
Insiden di perbatasan Arab Saudi merupakan pertempuran terbesar antara militer Saudi dan pemberontak Houthi.
Sebuah pernyataan militer yang dikutip kantor berita Saudi (SPA), mengatakan serangan itu terjadi di perbatasan selatan, dekat Kota Najran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, BBC belum mendapat pernyataan resmi dari kubu pemberontak Houthi terkait laporan pertempuran di perbatasan Saudi.
Para pemberontak Houthiyang menguasai sebagian besar Yaman utara, termasuk Ibu Kota Sanaatelah berperang melawan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi selama beberapa bulan.
Namun serangan pada Kamis (30/04) itu merupakan pertempuran besar pertama di wilayah Arab sejak serangan udara dimulai, akhir Maret lalu. Laporan Saudi mengatakan puluhan pemberontak tewas.
Dari sisi Saudi, serangan tersebut menambah korban tewas menjadi 14 orang selama lima minggu terakhir. Dua minggu lalu, PBB mengatakan 551 warga sipil telah tewas dalam konflik tersebut - sekitar setengah jumlah korban tewas yang diperkirakan pada saat itu.

Pemberontak Houthi masih menguasai sejumlah kawasan di Yaman, walau serangan udara Saudi telah dimulai sejak akhir Maret lalu.
Kelangkaan bahan bakar
Pada Kamis (30/04), lembaga World Food Programme (WFP) mengatakan mereka terpaksa harus menarik diri dari Provinsi al-Hudaydah setelah kehabisan bahan bakar di sana.Hal serupa dinyatakan oleh oleh Komite Internasional Palang Merah, yang mengatakan bahwa kurangnya bahan bakar - serta pembatasan impor mengakibatkan rumah sakit harus berjuang untuk memberikan perawatan yang memadai.
WFP telah meminta semua pihak yang terlibat dalam pertempuran untuk mengamankan koridor impor bahan bakar dan makanan.
Purnima Kashyap, direktur WFP di Yaman, mengatakan: "Ini adalah negara di mana setengah populasi mengalami rawan pangan, yang berarti bahwa banyak keluarga tidak tahu dari mana makanan mereka akan datang besok. Sangat penting bagi kami untuk terus membantu keluarga-keluarga ini dengan makanan."
(nrl/nrl)











































