Separuh Pria Eropa Saudara Raja Mesir

Separuh Pria Eropa Saudara Raja Mesir

- detikNews
Selasa, 02 Agu 2011 10:40 WIB
Indonesia - BBC -


Separuh pria Eropa diyakini memiliki profil DNA yang sama dengan Raja Tutankhamun.

Para pakar genetika Swiss meyakini setidaknya 70% pria Inggris dan separuh pria Eropa lainnya secara genetis terkait dengan raja Mesir Kuno, Tutankhamun.

Bagaimana kesimpulan ini bisa diperoleh?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para ilmuwan iGENEA, sebuah pusat riset ilmu genetika di Zurich, melakukan rekonstruksi profil DNA dari sang Firaun yang naik tahta pada usia sembilan tahun, DNA sang ayah Akhenaten dan kakeknya Amenhotep III.

Hasil dari rekosntruksi itu menunjukkan bahwa Raja Tutankhamun tergabung dalam sebuah kelompok profil genetika yang dikenal sebagai haplogroup R1b1a2.

Kelompok genetika ini sama dengan kelompok genetika lebih dari separuh pria di Eropa Barat.

Ini berarti Tutankhamun dan para pria Eropa Barat sangat mungkin berasal dari nenek moyang yang sama.


Satu nenek moyang



Uniknya, kata iGENEA, warga Mesir modern saat ini kurang dari satu persen yang tergabung dalam kelompok genetika ini.

"Sangat menarik menemukan fakta bahwa Raja Tut berada dalam kelompok genetika yang sama dengan orang Eropa. Ada banyak kemungkinan kelompok genetika di Mesir yang seharusnya bisa menjadi tempat DNA Raja Tut," kata Direktur iGENEA, Roman Scholz.

Sementara itu, sekitar 70% laki-laki Spanyol atau Prancis juga berada dalam kelompok genetika yang sama dengan Sang Firaun yang memerintah Mesir sekitar 3.000 tahun lalu itu.

"Kami berpendapat ada nenek moyang yang sama tinggal di Kaukasus sekitar 9.500 tahun lalu," kata Scholz kepada Reuters.

Fakta ini menumbuhkan dugaan bahwa migrasi haplogroup R1b1a2 ke Eropa dimulai bersamaan dengan munculnya pertanian sekitar tahun 7.000 SM.

Namun, para pakar genetika ini belum sampai pada kesimpulan bagaimana garis keturunan Tutankhamun bisa tiba di Mesir dari daerah asalnya.

Kini, iGENEA menggunakan rekonstruksi DNA itu untuk mencari keluarga terdekat Tutankhamun yang masih hidup saat ini.

"Rencana ini baru kami umumkan selama tiga hari, namun responnya sungguh luar biasa," kata Scholz.


(bbc/bbc)


Berita Terkait