Di antaranya terdapat foto orang-orang tidak pernah dituntut pidana, atau orang yang dibebaskan dari hukuman, yang diunggah tanpa persetujuan Kementerian Dalam Negeri, lapor Newsnight.
Foto "ratusan ribu" orang yang tidak bersalah mungkin berada dalam database itu, kata seorang penyelidik independen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komisaris Biometric Alastair MacGregor QC mengatakan ia prihatin dengan implikasi dari sistem tersebut terhadap privasi dan kebebasan sipil.
Ia mengatakan kepada Newsnight bahwa kepolisian telah mulai menyiapkan basis data yang dapat dicari berisi foto-foto wajah yang diambil polisi tahun lalu, tanpa memberitahu dirinya ataupun Kementerian Dalam Negeri.
Hampir setiap satuan kepolisian di Inggris dan Wales kini telah menggunggah foto ke basis data tersebut, katanya.
Hal itu dilakukan padahalpada tahun 2012 ada dua orang yang membawa Kepolisian London ke Pengadilan Tinggi untuk memaksa agar foto kedua orang tersebut dihapus dari basis data.
Para hakim memperingatkan bahwa kepolisian harus merevisi kebijakan mereka dalam "beberapa bulan, bukan tahun".
MacGregor mengatakan polisi telah diperingatkan untuk membuat aturan mengenai penggunaan foto wajah yang diambil polisi namun mereka belum melakukannya.
Ia mengakui pentingnya basis data itu bagi polisi, namun memperingatkan bahwa para perwira tinggi telah mengambil langkah terlalu terburu-buru tanpa mempertimbangkan semua dampak yang mungkin timbul.
"Saya pikir selalu ada bahaya bahwa bila anda melakukan sesuatu hanya karena anda bisa melakukannya, maka teknologi akan mengambil alih... tanpa memberikan perhatian terhadap hal-hal lain yang timbul sehubungan dengan itu secara seharusnya."
MacGregor mengatakan ia juga memiliki kekhawatiran tentang keandalan teknologi pengenalan wajah.
"Jika perangkat lunak pengenalan wajah menunjukkan kecocokan yang tidak tepat, salah satu akibatnya adalah penyelidikan akan berjalan ke arah yang salah," tambahnya.
Sejumlah pasukan polisi telah mulai menggunakan teknologi pengenalan wajah - termasuk Kepolisian Metropolitan dan Polisi Leicestershire.
Teknologi ini juga sudah digunakan oleh agen mata-mata Inggris dan polisi perbatasan di bandara dan pelabuhan Inggris.
Polisi Leicestershire mengatakan sistem pengenalan wajah yang mereka gunakan sejak tahun lalu telah terbukti sangat berharga.
Andy Ramsay, manajer identifikasi di Kepolisian Leicestershire, mengatakan kepada Newsnight pencarian basis data menggunakan pengenalan wajah 100% dapat diandalkan dalam kasus di mana terdapat gambar yang jelas, dan dapat diselesaikan dalam hitungan detik.
Ramsay mengatakan pengenalan wajah bisa segera menjadi petunjuk yang lebih penting untuk polisi dibandingkan DNA atau sidik jari.
"Ketiganya memiliki manfaat. Hal ini sedang berkembang. Ini akan menjadi, saya kira, cara yang paling efektif untuk menemukan penjahat."
Mike Barton dari Asosiasi Kepala Kepolisian, mengatakan bahwa mereka harus tetap up-to-date dengan teknologi baru.
"Semua orang sangat ingin agar polisi memasuki dunia maya," katanya.
"Saya mendengar banyak kritik pada kepolisian bahwa kami kurang cekatan, dan sekarang saya terkejut bahwa ditegur karena justru berada selangkah di depan."
Betapapun, katanya, dika diputuskan bahwa penggunaan foto- foto itu dibatasi, ia akan mematuhinya."
Namun, penggunaan sistem ini telah dikritik oleh beberapa anggota parlemen.
Menteri Kabinet dari partai Liberal Demokrat, David Laws, mengatakan, "Saya sama prihatinnya bahwaq basis data ini bisa mencakup gambar individu yang tidak pernah melakukan pelanggaran hukum," katanya.
David Davis, mantan Menteri Dalam Negeri Bayangan dari Partai Konservativ mengatakan, "ada pola pikir yang cacat di sini.
"Anda tidak bisa memperlakukan orang yang tak bersalah dengan cara yang sama anda memperlakukan orang yang bersalah."
(nwk/nwk)











































