Dear Generasi Sandwich, Ini Pentingnya Punya Dana Pensiun di Hari Tua

Advertorial - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 00:00 WIB
adv allianz 6
Dok. Allianz
Jakarta - Generasi sandwich menjadi istilah yang kini banyak diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Sering dikaitkan dengan kultur Asia, istilah ini merefleksikan sebagian orang yang terhimpit dengan tanggung jawab terhadap generasi di atas dan di bawah mereka, baik secara ekonomi, waktu, tenaga, dan perhatian..

Adapun dalam hal ini generasi atas adalah orang tua dan generasi di bawah, yakni saudara kandung, anak, maupun pasangan dan diri mereka sendiri.

"Generasi sandwich terjadi karena ada orang tua yang tidak siap secara keuangan untuk membiayai pengeluaran bulanan di saat pensiun, sehingga membutuhkan bantuan anak untuk membiayai pengeluaran," ungkap Perencana Keuangan Profesional dan Founder Finansialku.com, Melvin Mumpuni.

Saat ini, menjadi generasi sandwich sudah dianggap hal lazim di masyarakat. Padahal, kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup karena merupakan mata rantai yang sulit terputus. Pasalnya, generasi ini seringkali tercipta karena generasi sebelumnya yang juga menjadi generasi sandwich, mengingat mereka pun bertanggung jawab atas orang tua dan anak.

Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengungkapkan generasi sandwich lebih rentan mengalami stres karena bertanggung jawab yang cukup besar.

"Peran multi yang dijalani oleh generasi sandwich membuat mereka rentan stres karena banyaknya tekanan, antara lain masalah keuangan, kesehatan, pendidikan, dan tuntutan rumah tangga lainnya. Selain itu juga karena terbatasnya waktu dan banyaknya tugas yang harus mereka penuhi. Generasi ini kemudian cenderung mengabaikan masalah self-care bagi diri mereka sendiri," jelas Vera.

Kentalnya kultur kekeluargaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia juga menjadi salah satu faktor terbentuknya generasi sandwich. Adapun dalam hal ini, anak dituntut untuk merawat dan membiayai orangtua saat memasuki hari tua sebagai bentuk tanda bakti. Bahkan, survei Ekonomi Nasional 2017 mencatat sebanyak 62,64% kaum lanjut usia di Indonesia tinggal bersama anak dan cucunya.

Melvi pun menambahkan perencanaan finansial yang kurang matang dapat berujung pada terbentuknya generasi sandwich. Hal ini juga dapat terjadi karena masih sedikit masyarakat Indonesia yang sadar soalpentingnya perencanaan keuangan untuk masa kini dan masa untuk menjamin kehidupan di hari tua.

"Satu-satunya cara memutus rantai generasi sandwich adalah dengan mulai merencanakan dana pensiun dan mulai berinvestasi. Penting untuk menanamkan kesadaran dan kedisiplinan menabung sebagai persiapan masa pensiun sejak dini. Anda juga harus memikirkan kapan Anda akan pensiun, berapa pengeluaran bulanan saat pensiun serta berapa perkiraan hasil keuntungan di saat Anda pensiun," tambah Melvin.

Dosen dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia,Prof Dr Budi Frensidy pun mengatakanperencanaan finansial yang matang akan membawa kepada kebebasan finansial.

"Ada hal yang perlu dipikirkan dan dibedakan seiring dengan kebebasan finansial, yakni istilah kaya dan makmur. Orang kaya belum tentu makmur kalau hidupnya besar pasak daripada tiang, mencapai kebebasan finansial itulah kemakmuran. Di sinilah pentingnya orang memiliki financial literacy atau melek finansial," ungkapnya.

Kecerdasan finansial menjadi memang jadi langkah utama untuk memutus rantai generasi sandwich. Terkait hal ini, dana pensiun dapat menjadi salah satu opsi terbaik untuk tidak bergantung kepada generasi berikutnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan setidaknya terdapat tiga manfaat dana pensiun. Pertama, menghindari jebakan generasi sandwich. Hal ini mengingat mempersiapkan dana kebutuhan sejak dini tidak akan merepotkan anak maupun anggota keluarga laindi masa tua.

Kedua, dana pensiun dapat menjadi bekal untuk menjalani masa pensiun. Pasalnya, di usia tua pengeluaran akan lebih banyak dibandingkan dengan penghasilan. Terakhir, dana pensiun dapat digunakan sebagai modal usaha karena setelah tidak bekerja dan memasuki masa pensiun, banyak orang mencoba mendapatkan penghasilan dari berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Saat ini, terdapat dua jenis dana pensiun, yakni Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Masyarakat umum, baik karyawan maupun pekerja mandiri, dapat mendaftarkan diri ke DPLK dan membayar iuran setiap bulannya untuk kemudian mencairkan uang pensiun sesuai iuran beserta pengembangannya.

Dilansir dari data yang dirilis oleh OJK, dari 75 juta tenaga kerja di Indonesia, hanya 5,93% atau 4,4 juta orang yang terdaftar sebagai peserta Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Padahal, Head of Group Pension & Credit Life Operation Allianz Life Indonesia, Yoppy Indradi Setiabudi mengatakanada banyak cara untuk mempersiapkan dana pensiun salah satunya dengan ikut program DPLK.

"Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan dana hari tua. Beberapa di antaranya yang paling umum adalah menabung di bank, disalurkan untuk investasi maupun program DPLK. Dibandingkan dengan menabung di bank dan berinvestasi, DPLK merupakan 'kendaraan' yang paling pas digunakan pekerja atau pengusaha untuk mempersiapkan ketersediaan dana di masa pensiun. Di samping bisa menjadi solusi keuangan bagi pensiunan atau ahli warisnya. Ketersediaan dana yang memadai saat pensiun secara berkesinambungan selama masa pensiun, tentu bermanfaat untuk membiayai hidup di hari tua saat sudah tidak memiliki penghasilan dan mampu mempertahankan gaya hidup seperti saat masih bekerja. Tidak hanya itu, Iuran DPLK yang disetor menjadi pengurang pajak penghasilan (PPh21) dan hasil investasi di DPLK pun bebas pajak serta dikelola secara professional dan transparan," ungkapnya.

Meskipun demikian, kebutuhan dana pensiun setiap orang tentunya berbeda. Oleh karena itu, Yoppy menyebut sangat penting untuk menghitung dan memperkirakan kebutuhan saat pensiun nanti.

"Untuk menghitung dana pensiun, mulailah dengan menghitung pengeluaran rutin Anda setiap bulan dan kemudian tetapkan jangka waktu. Usia pensiun rata-rata yang berlaku di Indonesia ialah 55 tahun dengan angka harapan hidup orang Indonesia yang mencapai 70-75 tahun. Artinya, Anda perlu memenuhi kebutuhan hidup selama masa pensiun 15-20 tahun sebelum tutup usia," katanya

Untuk menghitungnya, terdapat skema sederhana yang dapat digunakan, yakni dengan mengalikan pengeluaran tahunan dengan angka 25. Apabila pengeluaran tahunan Anda adalah Rp100 jutamaka dana pensiun yang dibutuhkan adalah Rp100 juta dikali 25, yakni Rp2,5 miliar. Angka ini merupakan dana pensiun yang dibutuhkan selama 25 tahun setelah pensiun dimulai. Selain menggunakan perhitungan di atas, Anda juga bisa melihat ilustrasi manfaat pensiun DPLK Allianz Indonesia dengan mengunjungi laman ini. (adv/adv)