Cina Bangun Kota Hantu di Angola

Cina Bangun Kota Hantu di Angola

- detikNews
Selasa, 03 Jul 2012 15:58 WIB
Indonesia - BBC -

Luanda


Ibukota Angola Luanda disesaki jutaan orang yang tinggal di pemukiman kumuh.

Fenomena kota hantu yang banyak tersebar di Cina, Irlandia dan Spanyol kini mulai merambah benua hitam, Afrika, tepatnya di Angola.

Kota hantu yang dimaksud adalah pembangunan kawasan baru lengkap dengan bangunan dan infrastrukturnya namun sepi peminat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota hantu Angola itu adalah Nova Cidade de Kilamba yang terletak sekitar 30km dari ibukota Luanda.

Kota ini adalah benar-benar sebuah kota yang dibangun dari nol dan kini memiliki 750 unit apartemen berlantai delapan, puluhan sekolah, 100 unit toko, stadion dan infrastruktur lainnya.

Dirancang untuk menampung 500.000 orang, Kilamba dibangun China International Trust and Investment Corporation (CITIC) selama tiga tahun yang menghabiskan biaya sebesar US$3,5 miliar atau hampir Rp33 triliun.

Pembangunan ini seluruhnya dibiayai uang pemerintah Cina yang harus dikembalikan Angola dalam bentuk minyak mentah.

Kota seluas 5.000 hektar ini merupakan proyek terbesar dari pembangunan kota-kota satelit di sekitar Luanda yang dibangun perusahaan-perusahaan Cina.

Pembangunan kota Kilamba ini juga diyakini sebagai salah satu mega proyek terbesar di Afrika.

Kini kota yang disebut sebagai permata Angola pasca perang ini menjadi bintang dalam iklan-iklan promosi pemerintah Angola.

Dalam iklan itu mempertontonkan keluarga-keluarga Angola yang berbahagia, menikmati gaya hidup baru yang jauh dari debu dan hiruk pikuk Luanda yang dipadati jutaan orang yang tinggal di permukiman-permukiman kumuh.

Tapi orang-orang dalam iklan itu hanyalah aktor, dan di balik semua aktivitas yang dipertontonkan, kenyataan di lapangan tak seindah dalam promosi.

Kota Kilamba kosong melompong, salah satu buktinya adalah dari 2.800 unit apartemen yang ditawarkan hanya 220 unit yang terjual sejauh ini.


Kota hantu



Kilamba


Sebagian besar warga Angola tak mampu membeli apartemen di kota Kilamba

Jika Anda berkesempatan mengunjungi Kilamba, maka Anda akan keheranan karena sepertiga dari pemilik unit-unit apartemen yang terjual belum kunjung pindah ke kota baru itu.

Kota itu sangat sepi, hingga Anda bisa mendengar suara-suara dari dalam gedung atau benda jatuh di jalanan.

Hampir tak ada mobil melintas dan bahkan lebih sedikit lagi manusia berlalu lalang. Hanya barisan bangunan apartemen berwarna warni dengan pintu tertutup dan balkon kosong menghiasi tepian jalan.

Hanya sedikit toko-toko yang sudah berpenghuni, itupun sebagian besar adalah toko-toko peralatan rumah tangga. Hanya ada satu pusat perbelanjaan yang terlihat di salah satu sudut kota.

Setelah mengemudi selama 15 menit dan tak bertemu siapapun selain para pekerja Cina, wartawan BBC Louise Redvers menemukan sedikit kehidupan di sebuah sekolah.

Sekolah itu dibuka enam bulan lalu, dipenuhi siswa dari sekitar Kilamba karena tak ada anak-anak yang tinggal di dalam kota baru itu.

Salah satu pelajar, Sebastian Antonio, 17, menghabiskan hampir tiga jam menembus kemacetan dari kediamannya yang berjarak 15km dari sekolah.

Namun, Sebastian mengatakan dia sangat menyukai suasana kota Kilamba.

"Saya sangat menyukai tempat ini. Kota ini memiliki tempat parkir, lapangan sepakbola, lapangan basket dan bola tangan," kata Sebastian.

"Kota ini juga sangat tenang, dibanding kota lain dan tidak ada kriminal," lanjut dia.

