Pemerintah sementara Kirgistan telah meminta Rusia untuk mengirim pasukan guna membantu mengatasi kekerasan di kota terbesar kedua, Osh yang telah menewaskan lebih dari 60 orang."Kami memerlukan kehadiran pasukan bersenjata asing dari luar guna menenangkan situasi," kata pemimpin sementara Roza Otunbayeva dalam pidato televisi hari Sabtu.
Otunbayeva mengatakan pemerintah telah mengirim surat kepada Presiden Rusia Dmitry Medvedev guna menyampaikan permintaannya.
Dia menyebut keadaan di Osh "berada di luar kontrol".
Namun Rusia telah menyatakan tidak mempunyai rencana mengirim pasukan dalam waktu dekat tetapi akan mengirim bantuan kemanusiaan.
"Ini adalah masalah dalam negeri dan untuk saat ini Rusia tidak memandang perlu turut terlibat mencari pemecahan," kata juru bicara presiden, Natalya Timakova.
Pengungsi
Ribuan warga etnik Uzbek melarikan diri dari Osh pada saat pertempuran antara kelompok Kirgis dan Uzbek terus berlangsung.Sedikitnya 60 orang tewas dan sekitar 650 orang lainnya mengalami luka-luka dalam kekerasan terburuk sejak Presiden Kurmanvek Bakiyev digulingkan April lalu.
Kementerian kesehatan Kirgistan mengatakan korban luka-luka kekurangan makan dan perawatan.Wartawan BBC di perbatasan Uzbekistan dan Kirgistan Rayhan Demytrie melaporkan bahwa penjaga perbatasan mengizinkan warga masuk satu per satu ke wilayah Uzbekistan.
Para pengungsi mengatakan rumah-rumah mereka dibakar dan mereka tidak memiliki tempat berlindung. Mereka mengatakan ratusan etnik Uzbek masih terjebak di berbagai perkampungan di Osh.
Mereka mengaku orang-orang ditembaki dari arah kendaraan lapis baja yang membuka jalan bagi kelompok-kelompok bersenjata etnik Kirgis.
Sejumlah saksi mata mengatakan kepada BBC bahwa banyak orang ditembak mati tetapi situasi tidak memungkinkan untuk mengevakuasi jenazah.
Pihak berwenang memperluas pemberlakukan jam malam ke kota lainnya, Jalalabad.
Konflik serupa pernah terjadi pada 1990 yang menewaskan ratusan orang dalam bentrokan antara kelompok Kirgis dan Uzbek.
Baik Rusia maupun Amerika mempunyai pangkalan militer di Kirgistan.
(bbc/bbc)











































