
Presiden Brazil, Dilma Rousseff, mengumumkan paket rancangan undang-undang anti-korupsi menyusul unjuk rasa yang menuntutnya mundur.
Ia juga menyerukan persatuan nasional untuk melawan korupsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami adalah pemerintahan yang tak mentolerir korupsi dan memiliki tugas dan kewajiban untuk melawan pelanggaran hukum dan korupsi", katanya dalam peluncuran paket ini.
Posisi Rousseff sedang terhuyung-huyung akibat unjuk rasa besar-besaran yang terjadi di jalan-jalan di Brasil, Minggu 15 Maret, untuk menuntut aga ditempuh proses penuntutan mundurnya.
Popularitasnya menurun drastis hingga 13% menurut sebuah jajak yang diterbitkan Rabu 18 Maret 2015.
Skandal Petrobras

Unjuk rasa besar-besaran di Brasil, Minggu 15 Maret, diikuti sedikitnya 500.000 orang.
Kejaksaan Brazil menyatakan bahwa Petrobras -yang merupakan perusahaan minyak milik negara Brasil- memberi kontrak yang sudah digelembungkan nilainya kepada beberapa perusahaan konstruksi terbesar selama 10 tahun terakhir.
Diduga kuat, kontrak itulah yang digunakan untuk menyalurkan uang suap kepada para pejabat Petrobras serta para politisi.
Akibat dari skandal ini, sekitar lima puluh politisi yang kebanyakannya adalah rekan Roussef di Kongres serta pemimpin partainya, Partai Buruh, sedang diselidiki oleh Kejaksaan Brazil.
Rousseff sendiri tidak termasuk yang diselidiki dan Mahkamah Agung Brazil hari ini menolak permintaan pihak opsisi untuk melakukan penyelidikan terhadap dirinya.
Namun akibat dari skandal ini, popularitas presiden berumur 67 tahun ini menurun drastis. Dia merupakan pimpinan Petrobras ketika dugaan korupsi itu terjadi.
(nwk/nwk)











