Tetapi saat ditanya apakah dia dan keluarganya akan pindah ke Kilamba, Sebastian hanya tertawa.

"Tidak, kami tak cukup mampu. Tidak mungkin. Dan tidak ada pekerjaan untuk orang tua saya di sini," lanjut dia.

Perasaan yang sama juga dikemukakan Jack francisco, 32, yang bekerja menjadi penyapu jalan Kilamba sejak empat bulan lalu.

"Ya kota ini sangat menyenangkan," ujarnya.

"Tetapi untuk tinggal di sini, Anda membutuhkan banyak uang. Orang-orang seperti kami tak memiliki uang untuk tinggal di sini," tambah dia.


Terlalu mahal



Masalah utama adalah harga apartemen-apartemen yang ditawarkan di Kilamba berkisar antara US$120.000 hingga US$200.000.

Harga itu tentu jauh di atas kemampuan sebagian besar rakyat Angola yang berpendapatan kurang dari Rp20.000 per harinya.

Meski demikian Direktur Umum Delta Imobiliaria, agen perumahan yang menangani penjualan apartemen Kilamba, Paulo Cascao kepada BBC mengatakan masalah utamanya bukan soal harga namun sulitnya memperoleh pinjaman bank.

"Harga yang ditawarkan sudah tepat sesuai dengan kualitas dan kondisi yang ditawarkan kota ini," kata Cascao.

"Penjualan tidak terlalu cepat karena sulitnya mendapat pinjaman bank," tambah dia.

Sebuah skema baru terkait pinjaman bank baru saja diluncurkan di Angola. Namun, menyimpan uang dalam jumlah cukup sangat sulit bahkan bagi warga Angola yang memiliki penghasilan memadai.

"Pemerintah sebaiknya mulai memberikan prioritas untuk pembangunan rumah murah karena sebagian besar rakyat hidup di gubuk-gubuk tanpa air bersih, listrik atau sanitasi," kata Direktur Inisiatif Komunitas Terbuka untuk Afrika Selatan (OSISA) Elias Isaac.

"Tak ada kelas menengah di Angola. Yang ada hanya orang sangat miskin dan sangat kaya, sehingga tak ada yang bisa membeli rumah semacam itu," papar Isaac.

Menurut Cascao, pemerintah baru-baru ini mengumumkan sebagian apartemen di Kilamba akan digunakan untuk keperluan sosial.

Warga berpenghasilan rendah bisa menyewa apartemen dengan harga murah dan dalam jangka waktu yang panjang.

Tetapi tak seorangpun yang yakin seperti apa skema yang ditawarkan atau siapa saja yang bisa menyewa apartemen dengan harga murah.

Para kritikus menilai, kebijakan itu hanyalah sekadar untuk mendulang suara menjelang pemilihan anggota parlemen yang dijadwalkan digelar 31 Agustus mendatang.


Masih yakin



Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos


Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos menjanjikan satu juta rumah dalam empat tahun.

Meski sudah satu tahun diresmikan dan masih kosong melompong, pemerintah Angola masih yakin bahwa proyek pembangunan kota Kilamba ini akan menuai sukses.

Deputi Menteri urusan Konstruksi Manuel Clemente Junior mengatakan di Kilamba masih dimungkinkan mendapatkan apartemen seharga US$80.000, jauh lebih murah dari yang dipromosikan.

"Ini adalah proyek yang sempurna," ujar Clemente Junior penuh keyakinan.

Terkait kritik terisolasinya lokasi Kilamba, Clemente Junior hanya mengatakan kritik akan selalu ada dalam setiap langkah yang diambil pemerintah.

"Kami sedang membangun jalan raya. Jika jalan itu sudah selesai maka untuk mencapai Kilamba hanya butuh waktu 15-20 menit dari pusat kota Luanda," tambah dia.

Pembangunan kota Kilamba adalah proyek unggulan pemerintah yang digunakan untuk memenuhi janji Presiden Jose Eduardo dos Santos yaitu membangun satu juta rumah dalam waktu empat tahun.

Namun, jika apartemen-apartemen itu tak terjual, maka pemerintah Angola akan berpotensi dibebani investasi tak bermanfaat.


(bbc/bbc)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads