Produktivitas hasil pertanian sangat erat kaitannya dengan baik atau tidaknya kualitas dan kuantitas air yang dialirkan melalui sistem irigasi. Volume air yang cukup dan kualitas air yang dialirkan juga sangat menentukan kuantitas dan kualitas hasil panen.
Namun sayang satu tahun lalu petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, harus menghadapi tantangan pencemaran saluran irigasi oleh sampah yang timbul dari aktivitas manusia. Banyak saluran irigasi terhambat oleh sampah mebel, kemasan produk, sisa hasil panen hingga limbah dari pemotongan ternak. Situasi ini merupakan efek dari minimnya kesadaran warga akan kebersihan dan pengolahan sampah. Sementara, hampir semua saluran irigasi di Kabupaten Bantul melalui daerah perkotaan dan pemukiman warga.
Sebagai langkah penyelamatan, Fakultas Teknik Pangan (FTP) Universitas Gadjah Mada bersama dengan Gabungan Persatuan Petani Pengguna Air (GP3A) mendeklarasikan Gerakan Irigasi Bersih Merti Tirta Amartani (GIB-MTA) di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gerakan ini dimaksudkan untuk mengedukasi dan menggerakkan peran serta warga dalam menciptakan lingkungan hidup yang bersih. Selain itu juga memastikan pasokan air irigasi ke lahan-lahan pertanian tepat waktu, tepat ruang, jumlah dan mutu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rangkaian acara dimulai dengan pembersihan massal saluran irigasi Bendung Tegal yang melibatkan sejumlah pihak seperti Gabungan Persatuan Petani Pengguna Air (GP3A), Satgas O&P Dinas SDA Bantul serta Kodim 0729/Bantul. Untuk semakin menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan pengolahan sampah, GIB-MTA bekerja sama dengan Komunitas Untuk Jogja (KUJ) mengadakan pelatihan pengolahan sampah plastik.
Selain itu, untuk memupuk gotong royong dan kebersamaan, juga diadakan perlombaan pembuatan penjor, kesenian dari janur. Hasil karya para peserta dinilai oleh tim juri dari Institut Kesenian Indonesia (ISI). Pada peringatan satu tahun GIB-MTA ini merupakan penyuluhan atau sosialisasi akan pentingnya hidup bersih dan sistem irigasi yang bersih tetap memperhatikan kearifan lokal yaitu pertunjukkan wayang kulit oleh Dalang Udareksa.
Berbagai manfaat nyata telah dirasakan oleh para petani Kabupaten Bantul dengan hadirnya GIB-MTA. Hal ini terbukti dengan keberhasilan GIB-MTA yang telah mengadakan kegiatan pembersihan saluran irigasi sebanyak 113 kali dengan melibatkan berbagai pihak seperti GP3A, anggota TNI dari Kodim Bantul dan Dinas SDA Bantul.
Melalui kegiatan tersebut, GIB-MTA berhasil membersihkan 57.182 meter saluran irigasi, yang terdiri dari saluran primer dan sekunder yang menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten dan Provinsi serta saluran tersier yang langsung mengalirkan air ke lahan petani.
Demi mewujudkan budaya cinta air dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan pertanian, pengurus GIB-MTA terus melakukan kerja sama secara luas dengan universitas dan LSM seperti ISI, UGM dan Komunitas Untuk Jogja (KUJ) untuk memberikan penyuluhan kepada warga. Sebagai hasilnya, pemahaman pentingnya air bersih, budaya hidup bersih dan budaya pertanian sedikit demi sedikit mulai terbangun. Hal ini terlihat dari meningkatnya peran serta warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan saluran irigasi.
Tak hanya itu, gerakan ini juga berhasil mendapat penilaian positif dari pemerintah daerah setempat. Kini pemerintah daerah memberikan perhatian lebih pada berbagai kegiatan yang dilakukan GIB-MTA dan memasukan kegiatan ini dalam rancangan kegiatan Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Bantul.
Pencapaian-pencapaian dalam satu tahun tersebut tidak membuat GIB-MTA berpuas diri. Kedepannya, GIB-MTA diharapkan dapat menjadi gerakan yang lebih luas dan mewujudkan βGerakan Irigasi Bersih dari Jogja untuk Indonesiaβ yang dicita-citakan, sehingga budaya hidup bersih dan irigasi bersih dapat terwujud di daerah-daerah lain.
(adv/adv)











































