Mengapa Turis Ikuti Wisata Bencana?

Mengapa Turis Ikuti Wisata Bencana?

- detikNews
Selasa, 24 Apr 2012 16:07 WIB
Indonesia - BBC - Mengapa para turis gemar mengunjungi bekas lokasi pembunuhan massal, atau bencana kemanusiaan lainnya, akan menjadi kajian utama sebuah lembaga penelitian yang baru didirikan di Universitas Lancashire, Inggris.

Pusat kajian tentang wisata bencana ini merupakan yang pertama di dunia.

Para peneliti di lembaga itu mengatakan ingin mengetahui mengapa orang terdorong untuk mendatangi lokasi-lokasi seperti kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz atau Ground Zero, bekas lokasi menara kembar WTC New York.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pimpinan riset ini, Philip Stone mengatakan, para turis yang mengunjungi beberapa lokasi wisata bencana akan membuatnya merasa "menghadapi kematiannya sendiri".

Lembaga kajian itu, yang baru akan diperkenalkan pada Selasa lalu, berupaya melihat hubungan antara lokasi tujuan wisata yang mengerikan tersebut dan para wisatawan yang meluangkan waktunya untuk mendatanginya.

Philip Stone mengatakan, bekas lokasi gedung WTC di New York yang menjadi sasaran serangan 9/11, bekas kamp konsentrasi yang dibangun Nazi-Jerman, serta bekas instalasi nuklir yang bocor di Chernobyl, Ukraina, merupakan lokasi mengerikan yang menjadi tujuan wisata.

Para wisatawan yang mendatangi lokasi-lokasi seperti itu, menurut Stone, menyerupai tindakan "ziarah sekuler", yang membuat mereka merasa perlu mendatanginya.


Merasa lega

Lebih lanjut Stone mengatakan, penelitiannya menyimpulkan para pengunjung ke tempat itu ingin mencari makna di balik segala tindakan brutal, anti kemanusiaan, atau tragedi, yang terkait dengan lokasi wisata itu.

Menurutnya, pengunjung itu merasa berempati kepada para korban dan mencoba membayangkan motivasi si pelaku pembantaian.

Apabila sang wisatawan telah memperoleh jawabannya, dia akan merasa lega dan aman.

"Orang-orang itu merasa cemas sebelumnya, tetapi kemudian merasa lebih nyaman setelah meninggalkan lokasi itu, dan merasa gembira karena bencana itu tidak menimpa mereka," kata Stone, menganalisa.

Namun para wisatawan yang mengunjungi situs-situs seperti itu, masih menurut kesimpulan penelitian tersebut, hanyalah bagian dari liburan mereka dan bukan sebagai kunjungan khusus.

"Mereka misalnya hanya pergi ke situs Ground Zero, saat akhir kunjungan ke New York. Mereka tak ingin kunjungan ini akan menganggu sisa liburan mereka," jelas Stone.

"Tapi mereka tetap terdorong untuk mengunjunginya," katanya.

Meskipun demikian, para wisatawan itu tidak merasa nyaman apabila di dalam situs itu ditunjukkan adegan yang menyeramkan.

Di sinilah, menurut Stone, "kemasan" terhadap apa yang dialami para korban menjadi lebih penting, ketimbang penggambaran yang nyata atas peristiwa mengerikan tersebut.


(bbc/bbc)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads