Lebih tepat di sini saya akan sebut PBNU dan semua tingkatannya sampai Pengurus Anak Ranting NU ditingkat paling bawah berbasis Desa adalah produk organisasional struktural dari proses institusionalisasi nilai nilai keagamaan Islam Aswaja.
Dan mengalami proses pribumisasi di bumi Nusantara, lebih spesifik lagi mengental di tanah Jawa. Pemeluknya sering disebut Nahdliyin. Oleh karena itu maka NU memiliki basis kulturalnya di Jawa dengan pesantren sebagai pranata sosial utamanya yang paling dominan.
Satu lagi basis NU yang paling besar adalah desa. Jadi bicara NU tidak bisa dilepaskan dari kata kunci Jawa, Desa, Pesantren, dan Islam Tradisional-klasik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dalam sejarah panjangnya lebih sedikit 1 abad ini, NU tidak hanya lahir dari konteks tunggal, sebagaimana di sebutkan di atas, namun juga makin terlibat dalam pertarungan gagasan kebangsaan dan Politik kekuasaan, realitas sosial ekonomi, serta isu isu modernitas. Akibatnya, NU mengalami transformasi dan mobilitas sosial keluar dari akar basis tradisional, tapi masih tetap menghujam kokoh.
Trajektori sejarah membuktikan bahwa NU sebagai ormas Islam dan pernah bergabung dengan partai politik bahkan mendirikan partai politik sendiri. Sebelumnya juga elit NU pernah membentuk suatu kelompok yang bergerak dalam aspek kebangsaan, gerakan pemikiran dan gerakan ekonomi-dagang.
Dengan demikian, maka simplikasi terhadap realitas NU secara sederhana atau mereduksi dengan pendekatan yang seragam dan mengabaikan pendekatan dan tafsir yang beragam, adalah hasil intelektualisasi yang kurang lengkap.
Spektrum dan horizon NU begitu mengcakrawala sehingga perlu melihatnya per variabel per penggalan sejarah dan akan lebih baik bila dipahami secara lebih komprehensif.
Hal yang tidak kalah penting dalam membaca NU struktural sebagaimana penjelasan di atas juga tidak bisa luput dari analisis kita terhadap siapa saja aktor-aktor yang melintasi perjalanan historisnya dari masa ke masa.
Aktor seringkali menjadi faktor determinan dalam menentukan arah, dinamika, dialektika bahkan kontroversi serta kontestasi yang mewarnai NU. Setiap era tentu memiliki warnanya dan ke'seru'annya sendiri.
Struktur dan Pranata Sosial NU
Kelahiran NU 1926, tidak terjadi begitu saja, namun melalui proses pergumulan ide dan gerakan dengan berbagai konteksnya baik lokal-domestik maupun global. Kata 'Nahdlah' dengan titik tekan huruf 'dhat' menjadi inspirasi dalam merumuskan kelembagaan dan struktural NU.
Dimulai dari pembentukan 'Nahdlatul Fikr' (Gerakan Pemikiran), 'Nahdlatul Wathon' (Gerakan Kebangsaan), dan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Ekonomi).
Kebangkitan kaum intelektual muslim dirasa sangat penting hadir di tengah kondisi masyarakat yang belum terpelajar, sementara penjajah Eropa membentuk koloni Indonesia dengan sistem pendidikan Barat yang sekuler.
Secara Ideologis, NU memiliki akar yang kokoh, yaitu berupa ide mendasar yang menjadi pedoman utama dalam pengarusutamaan gerakan dan perjuangan, yaitu tidak ada tafsir tunggal dalam pemahaman agama dan tidak ada keseragaman dalam implementasi paham keagamaan.
Moderasi menjadi karakteristik NU dalam berpikir, bersikap dan bertindak yang diformulasi dari warisan tradisi Islam Klasik Aswaja dan legacy para wali di Nusantara, khususnya di Jawa. Ideologi yang moderat itulah yang melahirkan Komite Hijaz yang menolak dan menegosiasikan tafsir Islam Tunggal Wahabisme di Tanah Haram, Saudi Arabia.
Begitu juga lahirnya patriotisme kebangsaan anti kolonialisme dalam berbagai ekspresinya, seperti doktrin 'Cinta Tanah Air adalah Bagian dari Iman', Hubbul wathon minal Iman, dan yang paling nyata terlihat dalam 'Resolusi Jihad'.
Institusionalisasi nilai-nilai tersebut terjadi di pesantren. Pesantren adalah institusi NU yang paling independen. Kyai dan santri secara fungsional melakukan transfer ilmu pengetahuan dan etika Islam yang mewariskan dari tradisi keilmuan klasik ke generasi keulamaan selanjutnya.
Pondok adalah tempat di mana keilmuan tersebut ditransmisi, mengadopsi keteladanan dan kemandirian. Pesantren tidak hanya dialog dan pertukaran pikiran secara kognitif dan epistemologi, tetapi juga media menanamkan nilai-nilai keteladanan, nilai-nilai etika praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Outcome pesantren adalah santri unggul yang siap bergumul dengan realitas kehidupan, siap berkompetisi dan memberi warna di setiap lokus dan lapangan profesi. kita bisa menyaksikan banyak aktor alumni pesantren bisa adaptif dan bahkan memberi spirit dan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat.
