Disebut Generasi Banyak Biaya, Bisa Nggak Sih Milenial Beli Rumah?

Advertorial - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 08:00 WIB
adv allianz
Ilustrasi milenial punya rumah (Foto: Allianz Indonesia)
Jakarta - Mempunyai rumah pribadi pasti menjadi dambaan banyak orang, termasuk kalangan milenial. Namun demikian, banyak yang melihat bahwa generasi milenial bisa menjadi kelompok yang sulit membeli rumah dan salah satunya karena banyak mengalokasikan biaya atau uang untuk kebutuhan lain.

Hal ini berbanding terbalik dengan fakta generasi milenial yang mulai mendominasi pasar properti di tahun ini. Terbukti dari catatan Bank Indonesia (2019) bahwa debitur usia muda 26-35 tahun lebih mendominasi pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Di tengah gejolak perekonomian Indonesia yang dilanda pandemi COVID-19, investasi properti menjadi pilihan unggul karena nilai aset yang tetap meningkat dan risiko yang bisa dikatakan cukup rendah. Memiliki hunian di tengah pandemi pun menjadi salah satu prioritas, ditambah lagi sebagai opsi menarik untuk investasi jangka panjang.

Pandemi justru dapat dijadikan kesempatan untuk membeli rumah karena terdapat banyak kemudahan dan promosi yang ditawarkan. Terlihat dari upaya pemerintah untuk mendorong sektor properti dengan memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk properti berjenis rumah tapak dan rumah susun dengan batasan harga jual maksimal Rp 5 miliar.

Selain itu, sebelumnya Bank Indonesia juga telah menerbitkan kebijakan yang memungkinkan perbankan memberikan KPR dengan down payment (DP) atau uang muka 0 persen.

"Selain sebagai kebutuhan primer, rumah juga berperan sebagai aset. Selain itu, cicilan setiap bulannya memaksa kita untuk lebih berhemat, dan KPR merupakan utang produktif dengan potensi nilai aset yang bisa naik setiap tahunnya," Head of Personal Lines & Product Development Allianz Utama Indonesia, Alwin Jasim.

"Yang terpenting adalah tekad yang kuat, serta memiliki perencanaan untuk perlindungan properti dan penghuni yang sesuai," imbuhnya.

Beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan untuk keputusan membeli rumah, di antaranya keinginan untuk memiliki aset yang pasti selain gaji serta kemauan untuk berinvestasi. Selanjutnya, untuk mulai membeli hunian, calon pembeli perlu fokus mengumpulkan DP.

Misalnya dengan memasukkan tabungan DP rumah ke instrumen investasi seperti reksadana atau saham, serta mencari penghasilan tambahan atau menyesuaikan gaya hidup. Jika tujuan membeli hunian adalah untuk berbisnis atau investasi, generasi milenial pun dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan.

"Bisnis properti bisa dilakukan sejak usia muda. Yang penting sudah memenuhi syarat untuk proses administrasi dan sejumlah pengetahuan tentang investasi atau berbisnis di sektor properti. Kalau sudah di atas 21 tahun berarti sudah bisa mengajukan kredit. Untuk mengajukan kredit yang dibutuhkan adalah cash flow dari bisnis yang dijalankan," jelas investor properti, Anthony Sudarsono.

Menurut Anthony, bisnis properti dapat dikatakan mudah asalkan strategi pemilihan tempat, mitra seperti bank, hingga kontraktor sudah dikuasai.

"Jika memang belum memiliki modal uang, maka sebaiknya mempelajari proyeksi, perhitungan dan ilmu terkait penjualan dan bisnis properti. Dengan demikian, kita dapat melakukan pengajuan ke orang yang memiliki modal. Jika hal ini sudah dilakukan, maka pengalaman dan latar belakang yang baik sudah dimiliki, dan akan lebih mudah mengajukan pembiayaan ke bank untuk mengembangkan bisnis ke depan," jelas Anthony.

Saat properti sudah ditemukan, maka pembeli sebaiknya menyiapkan perlindungan yang cocok dari berbagai risiko yang tidak diinginkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pada tahun 2020, terdapat lebih dari 2.000 bencana alam yang didominasi oleh banjir dengan total jumlah kerusakan rumah melebihi 42.000.

Selain itu, semakin bertambahnya perumahan di lingkungan perkotaan yang berupa hunian padat penduduk turut menghadirkan potensi musibah seperti kebakaran dan pencurian yang menyebabkan risiko kehilangan atau kerusakan semakin mungkin terjadi.

"Ketika hunian sudah dimiliki, penting diingat bahwa beberapa risiko perlu diantisipasi, sehingga rumah sebagai aset dan tempat tinggal tetap terjaga. Asuransi yang tepat dapat memberi perlindungan komprehensif," ujar Alwin.

"Dengan produk Allianz yaitu RumahKu Plus, nasabah dapat hidup nyaman dan terlindungi dengan jaminan untuk akomodasi sementara, kebakaran, banjir, gempa bumi, kerusakan harta benda, ganti rugi atas kematian tertanggung, serta terorisme dan sabotase," tambah Alwin.

Berbicara mengenai rumah, di sini berarti masyarakat juga berbicara mengenai isi dari rumah tersebut. Dengan memiliki asuransi RumahKu Plus, isi dari rumah seperti perabot rumah tangga atau furniture dan barang-barang elektronik dapat terlindungi dari bermacam risiko yang disebutkan di atas, jadi tidak hanya bangunan saja yang dapat dijamin.

Membeli hunian baru, khususnya bagi kalangan milenial, membutuhkan perencanaan yang komprehensif, tujuan yang jelas, serta kesiapan yang matang. Setelah terwujud, hunian sepatutnya mendapat perlindungan yang sesuai, untuk menghindari kecemasan dan menjamin kehidupan yang nyaman bagi penghuni.

(adv/adv)