
Saadi Gaddafi berada dalam tahanan rumah di Niger, Afrika Barat setelah kabur dari Libia.
Otoritas Meksiko mengatakan telah menghentikan rencana organisasi kriminal yang berniat untuk menyelundupkan putra mantan pemimpin Libia Kolonel Muammar Gaddafi ke negara tersebut.
Saadi Gaddafi menjalani tahanan rumah di negara Afrika Barat Niger sejak melarikan diri dari Libia pada September lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kaufman mengatakan kliennya "berterimakasih atas pemberian perlindungan oleh otoritas Niger" dan "akan terus menghormati sanksi PBB" terhadapnya sampai dicabut atau paspornya dikembalikan.
Pejabat Meksiko mengatakan rencana itu masuk ke dalam laporan intelejen.
Rencana itu juga meliputi pembelian sejumlah properti di Meksiko, termasuk sebuah resort yang berada di Puerto Vallarta, dengan menggunakan nama dan dokumen palsu.
Sejumlah orang telah ditahan berkaitan dengan rencana itu.
Rencana pelarian
Menteri Dalam Negeri Meksiko Alejandro Poire mengatakan rencana itu melibatkan kelompok kriminal yang berdimensi internasional, tetapi terbongkar pada September lalu.
Kelompok internasional melibatkan orang dari sejumlah negara, termasuk Meksiko, Denmark, dan Kanada, seperti disampaikan Poire dalam keterangan pers di Meksiko City.

Warga Tripoli melakukan aksi menolak senjata di ibukota Libia tersebut.
Pada 14 September lalu, delapan hari setelah rencana Meksiko terbongkar - Niger mengatakan Gaddafi, 38 tahun, tiba di ibukota, Niamey.
Dia dilaporkan akan terbang dengan menggunakan pesawat militer dari Kota Agadez, bagian utara negara itu.
Sejumlah orang ditahan pada 10 dan 11 November, termasuk diantaranya seorang perempuan Kanada bernama Cynthia Vanier.
Dia "yang menjadi kontak langsung dengan keluarga Gaddafi dan pemimpin kelompok, dan orang yang bertanggung jawab terhadap dana operasi," kata Poire.
Sementara itu, ribuan orang melancarkan protes di ibukota Libia, Tripoli, menentang mantan pemberontak yang membebaskan kota itu dari kekuasaan Kolonel Gaddafi.
Kekerasan terjadi di kota tersebut antara milisi dan saingannya.
Wartawan BBC di Tripoli, Caroline Hawley melaporkan sejumlah orang dewasa dan anak-anak membawa bendera dan meneriakan "tidak untuk senjata" dan plakat dengan tulisan "jangan tembak masa depan kami."
Sementara itu, pemerintah sementara menjanjikan seluruh kota akan bebas senjata.
(bbc/bbc)











































