Buruh Serukan agar Kepemilikan Media Murdoch Dibatasi

Buruh Serukan agar Kepemilikan Media Murdoch Dibatasi

- detikNews
Minggu, 17 Jul 2011 12:10 WIB
Indonesia - BBC - Rupert Murdoch


Murdoch melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan kerajaan bisnis medianya.

Pemimpin partai buruh di Inggris, Ed Miliband, menyerukan agar dibuat kebijakan membatasi kepemilikan media dengan tingkat konsentrasi yang "berbahaya" dari tangan raja media, Rupert Murdoch.

Murdoch dianggap punya kepemilikan saham dalam jumlah "tak sehat" yang bisa menggiring ke arah "penyalahgunaan", kata Miliband kepada koran Inggris, Observer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desakan itu muncul sebagai buntut dari dugaan berbagai praktek kotor oleh perusahaan media milik Murdoch, News International, dalam menjalankan usahanya.

Untuk kedua kalinya Murdoch memasang iklan permintaan maaf di media nasional Inggris dan mengatakan akan melakukan upaya-upaya mengoreksi kesalahan medianya.

Koran milik kelompok Murdoch, News of the World, ditutup karena dituding melakukan penyadapan telepon ilegal dari sumber beritanya.

Dengan penutupan itu News Corp masih memilik koran The Sun, The Times, The Sunday Times dan 39% saham dari perusahaan penyiaran BSkyB.

David Miliband mengatakan bahwa situasi ini harusnya membuat orang "menengok kembali keadaan dimana satu orang bisa menjadi pemilik 20% koran yang beredar di pasar, perusahaan penyiaran Sky serta stasiun televisi Sky News."

"Saya rasa sangat tidak sehat karena menempatkan kekuasaan di tangan satu orang, jelas menggiring ke arah penyalahgunaan dalam organisasinya," tambah Miliband.

Kepada koran Observer Miliband mengatakan aturan kepemilikan media yang sekarang ada sudah ketinggalan jaman, seperti "aturan zaman analog untuk zaman digital."


Mengembalikan kepercayaan



Minggu (17/7) ini, News International kembali memasang iklan di koran-koran nasional Inggris untuk meyakinkan bahwa kelompok media itu akan "mengoreksi tindakan yang salah agar jadi benar".

Koran-koran Inggris memberitakan News Corp


Berbagai gaya koran-koran Inggris memberitakan persoalan News Corp.

Didalamnya disebutkan akan dibentuk manajemen independen serta komite standar agar medianya bisa mencegah terjadinya situasi yang sama di masa mendatang.

News International juga menyatakan menunjuk firma hukum Olswang untuk melakukan penyelidikan sementara seorang mantan hakim pada pengadilan tinggi di Inggris ditunjuk menjadi pengawas penghitungan pemberian kompensasi terhadap para korban penyadapan teleponnya.

Sejauh ini sejumlah pesohor termasuk aktris Sienna Miller serta pengamat sepakbola Andy Gray, telah menerima uang ganti rugi yang disebut-sebut mencapai Pound 20 juta (sekitar Rp275 miliar).

Kubu Liberal Demokrat juga sudah menulis permintaan resmi kepada regulator penyiaran Inggris Ofcom, agar dilakukan penyelidikan apakah pemilik "pantas dan patut" menguasai

televisi BSkyB setelah berbagai tudingan penyalahgunaan kepada kelompok usaha media News Corp.


(bbc/bbc)


Berita Terkait