PBB mengatakan enam warga lokal pekerja bantuan kemanusiaan di Sudan Selatan tewas dibunuh dalam waktu dua hari.
Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB di Sudan Selatan, Toby Lanzer, mengatakan kepada BBC bahwa para korban menjadi sasaran karena mereka berasal dari suku Nuer, yang sama dengan mantan wakil presiden yang kini memberontak.
PBB sudah mengeluarkan pernyataan mengecam pembunuhan yang diduga dilakukan oleh pasukan bersenjata di Maban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maban merupakan tempat penampungan yang dihuni puluhan ribu pengungsi dari negara tetangga, Sudan, serta ribuan warga Sudan Selatan.
Perundingan damai anara pemerintah Sudan Selatan dengan para pembeorntak sudah dimulai kembali di Ethiopia, Senin 4 Agustus, namun hingga saat ini belum tercapai terobosan.
Terakhir kalinya Presiden Sudan Selatan, Salba Kiir, berunding dengan pemimpin pemberontak, Riek Mache, pada bulan Juni tanpa mencapai kesepakatan.
Konflik di Sudan Selatan -yang merdeka pada tahun 2011- marak setelah Kiir menuduh Machar -yang menjabat wakil presiden sebelum dipecat- menggalang komplotan untuk melakukan kudeta.
Machar membantah tuduhan itu namun kemudian memimpin tentara yang memberontak untuk berperang melawan pemerintah.
(nwk/nwk)











































