Pengacara: Vonis Ben Ali Sebuah Lelucon

Pengacara: Vonis Ben Ali Sebuah Lelucon

- detikNews
Selasa, 21 Jun 2011 07:34 WIB
Indonesia - BBC -


Zien el-Abidine Ben Ali dan istrinya kini berada di Arab Saudi sejak digulingkan.

Kuasa hukum mantan Presiden Tunisia, Zine al-Abidine Ben Ali menganggap vonis penjara 35 tahun yang dijatuhkan dalam sidang in-absentia itu tak lebih dari sebuah lelucon.

Selain dijatuhi hukuman penjara, pengadilan juga mengharuskan Ben Ali membayar denda sebesar US$66 juta atau sekitar Rp586 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya adalah kuasa hukum Presiden Ben Ali. Dan saya minta kepada pemerintah Tunisia agar saya diizinkan membela dia dan izin itu tak diberikan kepada saya," kata Akram Azouri, saat dihubungi BBC di Beirut, Lebanon.

"Jadi bagi saya ini (vonis) tak lebih dari sekadar lelucon. Ini adalah kelanjutan sebuah pengadilan politik, yang sudah direncanakan untuk diputuskan," kecamnya.

Pengadilan Tunisia menggelar sidang kasus korupsi Ben Ali secara in absentia karena mantan penguasa Tunisia itu kini berada di Arab Saudi.

Selain itu, Ben Ali juga diincar dalam dugaan pembunuhan, penyalahgunaan kekuasaan, penyelundupan artefak arkeologi dan pencucian uang.

Tak berhenti sampai di situ, Ben Ali juga diincar dalam kepemilikan senjata api dan obat-obatan terlarang yang kabarnya ditemukan di istana kepresidenan.

Saat itu, ditemukan obat-obatan terlarang -diyakini sebagai ganja- seberat hampir 2kg dan uang tunai senilai AS$27 juta atau sekitar Rp232 miliar.

"Jangan lupa bahwa obat-obatan terlarang dan uang ditemukan tiga bulan setelah presiden meninggalkan istana," kata Azouri.


Bantah semua tuduhan



Dalam sebuah pernyataan tertulis yang dibacakan kuasa hukumnya, Ben Ali membantah semua tudingan soal pemerintahan otokratik, korupsi dan pelanggaran HAM selama 23 tahun dia memerintah Tunisia.

"Dia ingin semua orang memahami bahwa tuduhan kriminal ini salah dan merupakan citra hukum yang memalukan," kata pernyataan itu.

"Ada tujuan tertentu di belakang proses pengadilan ini untuk mengalihkan perhatian warga Tunisia dari permasalahan lain," lanjut Ben Ali.

Semua pemerintahan baru, kata Ben Ali, selalu berkeinginan menyalahkan dan menumpahkan semua kegagalan kepada pendahulunya.

Pernyataan tertulis itu juga meminta agar warga Tunisia tidak melupakan jasa-jasa Ben Ali selama berkuasa.

"Dia berharap dari lubuk hati yang terdalam agar kondisi Tunisia segera kembali normal dan bisa melanjutkan langkahnya menuju modernisasi," kata sang pengacara membacakan surat Ben Ali.

Zine el-Abidine Ben Ali bersama istri dan keluarganya kini berada di Arab Saudi sejak terguling dari tampuk kekuasaannya.

Hingga kini pemerintah Arab Saudi belum menanggapi permintaan ekstradisi Ben Ali yang diajukan pemerintah Tunisia.


(bbc/bbc)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads