Ajak Anak Rajin Cuci Tangan, Lifebuoy Gelar Coaching Clinic Sepak Bola

Ajak Anak Rajin Cuci Tangan, Lifebuoy Gelar Coaching Clinic Sepak Bola

Advertorial - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 10:00 WIB
adv lifebouy
Foto: Dok. Lifebuoy
Jakarta - Lifebuoy menggelar serangkaian kegiatan dalam kampanye #JuaraCuciTangan untuk memperingati Hari Cuci Tangan Sedunia 2022. Salah satunya, Lifebuoy menggandeng pelatih Tim Nasional U-17 Bima Sakti dan atlet sepak bola nasional Kim Kurniawan memberikan coaching clinic sepak bola bagi siswa SD di Jabodetabek.

Coaching clinic yang diselenggarakan di Lapangan Rugby, Senayan pada awal November lalu itu diikuti 60 peserta. Di tengah coaching clinic, anak-anak turut diajarkan mengenai pentingnya membiasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) di lima momen penting. Hal ini bertujuan agar mereka dapat menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan kebiasaan baik ke lingkungan sekitar.

Saat ini kesadaran untuk mematuhi pedoman CTPS masih harus ditingkatkan. Data BPS 2021 menunjukkan di tengah pandemi, hanya 75,38% masyarakat yang menunjukkan kesadaran untuk mematuhi pedoman CTPS. Artinya, masih diperlukan edukasi berkelanjutan untuk menjadikan CTPS sebagai prioritas dalam kebiasaan sehari-hari.

"Sebagai sahabat keluarga yang memberikan perlindungan dari kuman dan menjaga agar anak tidak mudah jatuh sakit, Lifebuoy memahami pentingnya menanamkan kebiasaan baik dengan cara yang menyenangkan dan digemari anak. Tahun ini Lifebuoy kembali merayakan Hari Cuci Tangan Sedunia lewat kampanye #JuaraCuciTangan untuk terus memperkuat pesan CTPS di 5 Momen Penting melalui sepak bola, olah raga yang digemari 77% masyarakat Indonesia dari berbagai usia, termasuk anak-anak," kata Senior Brand Manager Lifebuoy, PT Unilever Indonesia, Tbk. Kevin Stefano dalam keterangan tertulis, Senin (28/11/2022).

Ia menyebut kegiatan coaching clinic adalah medium edukasi yang sangat tepat, terlebih dalam momen pesta bola 2022.

"Melalui kegemaran terhadap sepak bola, anak-anak dapat mempelajari nilai-nilai yang dapat membantu mereka lebih mudah memahami dan mempraktekkan pentingnya kebiasaan CTPS di 5 Momen Penting," lanjut Kevin.

Psikolog Klinis sekaligus Pengurus Pusat Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Anna Surti Ariani berpendapat, melalui sepak bola anak dapat belajar untuk disiplin dan konsisten berlatih agar bisa menjadi juara. Jika dihubungkan dengan kebiasaan CTPS, anak jadi terbiasa untuk lebih disiplin dan konsisten membersihkan diri sebagai ritual yang tidak terlepaskan dari bermain sepak bola.

"Selain itu, sepak bola juga mengajarkan anak tentang pentingnya teamwork untuk mencapai tujuan. Terkait kebiasaan CTPS, anak jadi memahami pentingnya kerja sama dalam saling mengingatkan teman atau anggota keluarga agar rutin mencuci tangan sehingga tujuan bersama dapat tercapai, yaitu untuk terhindar dari penyakit," papar Anna.

Anna menggarisbawahi beberapa hal yang bisa dicapai melalui coaching clinic ini. Pertama adalah peer to peer learning, yakni anak-anak bisa saling belajar atau mengajarkan satu sama lain dalam lingkungan dan situasi yang mereka sukai. Selanjutnya, berbekal pengalaman yang menyenangkan ini akhirnya anak-anak bisa menjadi agent of change untuk menyebarluaskan apa yang mereka pelajari ke orang-orang di sekitar mereka, termasuk tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.

Para peserta coaching clinic tersebut merupakan para pelajar SD di Jabodetabek yang telah mengirimkan video tentang cara kreatif menerapkan CTPS di 5 momen penting. Setelah melalui proses seleksi, mereka yang terpilih mendapatkan coaching clinic dari Coach Bima Sakti dan Kim Kurniawan.

Di kegiatan ini, anak-anak tidak hanya diajarkan teknik dan taktik bermain bola, namun juga keutamaan CTPS di 5 Momen Penting. Agar anak-anak peserta coaching clinic dapat menyebarluaskan pengetahuan yang mereka dapat dengan lebih mudah, Lifebuoy membagikan booklet berisi teknik-teknik dasar sepak bola disertai edukasi tentang CTPS di 5 momen penting.

"Upaya Lifebuoy untuk menyebarluaskan edukasi cuci tangan pakai sabun melalui olahraga sepak bola adalah hal yang unik dan patut untuk didukung. Saya percaya coaching clinic ini mampu menginspirasi anak-anak untuk tidak hanya menjadi atlet sepak bola berprestasi, namun juga lebih peduli dengan kebersihan dan kesehatan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun," ungkap coach Bima Sakti.

Kim Kurniawan menambahkan disiplin adalah modal utama yang harus dimiliki seorang atlet, termasuk dalam menjaga kesehatan. Selain itu, teamwork juga menjadi modal baginya dan tim untuk meraih kemenangan.

"Kami saling menjaga kekompakan dan memastikan bahwa setiap pemain bisa memberikan performa terbaik di lapangan dengan kondisi yang prima. Untuk itu, kami selalu bekerja sama untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, termasuk dengan rutin mencuci tangan. Pengalaman inilah yang salah satunya akan saya tekankan untuk menginspirasi anak-anak peserta coaching clinic hari ini," urai Kim.

Rangkaian kegiatan coaching clinic ini akan direplikasi ke 5 kota lainnya, antara lain Bandung, Solo, Semarang, Bali, dan Medan hingga 2023 mendatang. Selain itu, untuk menyebarluaskan pesan dari kampanye #JuaraCuciTangan, Lifebuoy telah menggelar rangkaian kegiatan secara online dan offline, seperti yel-yel CTPS yang disebarluaskan oleh 5 KOL anak yang mewakilkan figur #JuaraCuciTangan, antara lain Arjuna Zayan Sugiono, Ryshaka Dharma Situmeang, Abimanyu Praja Soesetyo, Dia Sekala Bumi, dan Kenji Zizou Bachdim.

"Semoga seluruh rangkaian kampanye ini akan mampu menggerakkan sebanyak mungkin anak Indonesia untuk menjadi #JuaraCuciTangan di 5 momen penting dan bertindak sebagai agen perubahan bagi lingkungan di sekitar mereka," ujar Kevin.

(adv/adv)