Holding Ultra Mikro Dekatkan Bantuan Permodalan bagi UMKM Lampung

Advertorial - detikNews
Selasa, 05 Okt 2021 00:00 WIB
adv bri
Foto: detikcom/Agung Pambudhy
Jakarta - Sinergi 3 entitas BUMN dalam Holding Ultra Mikro (UMi) memberi harapan baru bagi sektor usaha ultra mikro, salah satunya di Lampung Tengah. Dengan adanya Co-Location Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum) di wilayah Gunung Sugih, masyarakat Lampung Tengah bisa lebih dekat dan mudah mengakses layanan permodalan.

Melalui sinergi yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero), masyarakat didekatkan pada ragam pilihan pembiayaan usaha yang lebih beragam.

Pimpinan BRI Cabang Bandarjaya, Nicky Muhammad Zahab mengungkap, salah satu tujuan utama dari adanya Holding UMi ini adalah meningkatkan pemberdayaan dan menyediakan pembiayaan yang lebih lengkap dan murah.

"Sinergi ekosistem usaha ultra mikro yang melibatkan BRI, Pegadaian, dan PNM melalui Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) akan memperkuat posisi masing-masing entitas dalam pemberdayaan usaha masyarakat kecil dengan layanan produk keuangan masing-masing," ungkap Nicky kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Menurutnya, layanan permodalan yang ditawarkan akan memberikan lebih banyak kemudahan serta memberikan biaya pinjaman dana yang lebih murah. Tak hanya itu, adanya Co-Location Senyum dari BRI juga dinilai bisa menjangkau nasabah lebih luas lagi, sehingga bisa memberikan pendalaman layanan permodalan serta pemberdayaan yang berkelanjutan.

Senada dengan Nicky, Kepala Unit BRI Gotong Royong, Redi Anto mengatakan kolaborasi dan sinergi ini diharapkan dapat memberi dampak positif, salah satunya melalui silang referral dari pekerjaan masing-masing entitas. Misalnya, layanan pinjaman modal dari BRI yang di-referral-kan dari Pegadaian, atau sebaliknya.

adv briFoto: detikcom/Agung Pambudhy

"Sebelum adanya Co-Location, 3 entitas ini sebenarnya sudah jalan masing-masing. Account Officer (AO) PNM juga sudah menebarkan pekerjaan di sekitaran kami dan memang saling mendukung karena target PNM sendiri adalah ibu-ibu yang memiliki atau baru akan memulai menjalankan usaha, kalau BRI untuk usaha yang sudah dijalankan namun kekurangan modal," kata Redi.

Ia pun menjelaskan, adanya Co-Location Senyum ini akan mempermudah masyarakat untuk mendapat modal dari ketiga entitas, sebab layanan yang dihadirkan kini lebih dekat dengan masyarakat. Misalnya, Kantor Pegadaian Cabang Bandarjaya berada di radius 20 km dari kantor unit saat ini sementara Kantor PNM Cabang Bandarjaya juga berada sekitar 6 km dari unit Senyum saat ini.

"Dengan adanya mereka hadir dan bergabung di sini, otomatis bisa lebih dekat. Ada efisiensi waktu sekiranya nasabah ingin membutuhkan pelayanan baik itu dari BRI, PNM, atau Pegadaian," imbuhnya.

Kepala Cabang PNM Gunung Sugih, Desi Vitha Bella pun menjelaskan kini pihaknya tak hanya menawarkan akses permodalan dari PNM untuk ibu-ibu desa saja. Akan tetapi juga bisa mengenalkan layanan permodalan lain, misalnya pinjaman KUR BRI yang bisa diambil oleh suami dari nasabah PNM dengan syarat telah memiliki usaha. Atau bisa juga mengenalkan produk pinjaman dari Pegadaian dalam bentuk gadai barang/emas.

"Holding itu sendiri bagi nasabah buka akses pembiayaan lebih lebar, memudahkan nasabah untuk pinjam atau akses pembiayaan yang lebih baru, misalnya Gadai Emas, Tabung Emas, atau nabung di BRI juga pinjaman KUR lainnya," jelas Desi.

