Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) telah menunjuk Gatot Setyo Waluyo sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk menggantikan Budi Karya Sumadi yang telah berakhir masa jabatannya.
Gatot sebelumnya telah menempati posisi sebagai Direktur PT Jaya Real Property sejak 2004. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) ini merupakan rekomendasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Sementara mantan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk Budi Karya Sumadi mengakhiri masa jabatannya di Ancol dan telah mendapat amanat dari Pemprov DKI Jakarta untuk menduduki Direktur Utama PT Jakarta Propertindo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, laba bersih naik tajam menjadi Rp 178,15 miliar atau 10,02% lebih besar dibanding tahun 2011 yang mencapai Rp 161,92 miliar. Pencapaian ini membuat laba bersih per saham (EPS) naik dari Rp 101 per lembar pada 2011 menjadi Rp 111 pada tahun buku 2012.
Perseroan mengakui tidak mudah untuk meningkatkan pendapatan di tengah kian ketatnya persaingan usaha rekreasi dengan munculnya tempat-tempat rekreasi baru, “Namun berbagai inovasi dan pengembangan contents sepanjang 2012 telah memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan. Jumlah pengunjung Ancol Taman Impian masih terus tumbuh menjadi 15,849 juta orang atau naik 6%,” kata mantan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk, Budi Karya Sumadi, seusai Rapat Umum Pemegang Saham Terbuka (RUPST) perseroan, di Candi Bentar Putri Duyung Ancol, Kamis (30/5).
Berdasarkan data laporan keuangan, sepanjang 5 (lima) tahun terakhir ini pendapatan perseroan terus mengalami pertumbuhan secara signifikan dari hanya Rp 763,066 miliar pada 2007 menjadi Rp 1,053 triliun pada 2012 atau naik 38% lebih. Pada periode yang sama, laba bersih naik dari Rp 140,867 miliar menjadi Rp 178,151 miliar, atau meningkat sekitar 23%.
Dari sisi total aset, perseroan juga mengalami pertumbuhan yang pesat. Per 31 Desember 2012, total aset PJAA sudah mencapai Rp 2,38 triliun atau naik 37,49% dibandingkan 2011 yang sebesar Rp 1,737 triliun. Namun bersamaan dengan itu, total kewajiban juga naik dari Rp 557,81 miliar pada 2011 menjadi Rp 1,078 triliun di 2012.
Dari data juga terlihat, sektor rekreasi dan resor masih merupakan kontributor terbesar terhadap pendapatan PJAA. Pendapatan dari sektor rekreasi mencapai Rp 674,56 miliar, atau naik 8% dari tahun 2011 yang hanya Rp 627,027 miliar. Sedangkan pendapatan usaha segmen resor naik 31%, dari Rp 48,3 miliar pada 2011 menjadi Rp 63,112 miliar.
Sementara itu, meski naik dalam angka yang lebih besar (26%), pendapatan dari sektor properti 2012 baru mencapai Rp 292,121 miliar dibanding 2011 sebesar Rp 232,410 miliar. Performa kinerja segmen properti diperoleh dari penjualan segmen pasar ritel, melalui hadirnya beberapa proyek properti baru yang dibangun PJAA.
Dijelaskan, upaya pengembangan contents dan inovasi baru di segmen rekreasi yang dilakukan selama 2012 merupakan bagian dari rencana strategis perseroan hingga 2015. Upaya tersebut dilakukan dengan tujuan tercapainya pertumbuhan usaha perseroan yang suistainable dimana kinerja segmen usaha rekreasi bisa menjadi lebih memadai, baik dari jumlah pengunjung maupun pendapatan.
