Sekitar 80 Orang Rohingya & Bangladesh Hilang dalam Kecelakaan Perahu

Sekitar 80 Orang Rohingya & Bangladesh Hilang dalam Kecelakaan Perahu

BBCIndonesia.com - detikNews
Rabu, 07 Nov 2012 18:59 WIB
Indonesia - BBC -

Warga Rohingya

Banyak warga Rohingya menggunakan jalur laut untuk menuju Malaysia maupun Thailand.

Sekitar 80 pendatang gelap asal Bangladesh dan Rohingya dari Burma hilang setelah perahu yang membawa mereka tenggelam di lepas pantai Bangladesh tenggara, Rabu 7 November.

Seorang petugas penjaga pantai Bangladesh menjelaskan kepada BBC bahwa sekitar 11 penumpang berhasil diselamatkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diperkirakan perahu itu tenggelam ketika sedang berupaya menolong seorang penumpang yang terjatuh ke laut.

"Perahu sedang berupaya menolong seorang penumpang yang jatuh dan kemudian kehilangan kendali sehingga tenggelam. Kemungkinan kedalaman laut di lokasi kecelakaan di Teluk Bengali lebih dari 25 kaki (sekitar delapan meter) atau lebih," tutur Letnan Kolonel Zahid Hasan.

Kapal tersebut membawa sekitar 100 warga Bangladesh dan Rohingya yang ingin memasuki Malaysia tanpa izin dan dokumen resmi, seperti dilaporkan wartawan BBC, Anbarasan Ethirajan, dari ibukota Bangladesh, Dhaka.

Bukan yang pertama

Petugas penjaga pantai dan Angkatan Laut Bangladesh masih meneruskan pencarian korban yang mungkin masih selamat.

Insiden terbaru ini terjadi hanya 10 hari setelah tenggelamnya perahu yang membawa sekitar 100 penumpang di kawasan yang sama.

Kecelakaan perahu bukan hal yang jarang terjadi di Bangladesh karena membawa pengungsi dalam jumlah yang melebihi kapasitas perahu.

Banyak warga Bangladesh maupun warga Rohingya -yang tidak diakui pemerintah Burma sebagai warganya- yang menggunakan jalur laut untuk mencari kerja di Malaysia, Thailand, hingga ke Australia.

Warga Rohingya yang sebagian besar beragama Islam menghadapi penindasan dari pemerintah Burma dan dianggap sebagai pendatang gelap.

Diperkirakan terdapat sekitar 800.000 orang Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan dan PBB menyebutnya sebagai kelompok minoritas yang paling menderita di dunia.

(bbc/bbc)


Berita Terkait