Holding Ultra Mikro Beri Harapan UMKM Lampung untuk Terus Berkembang

Advertorial - detikNews
Rabu, 06 Okt 2021 00:00 WIB
adv bri
Foto: detikcom/Agung Pambudhy
Jakarta - Kabupaten Lampung Tengah dengan luas wilayah mencapai 4.790 km2 memiliki berbagai potensi bisnis yang dapat menunjang perekonomian daerah. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tak ketinggalan mewarnai geliat bisnis di Lampung Tengah melalui berbagai jenis usaha, mulai dari peternakan, pertanian, hingga industri olahan makanan.

Salah satu pelaku bisnis bidang peternakan di Lampung Tengah, Muslimin punya usaha yang unik. Selama 3 tahun terakhir, warga Terbanggi Subing, Kecamatan Gunung Sugih ini telah membuka usaha peternakan dengan spesialisasi penggemukan sapi.

Sapi-sapi milik Muslimin khusus dibuat gemuk dengan pemberian pakan khusus dan vitamin untuk membuat tubuhnya berisi dan sehat, sehingga harga jualnya pun semakin meningkat. Muslimin mengaku biasanya ia membeli sapi dewasa berusia sekitar 2 tahun untuk digemukkan. Nantinya, sapi akan diberi makanan yang diracik khusus, juga diberi suplementasi vitamin.

Ketika bobotnya sudah memenuhi standar, sapi akan dijual baik di sekitaran Lampung Tengah, bahkan melayani pengiriman ke luar daerah. Ia mengatakan proses penggemukan sapi ini biasanya dilakukan dalam kurun waktu 3-4 bulan. Dalam waktu tersebut, bobot sapi bisa bertambah sampai dengan 150 kilogram dan umumnya akan mulai dijual saat mencapai bobot 350-400 kilogram.

Muslimin mengungkap bisnis yang dijalankannya cukup menjanjikan. Ia menjelaskan sapi yang sudah digemukkan akan ditaksir harganya berdasarkan bobot keseluruhan. Untuk sapi betina, saat ini per kilogramnya dihargai Rp 44-45 ribu, sedangkan jantan dibanderol harga mencapai Rp 47 ribu.

Ia mencontohkan, sapi jantan berbobot 400 kilogram dengan harga Rp 47 ribu/kg jika dikali jumlah bobotnya akan dihargai setara Rp 18,8 juta. Dalam sebulan, ia mengatakan bisa menjual paling tidak 5 ekor sapi dengan kisaran harga Rp 17-18 juta, sehingga omzet yang ia dapatkan per bulannya bisa mencapai Rp 80-90 juta.

Untuk mengembangkan usahanya, Muslimin mengaku memanfaatkan fasilitas KUR dari BRI. Modal perbankan ini ia manfaatkan demi memenuhi kebutuhan pakan dan kebutuhan lainnya.

"KUR ini kan bunganya kecil ya. Jadi menurut saya sih nggak memberatkan," ujar Muslimin saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Ia mengaku, usaha yang dimulainya dengan bermodal 4 ekor sapi ini memiliki potensi untuk terus berkembang sebab perputaran uang yang ia dapatkan termasuk cepat. Bahkan, kini Muslimin telah memiliki lebih dari 40 ekor sapi yang terbagi di 2 kandang berbeda lokasi.

Berbeda dengan Muslimin yang baru memulai bisnis ternak beberapa waktu belakangan, warga Kampung Fajar Bulan, Kecamatan Gunung Sugih bernama Muhammad Munadi justru telah menggeluti usahanya sebagai petani singkong sejak kecil. Menurutnya, bertani singkong telah menjadi usaha turun temurun bagi masyarakat sekitar desa tersebut.

adv briFoto: detikcom/Agung Pambudhy

Munadi mengungkap kini ia memasok singkong untuk bahan baku tapioka ke pabrik-pabrik yang ada di Lampung Tengah. Adapun singkong yang ia pasok merupakan hasil produksi dari lahan seluas 2,5 hektare miliknya.

