Puluhan Demonstran Turki Ditahan di Tengah Aksi Diam

Puluhan Demonstran Turki Ditahan di Tengah Aksi Diam

BBCIndonesia.com - detikNews
Selasa, 18 Jun 2013 20:10 WIB
Indonesia - BBC -

Polisi di Turki menahan puluhan orang terkait demonstrasi antipemerintah di tengah langkah pengunjuk rasa yang menemukan cara baru dengan aksi berdiri dan diam.

Banyak di antara mereka yang ditahan, dituduh mengorganisir unjuk rasa yang diwarnai kekerasan.

Hinggar hari ini, Selasa 18 Juni, polisi masih terus menggrebek sejumlah tempat di Istanbul dan ibukota Ankara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, seorang seniman Turki mengorganisir cara baru protes dengan berdiri dan diam di Lapangan Taksim Istanbul setelah pasukan pemerintah mengusir para demonstran.

Erdem Gunduz berdiri dan diam selama delapan jam, dengan menghadapi foto Kemal Ataturk, pendiri Turki modern dan sekuler.

Ratusan orang bergabung dengan Gunduz di lapangan itu sebelum dibubarkan polisi Selasa (18/06) dini hari.

Gunduz mengatakan kepada BBC bahwa ia ingin melakukan langkah simbolis itu dan sepuluh orang yang bergabung dengan Gunduz serta menolak pergi ditahan oleh polisi.

Aksi perlawanan dengan diam

"Banyak sekali anak-anak muda di jalan-jalan," kata Gunduz.

"Saya bukan siapa-siapa...Gagasan ini penting..Inilah aksi perlawanan dengan diam. Saya harap orang akan mulai berpikir apa yang sebenarnya terjadi?"

Aksi protesnya ini menjadi inspirasi gerakan demonstrasi di Turki.

Dan di media sosial, Twitter, hash tag duranadam (yang artinya pria yang berdiri) mendominasi para pengguna Twitter berbahasa Turki, Selasa pagi (18/06).

Protes yang dilakukan Gunduz berbeda dengan aksi yang berakhir dengan bentrokan dalam beberapa minggu terakhir.

Sekitar 5.000 orang luka-luka dan paling tidak empat meninggal.

Hari Senin (17/06) dua serikat buruh utama Turki menyerukan pemogokan nasional sebagai protes atas langkah keras polisi terhadap pengunjuk rasa.

Unjuk rasa di Turki dimulai tanggal 28 Mei lalu menentang rencana pengembangan Taman Gezi di Istanbul namun kemudian berkembang menjadi aksi menentang pemerintah setelah aparat menangani demonstran dengan kekerasan.

(bbc/bbc)


Berita Terkait