Bagi Kyai dan santri, nilai-nilai tersebut merupakan filosofi dalam beragama dan bernegara yang kemudian dirumuskan menjadi filsafat Republik oleh pendiri bangsa dan Pancasila sebagai titik temu keberagamaan Indonesia di bumi Nusantara.
Menurut saya, inilah warisan terbesar dan bersejarah dari NU terhadap tatanan kehidupan baru bagi Indonesia yang menjadi pondasi kokoh untuk keberlanjutan Indonesia di masa depan. Inilah politik kebangsaan dan kenegaraan yang senantiasa digaungkan oleh NU, meskipun makin ke sini dan makin ke depan terdengar agak asing, terdengar usang, terdengar abstrak, dan tidak relevan.
Era disrupsi ini, seakan ada yang berpandangan bahwa era ideologi sudah mati, dan digantikan dengan pragmatisme uang, politik kekuasaan, dan hedonisme-ketamakan. Tantangan NU adalah melestarikan visi dan misi tersebut atau justru terkecoh di persimpangan jalan karena tergoda oleh manisnya gula-gula duniawi.
Institusionalisasi nilai-nilai di atas pada tataran penataan struktural NU (PBNU sampai ke tingkatan yang paling bawah) yang menjadi tantangan yang lebih kompleks. Tantangan tersebut terkait dengan aspek materialistik (lawan dari Idealistik); terkait dengan SDM dalam mengelola organisasi, tata kelola, manajemen, perkantoran, biaya, dana dan sumber-sumber pembiayaan, dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap stabilitas sebuah struktur organisasi.
Tantangan eksternal tidak kalah sengitnya, baik itu pengaruh eksternal yang masuk maupun aktor Internal yang membawa pihak-pihak eksternal masuk. Tantangan internal dan dinamika eksternal inilah yang seringkali berpengaruh terhadap turbulensi NU, apalagi bila pilot mengalami goncangan pikiran dan psikologis karena 'diganggu' oleh penumpang yang panik.
Dinamika Aktor Setiap Muktamar
Menjelang dan selama muktamar, dinamika isu makin berkembang tajam baik terkait visi yang disampaikan para aktor kandidat maupun oleh tim pendukungnya. Setiap era ada aktornya, hanya ada satu aktor yang menemukan momentumnya.
Meskipun setiap aktor memiliki nilai dasar, ideologi, manhaj yang sama, namun dalam implementasinya, kepentingan dan gaya kepemimpinan bisa berbeda-beda, apalagi dihadapkan dengan dialektika eksternal yang juga tidak kalah besar pengaruhnya.
Oleh karena setiap muktamar selalu ada yang beda dan baru. Persoalannya adalah bagaimana dinamika itu tidak menghancurkan tatanan nilai dan tradisi NU.
Pengalaman panjang muktamar NU memberitahu kita bahwa dinamika yang meruncing menjadi konflik terbuka bahkan membelah organisasi sudah pernah terjadi. Dinamika NU dengan Masyumi, dinamika di era KH Idham Kholid di mana ada 3 bintang yang mewarnai Muktamar yaitu Subhan ZE, Zamroni, Mahbub Djunaedi; dinamika Gus Dur di Situbondo dan di Cipasung.
Begitu pula antara KH Hasyim Muzadi dan Gus Dur, Muktamar Makassar, Jombang, Lampung memiliki nuansa dinamika dan konflik yang khas dengan warna pernak pernik eksternalnya.
Beberapa muktamar belakangan ini, selalu ada nama 'pemain' Muktamar yang ikut berpengaruh untuk tidak menyebut sebagai penentu ritme, seperti Cak Imin, Gus Ipul, Nusron Wahid, dan beberapa nama lainnya.
Khusus Muktamar 2026; konflik justru terjadi lebih awal yang dipicu oleh pergeseran orang dalam pengurus, isu tambang dan isu-isu politik internasional.
Pengalaman Muktamar juga mengajarkan kepada kita dan membuktikan satu hal, bahwa seruncing apapun dinamika menjelang, di arena bahkan pasca Muktamar, turbulensi NU akan kembali normal dan terus berkhidmat untuk masyarakat, bangsa dan negara, siapapun Rais Aam dan Ketua Umumnya.
Apalagi Muktamar di Tambakberas Jombang, ada pendiri dan penggerak NU, Mbah Wahab. Begitupula Kota Jombang adalah kota sakral bagi NU, di mana tiga pendiri NU ikut hadir mengawal dan mengawasi dan memberkahi semua Muktamirin.
Selain Mbah Wahab yang sudah di sebut di atas, ada juga Hadratus-syek Rois Akbar KH Hasyim Asy'ari dan ada juga KH Bisri Syansuri.
Muhammad Aqil Irham, Sekjen PP GP Ansor 2011-2015, Wakil Sekjen PBNU 2015-2021, dan Wakil Sekjen PBNU 2021-2026










































