
Presiden Armenia Serzh Sargsyan akan hadir dalam upacara yang digelar untuk memberikan penghormatan 10 abad agama kristen Armenia.
Deportasi massal warga Armenia pada 1915 masih menjadi isu yang sensitif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan tersebut masih berlanjut hingga kini dan menyebabkan hubungan kedua negara renggang.

Turki menolak menggunakan istilah "genosida" untuk peristiwa pembunuhan massa warga Armenia 1915.
Paus menyerukan pemulihan dan rekonsiliasi dalam sebuah pertemuan pekan lalu dengan delegasi dari gereja Armenia.
"Mari kita meminta pengampunan untuk cinta kebenaran dan keadilan, kita dapat memulihkan luka dan membawa perdamaian dan rekonsiliasi antara dua bangsa yang masih belum mencapai konsensus atas peristiwa yang menyedihkan ini," kata dia.
Armenia menandai 24 April 1915 sebagai awal pembunuhan massal. Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan belasungkawa kepada cucu warga Armenia yang tewas.Tetapi dia juga mengatakan tindakan Armenia untuk mengubah masalah tersebut menjadi "konflik politik" tidak dapat diterima.
(nwk/nwk)











