"Saya sudah sejak kecil bertani. Nggak pernah lah ke (profesi) yang lain. Kalau di sini (Dusun Sido Mulyo) memang rata-rata petani singkong dan peternak. Kita tanam jenis singkong thailand untuk ke pabrik tapioka," ungkap Munadi.

Menurut Munadi, dari setiap satu hektare lahan bisa dihasilkan 32 ton singkong. Kendati demikian, ia mengaku memilih tanam singkong secara bergilir di lahan seluas 2,5 hektare miliknya, sehingga bisa mendapatkan panen setiap 3 bulan sekali.

Meski penghasilan dari panen singkong terbilang tak menentu, Munadi mengatakan bisa meraup omzet hingga Rp 80-100 juta dalam setahun jika harga singkong stabil di kisaran Rp 1.300-1.400 per kilogram. Ia pun berkisah, omzet dari usaha ini bisa mencapai Rp 150 juta jika harga singkong sedang berada di puncaknya, yakni mencapai Rp 1.800 per kilogram.

Dari penghasilan utama ini, Munadi mengaku bisa mengembangkan usaha ke bidang lainnya, mulai dari membuka bengkel motor hingga menjadi agen BRILink di rumahnya. Ia mengatakan bisa menghasilkan Rp 5-6 juta per bulan dari gerai BRILink sebagai tambahan pemasukan harian untuk keluarganya.

Kepada detikcom, pria berusia 32 tahun yang juga merupakan Ketua Gapoktan Fajar Bulan ini mengatakan bahwa usaha agen BRILink miliknya bisa membantu sesama warga di daerah tersebut. Sebab, kehadiran agen BRILink membawa layanan perbankan lebih dekat ke masyarakat. Terlebih, kini agen BRILink juga dapat melayani pengajuan kredit ultra mikro.

"Saya senang lah bisa membantu warga lain. Begitu mereka butuh modal, bisa ajukan kredit lewat saya nanti saya teruskan ke mantri (BRI) untuk diproses. Mereka (warga) jadi bisa mengembangkan usahanya," terangnya.

Selain kisah Muslimin dan Munadi, ada juga cerita wanita paruh baya bernama Subur yang telah menggeluti usaha pengolahan tempe sejak berpuluh tahun lalu di Desa Terbanggi Subing, Kecamatan Gunung Sugih.

Subur bercerita, jatuh bangun di dunia usaha telah ia lewati. Mulai dari kehilangan warung tempatnya berjualan tempe karena ekonomi yang sulit, hingga berhasil bertahan mendukung pendidikan ketiga anaknya sampai tingkat perguruan tinggi.

Ia mengatakan usaha pengolahan tempenya kini terus merangkak naik, dari semula hanya memproses 20 kg kedelai sekali produksi, kini bisa memproses 100 kg kedelai menjadi tempe dalam sekali produksi.

adv briFoto: detikcom/Agung Pambudhy

Menurut Subur, usaha miliknya bisa terus berkembang berkat suntikan modal dari PNM yang telah ia ambil sejak 3 tahun terakhir. Kini seiring usahanya yang terus naik, Subur turut memanfaatkan layanan Pinjaman KUR dari BRI untuk melanjutkan usaha mikro miliknya.

"Sebelumnya aku nggak tahu apa-apa soal KUR, lalu tahu dari program pasar di Desa Terbanggi Subing. Aku itu nggak pernah gini-gini (mengambil pinjaman) karena udah trauma dari dulu karena takut ke bank. Tapi sekarang ini ya ambil. Akhirnya coba dan ternyata ringan, sangat membantu," kata Subur.

Subur mengaku awalnya takut dengan layanan pinjam modal dari bank. Sebab, ia khawatir tidak bisa membayar angsuran pinjaman tersebut.

"Ternyata lancar-lancar aja, ketakutan itu nggak seperti yang saya pikirkan. KUR itu nggak mahal, bisa kejangkau," sambungnya.

