"Pedoman RA Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang ingin ditiru untuk mengikis stigma bagi penyandang gangguan jiwa selama ini," kata pemerhati Art Brut Nawa Tunggal. Menurut Nawa Tunggal, stigma bagi penyandang gangguan jiwa selama ini dianggap sebagai orang gila atau sakit ingatan. Kemudian masyarakat menjauhkan diri dengan penyandang gangguan jiwa. Keluarga penyandang gangguan jiwa juga kerap masih memperkuat self stigma dengan merasa malu ketika memiliki anak atau saudara yang menyandang gangguan jiwa. Mengikis stigma dan kampanye peduli terhadap penyandang gangguan jiwa seperti skizofrenia dan bipolar masih perlu dikumandangkan terus-menerus.
Lewat kehadiran Kedai Art Brut yang berlokasi di Pasar Seni, kawasan wisata dan rekreasi terbesar di Indonesia ini mengajak pengunjung untuk melihat dan merasakan sentuhan karya seni rupa, khususnya dari kalangan masyarakat pengidap skizofrenia (gangguan mental).
Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk Budi Karya Sumadi sebagai pencetus dan pemrakarsa Kedai Art Brut Indonesia ini mengatakan, hal yang paling utama adalah menyediakan wadah untuk berkarya seni bagi penyandang gangguan mental kemudian karya yang dihasilkan haruslah bernilai jual (saleable).
"Kedai Art Brut Indonesia akan menjadi yang pertama kali di Ancol, mungkin juga di Jakarta dan Indonesia. Ini juga merupakan bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility) kami," kata Budi Karya.
Jaya Suprana seorang tokoh masyarakat yang juga hadir dalam kegiatan ini menyebut dirinya juga mengalami gangguan mental, tetapi tidak pernah pergi ke psikolog dan psikiater. Jaya Suprana menyembuhkan dirinya sendiri, di antaranya melalui kegiatan seni seperti bermain piano, hingga kini menjadikannya seorang pianis dan komposer andal di Tanah Air.
"Selama ini, para penyandang gangguan jiwa selalu dianggap sebagai penderita. Kemudian tidak diberi kesempatan di tengah masyarakat untuk berkarya," kata Jaya Suprana.
“Ancol melihat ada celah serta potensi bagi para penyandang penyakit tersebut untuk difasilitasi, diangkat, serta diwadahi dalam kegiatan positif seperti seni lukis sehingga masyarakat peduli terhadap mereka. Kami hanya memberikan stimulan serta tempat bagi komunitas kreatif seni dan budaya, sekaligus untuk memberi jawaban atas kebutuhan ruang bagi pelaku kreatif di bidang tersebut," tutup Budi Karya.
(adv/adv)











































