40 Pasien Bibir Sumbing Dapat Operasi Gratis dari Sido Muncul

Advertorial - detikNews
Senin, 08 Agu 2022 00:00 WIB
adv
Foto: dok. Atta Kharisma/detikcom
Jakarta - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (Sido Muncul) kembali menggelar bakti sosial (baksos) Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit Gratis di Tangerang. Bekerja sama dengan Smile Train Indonesia dan RS Selaras, Cisauk, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang kurang mampu.

Bantuan operasi bibir sumbing sebesar Rp 280 juta diserahkan secara simbolis oleh Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat kepada Country Manager and Program Director Indonesia Smile Train Indonesia Deasy Larasati dan disaksikan Direktur PT Bintarta Arnirah Saraswati selaku pemilik RS Selaras.

Adapun bantuan kali ini ditujukan untuk 40 pasien penderita bibir sumbing di wilayah Kabupaten Tangerang dan sekitarnya yang dilakukan secara bertahap setelah para pasien menjalani proses screening sehari sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Irwan mengungkapkan bantuan bibir sumbing ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh Sido Muncul. Sebelumnya, Sido Muncul telah melakukan operasi bibir sumbing gratis sebanyak tujuh kali sejak tahun 2018 yang diselenggarakan di beberapa wilayah di Indonesia.

"Kami pernah melakukan baksos ini di RS ST Carolus Borromeus, Kupang Nusa Tenggara Timur sebanyak dua kali, RSUD Dolok Sanggul Sumatera Utara, RS Sari Asih Serang Banten, RSUD Suradadi Tegal, dan RSI Wonosobo Jawa Tengah. Total pasien yang telah dioperasi adalah 142 pasien," ujar Irwan kepada awak media.

Ia berharap lewat kegiatan yang digelar kali ini, pasien yang berasal dari keluarga kurang mampu dapat kembali tersenyum dan percaya diri dalam bersosialisasi.

"Hari ini kami kembali memberikan bantuan untuk 40 pasien. Bantuan kami fokuskan bagi penderita yang berasal dari keluarga kurang mampu. Kami berharap operasinya berjalan dengan lancar agar pasien dapat kembali tersenyum dan dapat meningkatkan kepercayaan dirinya dalam bersosialisasi," imbuhnya.

Irwan menjelaskan bibir sumbing merupakan salah satu penyakit mendesak yang perlu mendapat penanganan sesegera mungkin.

"Kalau bibir sumbing akibat sampingannya nggak bisa makan, stunting, minder. Kalau ini diobatin kan dia bisa sembuh. Jadi kami senang dioperasi bisa sembuh," ucapnya.

Senada, Deasy menuturkan bibir sumbing dapat membuat anak mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya, mulai dari kesulitan saat makan hingga bullying.

"Mungkin sekitarnya akan mengejek karena dia tidak seperti anak-anak pada umumnya. Jika tidak ditangani segera mereka akan merasa malu dan tidak mau sekolah. Jika tidak mau sekolah nanti masa depan mereka akan terenggut dan masa-masa mereka sebagai anak yang bertumbuh kembang tentunya tidak bisa mereka rasakan dengan baik," terangnya.

"Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih banyak. Semoga kesempatan ini dapat mewujudkan banyak senyuman baru untuk Indonesia," lanjut Deasy.

Di sisi lain, Saraswati bersyukur mendapat kesempatan berbuat baik dan beribadah kepada Tuhan dengan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

"Saya senang sekali kembali bersinggungan dengan Pak Irwan yang selalu di mana-mana melakukan (bantuan) untuk masyarakat yang kurang mampu, dan kita bertemu kembali dalam rangka beribadah kepada Tuhan. Terima kasih Pak Irwan, semoga adik-adik di belakang kita nantinya menjadi anak-anak yang berguna bagi bangsa dan negara," pungkasnya.

Sebagai informasi, bibir sumbing merupakan cacat bawaan lahir yang terjadi pada bagian bibir dan langit-langit. Celah atau sumbing tersebut bisa terdapat di tengah, kanan, atau kiri bibir.

Selain di bibir atas, sumbing juga bisa terjadi pada langit-langit mulut. Kelainan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kekurangan gizi pada tiga bulan pertama kelahiran di mana organ mulai terbentuk, kekurangan unsur mineral (Zn) yang terkandung dalam air yang diminum oleh ibu calon bayi, faktor keturunan, perkawinan keluarga dekat dan lainnya.

Di Indonesia, penderita bibir sumbing umumnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Kelainan ini membuat penderita kesulitan dalam menjalani kehidupan, seperti sulit mengkonsumsi makanan, berbicara hingga kurang percaya diri dalam pergaulan di tengah masyarakat. (adv/adv)