
AS menggunakan tujuh metode eksekusi berbeda
Kombinasi tiga jenis obat yang digunakan banyak negara bagian di AS dalam eksekusi pelaku kejahatan terkadang tidak selalu efektif karena dinilai menyakitkan. Apakah menggunakan metode baru akan membungkam kritik?
Pada 1 Agustus tahun ini, Ronald Smith seharusnya mati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan ini tidak terkait dengan kejahatan yang dilakukan Smith; tetapi metode yang akan digunakan negara bagian untuk mengakhiri hidupnya.
Perserikatan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU), yang membawa kasus ini, mengklaim bahwa protokol tiga-obat yang digunakan Montana dalam eksekusi dapat menyebabkan penderitaan yang tidak perlu.
Dirancang oleh ahli anestesi Stanley Deutsch sebagai cara yang "sangat manusiawi" untuk mengakhiri hidupnya, metode itu seharusnya bekerja dengan cepat dan tanpa rasa sakit.
Luka bakar kimia
Tetapi beberapa kasus terkini mengenai eksekusi dengan metode injeksi obat yang menyakitkan memicu perdebatan mengenai nilai metode ini.
Sejak digunakan di Texas pertama kali pada 1982, metode yang disebut koktail tiga obat itu, menjadi metode eksekusi standar di AS.
Obat pertama, barbiturat, mematikan sistem syaraf pusat, dan membuat narapidana tidak sadarkan diri.
Obat kedua melumpuhkan otot dan menghentikan pernafasan narapidana. Yang ketiga, potasium klorida, menghentikan detak jantung.
Metode ini dinyatakan sebagai pengganti yang lebih manusiawi untuk gas mematikan dan kursi listrik.
Tapi para kritikus merasa skeptis.
"Tidak mungkin untuk dapat mengerti apa yang dilakukan obat ini pada manusia," kata Deborah Denno, profesor hukum dari Universitas Fordham di New York.
"Mereka mungkin saja tidak sadarkan diri [oleh obat pertama] untuk berteriak, atau mereka kesakitan, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa karena syaraf dikunci oleh obat kedua."
Eksekusi gagal

Setelah dua jam, eksekusi terhadap Rommel Broom dihentikan
Eksekusi Angel Diaz di Florida pada 14 Desember 2006 memakan watu 34 menit, dan injeksi ulang untuk menyelesaikannya.
Para saksi eksekusi melaporkan Diaz "tersengal-sengal" dan "wajahnya menahan sakit" selama prosedur itu.
Otopsi kemudian menemukan adanya luka bakar kimia di kedua lengan Diaz, dimana jarum disuntikkan ke dalam urat nadi dan jaringan tipis.
Jeb Bush, gubernur Florida saat itu, untuk sementara menunda semua eksekusi di hari berikutnya.
Berdasarkan laporan, narapidana itu kemungkinan meninggal dunia dari "sesak nafas" yang disebabkan oleh obat pengunci syaraf, dan ia mungkin mengalami "sensasi terbakar akibat potasium."
Tim pengacara dan pakar kesehatan yang menulis laporan itu menyimpulkan, "Pandangan konvensional mengenai injeksi mematikan dapat membuat proses kematian damai dan tanpa rasa sakit, kini dipertanyakan."
Pada 2009, setelah dua jam berusaha mengeksekusi Rommel Broom dengan koktail tiga obat, Ohio menjadi negara bagian pertama yang mengubah prosedurnya dari dosis tunggal menjadi anestesi.
Tim eksekusi kesulitan menemukan nadi yang tepat untuk menyuntikkan obat itu. Setelah 18 suntikan, ia dikembalikan ke sel dan belum dieksekusi ulang.
Setelah Ohio, negara bagian lain menyusul.
Meski 24 dari 33 negara bagian AS yang menerapkan hukuman mati masih menggunakan protokol tiga obat, lima negara bagian kini menggunakan metode obat tunggal, dan empat lainnya mengumumkan niat mereka untuk beralih pada injeksi satu obat mematikan.
"Dalam dua tahun terakhir, kita telah melihat banyak perubahan dalam protokol obat sepanjang sejarah injeksi mematikan," kata Prof. Denno.
Negara-negara bagian yang mengubah metode mereka menolak menjelaskan alasannya.
(bbc/bbc)











