Ketiga UMKM di atas merupakan sebagian kecil dari sektor UMKM yang menyokong perekonomian di Lampung Tengah. Ketiganya mendapatkan bantuan permodalan dari BRI untuk mengembangkan usaha.

Kini, dengan adanya Holding Ultra Mikro (UMi) yang merupakan sinergi 3 entitas BUMN, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero), UMKM di Lampung Tengah memiliki harapan baru untuk terus mengembangkan usaha hingga naik kelas.

Hadirnya layanan Holding UMi di Lampung Tengah juga ditandai dengan adanya Co-Location Senyum (Sentra Layanan Ultra Mikro) yang memberikan layanan keuangan inklusif kepada masyarakat. Adapun Co-Location Senyum ini bertempat di Unit Eksisting BRI Gotong Royong yang berada di Kecamatan Gunung Sugih diharapkan bisa lebih mendekatkan layanan perbankan ke masyarakat sekitar.

adv briFoto: detikcom/Agung Pambudhy

"Harapannya yang belum (kenal) ini bisa mengenal bank lebih dekat, karena tidak dipungkiri mayoritas warga yang belum mengenal perbankan takut ke bank. Karena menurut mereka bank ini satu lembaga yang besar, jadi kalau mau berhubungan dengan perbankan asumsinya takut ribet dan takut dengan hukum. Di sinilah fungsi kami untuk mengedukasi nasabah agar mereka mau masuk ke BRI atau nantinya bisa cross selling ke kawan-kawan lain yang ada di Co-Location, baik itu PNM atau Pegadaian," jelas Kepala Unit BRI Gotong Royong, Redi Anto.

Ia berharap penggabungan 3 entitas dalam Holding UMi ini bisa mengembangkan potensi perekonomian yang ada di sekitar wilayah kabupaten Lampung Tengah, khususnya Kecamatan Gunung Sugih.

Lebih lanjut, Redi menjelaskan adanya Co-Location Senyum akan mempermudah masyarakat untuk mengakses layanan dari ketiga entitas, sebab layanan yang dihadirkan kini lebih dekat dengan masyarakat. Misalnya, Kantor Pegadaian Cabang Bandarjaya berada di radius 20 km dari kantor unit saat ini sementara Kantor PNM Cabang Bandarjaya juga berada sekitar 6 km dari unit Senyum saat ini.

Tak hanya mendapat pinjaman modal dari BRI saja, kini pelaku UMKM di wilayah Lampung Tengah juga bisa mengakses layanan keuangan yang inklusif. Baik itu permodalan untuk ibu-ibu pra sejahtera dari PNM, berbagai layanan tabungan dan pinjaman dari BRI, maupun akses gadai barang/emas dan Tabungan Emas dari Pegadaian.

"Dengan adanya mereka hadir dan bergabung di sini, otomatis bisa lebih dekat. Ada efisiensi waktu sekiranya nasabah ingin membutuhkan pelayanan baik itu dari BRI, PNM, atau Pegadaian," ucap Redi.

Sementara itu, Pimpinan BRI Cabang Bandarjaya, Nicky Muhammad Zahab menyampaikan Holding UMi bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan dan menyediakan pembiayaan yang lebih lengkap dan murah bagi para UMKM.

"Sinergi ekosistem usaha ultra mikro yang melibatkan BRI, Pegadaian, dan PNM melalui Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) akan memperkuat posisi masing-masing entitas dalam pemberdayaan usaha masyarakat kecil dengan layanan produk keuangan masing-masing," jelasnya.

Ia menilai layanan permodalan yang ditawarkan akan memberikan lebih banyak kemudahan serta memberikan biaya pinjaman dana yang lebih murah. Tak hanya itu, adanya Co-Location Senyum ini juga dinilai bisa menjangkau nasabah lebih luas lagi, sehingga bisa memberikan pendalaman layanan permodalan serta pemberdayaan yang berkelanjutan bagi ekosistem UMKM di Lampung Tengah. (adv/adv)