, Jenderal Cyrille Ndayirukiye, mengatakan pemberontakan itu gagal.
"Kami menghadapi pasukan militer kuat yang mendukung sistem yang berkuasa," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Tanda-tanda pertempuran sengit terlihat di Kota Bujumbura.
Â
Pembakaran
Wartawan BBC di Burundi, Maud Jullien, mengatakan tentara dan polisi loyalis presiden telah menguasai bandara dan jalan-jalan utama Bujumbura, kota terbesar di Burundi.
Kepala staf militer, Jenderal Prime Niyongabe, mengatakan bahwa jumlah prajurit yang mendukung kudeta berkurang.
"Kami sudah mengambil kendali titik-titik penting di negara ini. Burundi adalah negara demokrasi. Militer tidak ikut campur urusan politik. Kami diharuskan mematuhi konstitusi," ujarnya.

Jalan-jalan utama di Bujumbura terlihat kosong, hanya diisi aparat yang berpatroli.
Â
Sebelumnya, terjadi bentrokan sengit kota itu, khususnya di kantor stasiun radio pemerintah RTNB.
Dua stasiun radio swasta lainnya telah tutup. Radio terpopuler di sana - Radio Publique Africaine - dibakar setelah menyiarkan pengumuman kudeta.
Ketegangan di Burundi berawal pada 26 April ketika Nkurunziza mengumumkan ingin kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk ketiga kalinya.

Nkurunziza berkeras mencalonkan dirinya sebagai presiden untuk kali ketiga dalam pemilu bulan depan.
Â
Pergolakan Burundi dimulai ketika presiden yang berumur 51 tahun itu mengumumkan pencalonan dirinya untuk pemilu bulan Juni.
Kubu oposisi mengatakan hal itu menentang konstitusi yang secara jelas menyebutkan presiden hanya dapat menjabat dua periode.
Nkurunziza mengatakan dirinya bisa menjabat untuk ketiga kalinya karena jabatan presiden pertamanya diberikan oleh parlemen pada tahun 2005 dan bukan merupakan hasil pemilu.
Awal bulan ini, mahkamah konstitusi Burundi mengesahkan penafsirannya.
Lebih dari 20 orang tewas dan puluhan ribu warga Burundi melarikan diri ke negara-negara tetangga sejak kerusuhan mulai.











