Prospek 2013
Pada 2013 ini, untuk segmen rekreasi dan resor, PJAA akan fokus kepada penyelesaian pembangunan Ancol Courtyard Marriot Hotel di kompleks Putri Duyung yang akan memiliki 310 kamar dan direncanakan soft opening pada pertengahan 2014, pengembangan Ecopark, indoor Dufan, serta revitalisasi Pasar Seni. Perseroan juga berencana melakukan kerjasama dalam pengembangan Taman Wisata Jurug di Solo, Jawa Tengah, Swan Lake Ragunan Jakarta Selatan, serta pengembangan Pantai Publik Marunda, Jakarta Utara.
“Kami akan fokus pada pengembangan untuk menunjang pertumbuhan yang berkesinambungan dan mentransformasi segmen usaha yang tidak memberikan kontribusi bagi kemajuan perseroan,” kata Gatot Setyo Waluyo selaku Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk yang baru.
Di sektor properti, upaya mengenjot pendapatan akan dilakukan dengan tetap melanjutkan proyek reklamasi dalam dalam rangka penambahan land bank perseroan, pembangunan hunian eksklusif Coasta Villa Beach Resort Living sebanyak 105 unit di atas lahan 27.491 m2, penyelesaian pembangunan apartemen North Land Ancol Residence, pembangunan kondominium dan town house Ancol Seafront di Ancol Barat, pembangunan Apartemen Ancol Barat, dan pembangunan kawasan perkantoran Ancol Office Park.
“Pembangunan ini sejalan dengan rencana PJAA menjadikan Ancol menjadi pusat bisnis, hiburan dan hunian baru di Jakarta,” ucap Gatot Setyo.
Selain segmen rekreasi dan properti, untuk meningkatkan pendapatannya PJAA juga akan melanjutkan pengembangan usaha baru dengan berbasis bisnis infrastruktur. Untuk 2013 ini, perseroan lewat anak perusahaannya PT Jaya Ancol Pratama akan melanjutkan keikusertaannya dalam pembangunan proyek Jalan Akses Tol Priok bersama PT Jakarta Propertindo melalui PT JATP (Jalan Akses Tol Priok), dan proyek pembangunan 6 ruas Jalan Tol Dalam Kota Jakarta melalui perusahaan kerjasama PT JTD.
“Kerjasama usaha ini merupakan bentuk komitmen kami untuk menciptakan sumber-sumber pendapatan baru untuk perseroan. Dan melalui berbagai upaya yang dilakukan, pendapatan perseroan diharapkan bisa tumbuh rata-rata 15% per tahun dalam 5 tahun ke depan,” tutur Gatot Setyo.
Kontribusi PJAA untuk PAD DKI Terus Meningkat
Meningkatnya kinerja perseroan juga mempengaruhi besarnya kontribusi PJAA untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta. Untuk 2012 ini, kontribusi perseroan terhadap PAD Jakarta mencapai Rp 129,212 miliar atau lebih besar dibanding tahun 2011 yang mencapai Rp 120,8 miliar.
Dari PAD sebesar Rp 129,212 miliar itu, Rp 77,372 miliar merupakan Pajak Daerah yang harus dibayarkan dan sisanya Rp 51,840 miliar dari deviden. “Pajak Daerah yang kita bayarkan terdiri dari PBB, PHI, dan PB 1,” katanya.
Kontribusi PJAA untuk PAD DKI Jakarta dalam 5 (lima) tahun terakhir terus meningkat. Pada 2007, kontribusi mencapai Rp 90,25 miliar dan meningkat menjadi Rp 100,9 miliar di 2008. Untuk tahun 2009 mencapai Rp 100,7 miliar, di 2010 Rp 113,2 miliar, dan Rp 120,8 miliar untuk 2011.
Dalam RUPS juga disepakati, dari earning per share (EPS) sebesar Rp 111 per lembar saham, akan dibagikan dalam bentuk deviden sebesar Rp 49,5 per lembar saham ke pada pemegang saham. Angka ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya dimana EPS perseroan mencapai Rp 101 per lembar dan deviden yang dibagikan hanya Rp 45 per lembar saham. (adv/adv)










































