
Militer dituding melakukan berbagai kasus kejahatan kemanusiaan di Suriah.
Perserikatan bangsa-bangsa akan mengirim sebuah misi kemanusiaan ke Suriah Sabtu (20/8) besok untuk melihat situasi disana setelah Damaskus menggunakan jalan kekerasan untuk melumpuhkan kelompok demonstran anti pemerintah.
Kepala kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan mengatakan Damaskus menjanjikan misi ini akan "mendapat akses penuh kemana pun".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesepakatan dengan pemerintah Suriah ini disetujui setelah Sekjen PBB Ban Ki-moon berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Bashar Al-Assad, Rabu (17/8).
Seorang juru bicara PBB mengatakan Presiden Suriah itu menjanjikan "tim (PBB) akan mendapat akses ke berbagai wilayah di Suriah".
Sebelumnya PBB sudah berkali-kali minta diberi jalan untuk masuknya tim kemanusiaan, namun selalu ditolak.
Kejahatan kemanusiaan
Dalam perkembangan berbeda, para penyelidik PBB hari Kamis juga menyimpulkan bahwa kekerasan di Suriah "bisa jadi mencapai skala kejahatan kemanusiaan".
Dalam sebuah laporan kepada Konsil HAM PBB, para penyelidik mengatakan DK PBB mestinya merujuk persoalan ini pada Mahkamah Kriminal Internasional.
Laporan sepanjang 22 halaman itu menyebut tentara, termasuk penembak jitu, menggunakan kekuatan mematikan terhadap warga sipil dalam upaya memberangus aksi protes anti pemerintah yang sudah beralngsung berbulan-bulan.
Menurut sejumlah kantor berita para penyelidik PBB antara lain menemukan fakta bahwa 26 orang ditutup matanya kemudian ditembak mati semasa ditahan pemerintah.
Dalam kasus lain tentara juga dituding menewaskan warga sipil yang luka dengan mengunci mereka hidup-hidup dalam lemari pendingin di ruang jenazah di rumah sakit, seperti ditulis kantor berita Reuters.
Para penyelidik ini tidak punya akses ke Suriah namun mendapatkan informasi tersebut dari wawancara dengan korban dan saksi kekerasan yang ada baik di Suriah maupun di negara tetangga.
Sementara pada Kamis kemarin juga, para pemimpin dari AS, Inggris, Prancis, Jerman dan negara Uni Eropa menyerukan agar Presiden Assad mundur.
Dalam sebuah pernyataan tertulis Presiden AS Barack Obama mengatakan: "Masa depan Suriah harus ditentukan oleh rakyatnya, tetapi Presiden Bashar al-Assad menjadi penghalang (terjadinya hal itu). Seruannya untuk dialog dan reformasi hanya janji kosong sementara dia memenjarakan, menyiksa, dan membunuhi rakyatnya."
(bbc/bbc)











