"Yang pasti bisa mengubah nasabah dari segmen ultra mikro jadi mikro. Pembiayaan tahap lanjutnya juga bunganya bisa lebih murah lagi kalau pinjam-meminjam," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Pegadaian Bandarjaya, Firdaus Ardi mengatakan pihaknya mulai mengkondisikan pengelola Pegadaian di Unit Gotong Royong untuk melakukan door to door di sekitar lokasi Co-Location Senyum.

"Intinya, menyampaikan kepada masyarakat setempat sana bahwa di BRI Unit Gotong Royong sekarang ada layanan Pegadaian. Memberitahukan kepada masyarakat umum dulu, karena masih banyak masyarakat yang belum tahu," ungkap Ardi.

Ardi mengatakan sosialisasi yang dilakukan pihaknya tak terbatas pada layanan Pegadaian saja, sebab pihaknya juga turut mengenalkan layanan permodalan kepada masyarakat luas.

"Kita juga menawarkan pinjaman untuk ke BRI atau PNM, tergantung misalnya nasabah itu dia pasnya di mana. Kalau ibu-ibu per kelompok mungkin kita arahkan ke PNM, kalau untuk usaha mikro langsung kita arahkan ke BRI, khususnya mikro yang pinjaman besar. Menguntungkan lah sinergi ini," tuturnya.

adv briFoto: detikcom/Agung Pambudhy

Khusus untuk produk Pegadaian, Ardi menjelaskan pihaknya turut membantu permodalan lewat beberapa produk yang bisa dimanfaatkan para pelaku usaha. Misalnya, gadai barang, gadai emas, tabungan emas, dan investasi cicil emas.

"Kami menyambut positif. Harapan kami sih ke depannya tidak di outlet Senyum saja sinerginya, mungkin di BRI dan Pegadaian lain, semua bisa bersinergi," tandasnya.

Kehadiran Holding UMi yang mendekatkan serta memudahkan masyarakat akan layanan permodalan pun disambut baik oleh nasabah di Lampung Tengah. Subur misalnya, pengusaha tempe di Terbanggi Subing ini memulai pinjaman di PNM sejak 3 tahun terakhir hingga berhasil mengembangkan produksi usahanya dari semula 20 kg menjadi 100 kg sekali produksi.

Seiring usahanya yang terus berkembang, Subur kini turut memanfaatkan layanan Pinjaman KUR dari BRI untuk melanjutkan usaha mikro miliknya.

"Sebelumnya aku nggak tahu apa-apa soal KUR, lalu tahu dari program pasar di Desa Terbanggi Subing. Aku itu nggak pernah gini-gini (mengambil pinjaman) karena udah trauma dari dulu karena takut ke bank. Tapi sekarang ini ya ambil. Akhirnya coba dan ternyata ringan, sangat membantu," ungkap Subur.

adv briFoto: detikcom/Agung Pambudhy

"Alhamdulillah membantu, ibaratnya kita yang nggak ada modal mau usaha terus ada pinjaman, pasti ngebantu. Apalagi uangnya kan muter terus. Jadi sangat membantu. Apalagi kalau jual ini (tempe) bisa lebih dari modal, jadi masih bisa dapat sisa buat disimpan," tambahnya.

Tak hanya Subur, manfaat dari kemudahan modal Holding Ultra Mikro ini juga dirasakan oleh pengusaha emping melinjo bernama Suwarti. Ia mengaku modal yang dibutuhkan untuk usaha ini cukup banyak sehingga tak jarang Suwarti menemui keterbatasan untuk memenuhi kebutuhannya. Terlebih, harga melinjo sebagai bahan baku produk miliknya juga terbilang fluktuatif.

Untuk itu, Suwarti mengandalkan bantuan pinjaman KUR dari BRI untuk bisa meneruskan usaha yang sudah dimilikinya sejak tahun 1997. Berkat bantuan modal ini, Suwarti mengaku bisa mempertahankan usahanya meski permintaan sempat menurun karena dihantam pandemi.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/. (adv/adv)